Jakarta, 22 Agustus 2025 – Konsep keselamatan terintegrasi yang menggabungkan teknologi mutakhir dengan sistem manajemen keselamatan konvensional menjadi paradigma baru yang diterapkan KAI dalam menghadapi tantangan keselamatan transportasi masa depan. Integrasi ini menciptakan sinergi yang luar biasa antara kecerdasan buatan, analitik big data, dan pengalaman praktis para ahli keselamatan transportasi.

Sistem keselamatan terintegrasi yang dikembangkan mampu menganalisis jutaan data point secara simultan untuk memberikan insight yang akurat tentang kondisi keselamatan di setiap perlintasan sebidang. Teknologi machine learning yang diterapkan memungkinkan sistem untuk terus belajar dan meningkatkan akurasi prediksi risiko kecelakaan.

Raden Agus Dwinanto Budiadji, Direktur Sekretaris Korporat KAI, menjelaskan integrasi teknologi dalam framework regulasi. “Implementasi keselamatan terintegrasi dengan teknologi mutakhir tetap harus mengikuti koridor hukum yang ditetapkan dalam UU No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, termasuk dalam hal penutupan perlintasan yang tidak memenuhi standar,” ungkapnya.

Hasil implementasi sistem terintegrasi menunjukkan peningkatan dramatis dalam efektivitas program keselamatan. Seiring dengan pencapaian penutupan 123 perlintasan pada 2023, 309 perlintasan pada 2024, dan 187 perlintasan hingga Juni 2025, sistem terintegrasi telah berhasil mengurangi waktu respons darurat hingga 70 persen dan meningkatkan akurasi prediksi risiko hingga 95 persen. KAI mengajak semua pihak untuk berpartisipasi dalam implementasi keselamatan terintegrasi melalui kontribusi data, feedback operasional, dan kolaborasi dalam pengembangan teknologi keselamatan masa depan.

(Redaksi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *