3 Juli 2026 – Hubungan diplomatik Indonesia dan Belarus memasuki babak baru setelah Presiden Belarus, Aleksandr Lukashenko, melakukan kunjungan kenegaraan ke Jakarta dan disambut langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Lawatan yang menjadi kunjungan kedua Lukashenko ke Indonesia setelah 13 tahun itu tidak hanya menghasilkan berbagai kesepakatan penting, tetapi juga mencatat sejarah baru. Untuk pertama kalinya, seorang kepala negara sahabat menginap di Istana Negara, Jakarta, sebagai tamu resmi pemerintah Indonesia. Momentum tersebut dinilai menjadi simbol semakin eratnya hubungan kedua negara sekaligus menandai komitmen memperluas kerja sama di berbagai sektor strategis.
Upacara penyambutan berlangsung khidmat di Istana Merdeka dengan iringan pasukan kehormatan, pengawal berkuda, serta sambutan meriah dari para pelajar yang mengibarkan bendera Indonesia dan Belarus. Lukashenko juga disambut melalui pertunjukan Tari Enggang dari Kalimantan Timur sebagai simbol penghormatan kepada tamu negara. Setibanya di halaman istana, Prabowo menyambut langsung tamunya dengan jabat tangan hangat yang kemudian dilanjutkan dengan inspeksi pasukan kehormatan, penandatanganan buku tamu kenegaraan, hingga pertemuan tertutup antara kedua pemimpin sebelum dilanjutkan dengan pembahasan bilateral bersama delegasi masing-masing negara.
Salah satu momen yang mencuri perhatian terjadi setelah penandatanganan buku tamu. Lukashenko secara spontan memberikan pena yang digunakannya kepada Prabowo sebagai kenang kenangan. Prabowo tampak terkejut sekaligus tersenyum menerima hadiah tersebut sebelum menyimpannya di saku jas. Suasana hangat itu menjadi gambaran kedekatan personal yang terbangun di antara kedua pemimpin negara selama rangkaian kunjungan berlangsung.
Dalam pertemuan bilateral, Indonesia dan Belarus resmi meluncurkan Road Map for Bilateral Cooperation 2026 sampai 2030 sebagai panduan kerja sama lima tahun ke depan. Dokumen tersebut menjadi kerangka strategis untuk memperkuat hubungan kedua negara melalui program yang lebih terarah, terukur, dan konkret. Pemerintah Indonesia menilai roadmap ini akan menjadi fondasi penting bagi peningkatan kolaborasi di berbagai sektor prioritas yang saling menguntungkan.
Kerja sama yang disepakati mencakup bidang ketahanan pangan melalui penguatan sektor pupuk dan alat pertanian, peningkatan investasi industri, modernisasi pertanian, pengembangan rantai pasok, hingga kolaborasi teknologi. Di sektor perdagangan, kedua negara juga sepakat memperluas kemitraan ekonomi yang dapat mendukung pembangunan nasional masing masing. Indonesia turut mengapresiasi selesainya proses ratifikasi Belarus terhadap Uni Ekonomi Eurasia yang diharapkan mampu membuka peluang perdagangan lebih luas bagi kedua negara.
Selain itu, sektor industri manufaktur, otomotif, kendaraan berat, dan agroindustri menjadi fokus pengembangan investasi bersama. Tidak hanya bidang ekonomi, Indonesia dan Belarus juga memperkuat hubungan melalui kerja sama pendidikan, pelatihan vokasi, pertukaran budaya, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Langkah tersebut diharapkan mampu mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus membuka peluang kolaborasi jangka panjang.
Pertemuan kedua kepala negara juga menghasilkan penandatanganan tujuh nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama. Kesepakatan tersebut meliputi kerja sama bidang industri, kebudayaan, kesehatan, akreditasi nasional, riset dan inovasi, kerja sama antara Otoritas Jasa Keuangan dengan Bank Nasional Belarus, hingga pertukaran informasi intelijen terkait tindak pidana pencucian uang, pendanaan terorisme, dan proliferasi senjata pemusnah massal. Keseluruhan dokumen tersebut menjadi landasan baru bagi penguatan hubungan bilateral di berbagai sektor strategis.
Dalam pernyataannya, Lukashenko menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi penting sebagai mitra Belarus di kawasan Asia Tenggara. Ia mengaku sangat menghargai perkembangan hubungan kedua negara yang terus menunjukkan kemajuan dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, berbagai hasil pertemuan yang dicapai kali ini menunjukkan komitmen bersama untuk membangun kemitraan yang lebih erat dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang.
Presiden Belarus juga menyambut baik rencana Indonesia membuka Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belarus serta peluang pembukaan rute penerbangan langsung antara kedua negara. Menurutnya, langkah tersebut akan mempermudah mobilitas masyarakat, meningkatkan sektor pariwisata, sekaligus memperluas kerja sama ekonomi dan investasi di masa mendatang. Belarus pun optimistis hubungan bilateral akan semakin berkembang dengan dukungan konektivitas yang lebih baik.
Bagi Prabowo, kunjungan Lukashenko memiliki makna tersendiri karena merupakan kunjungan balasan setelah dirinya berkunjung ke Minsk pada pertengahan 2025. Ia mengungkapkan rasa terima kasih atas sambutan hangat yang diterimanya saat berada di Belarus dan menegaskan komitmennya untuk kembali melakukan kunjungan balasan sebagai bentuk penghormatan terhadap hubungan persahabatan kedua negara.
Kunjungan kali ini juga mencatat sejarah baru dalam protokol kenegaraan Indonesia. Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkapkan bahwa Lukashenko menjadi kepala negara sahabat pertama yang menginap di Istana Negara selama kunjungan resmi ke Indonesia. Sebelumnya, tamu negara umumnya menginap di Wisma Negara atau hotel. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk penghormatan khusus kepada Presiden Belarus yang berkenan bermalam di lingkungan Istana Kepresidenan.
Dengan berbagai kesepakatan yang telah dicapai, kunjungan Presiden Lukashenko diharapkan menjadi titik awal penguatan hubungan Indonesia dan Belarus dalam lima tahun ke depan. Tidak hanya memperluas kerja sama ekonomi dan investasi, kedua negara juga berkomitmen membangun kemitraan yang lebih erat di bidang pendidikan, budaya, teknologi, hingga keamanan, sekaligus memperkokoh posisi masing masing di tengah dinamika kerja sama internasional yang terus berkembang. (Redaksi)

