Jakarta, 07 Agustus 2025 – PT Kereta Api Indonesia (Persero) kembali membuktikan komitmennya dalam menerapkan inovasi teknologi yang efisien. Melalui penerapan sistem boarding berbasis Face Recognition, KAI berhasil menghemat anggaran hingga Rp239 juta hanya dalam kurun waktu enam bulan. Langkah ini sejalan dengan upaya perusahaan untuk mendukung program digitalisasi layanan transportasi publik.

Penerapan teknologi ini membuat proses boarding menjadi lebih cepat dan praktis. Penumpang kini tidak lagi perlu mencetak tiket fisik, cukup mendekatkan wajah ke kamera di gate boarding, dan sistem akan memverifikasi data secara otomatis. Hal ini juga meminimalkan antrean, sehingga waktu tunggu penumpang berkurang signifikan.

Corporate Secretary KAI, Anne Purba, menyatakan bahwa keberhasilan penghematan ini tidak hanya berdampak pada keuangan perusahaan, tetapi juga berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan. “Dengan mengurangi penggunaan kertas tiket, kami dapat menekan limbah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Anne.

Menurut data KAI, sistem Face Recognition mampu menggantikan penggunaan sekitar 16.295 rol kertas tiket selama semester pertama 2025. Jumlah ini setara dengan ribuan kilogram kertas yang biasanya dihasilkan dari pencetakan tiket di berbagai stasiun.

Penggunaan teknologi ini juga meningkatkan akurasi pemeriksaan tiket. Sistem dapat secara langsung mendeteksi data penumpang, mulai dari identitas, jadwal keberangkatan, hingga status vaksinasi atau dokumen perjalanan lainnya jika diperlukan.

Anne menambahkan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari roadmap digitalisasi KAI. “Kami akan terus mengembangkan teknologi digital untuk meningkatkan layanan dan kenyamanan pelanggan,” ujarnya.

Respon masyarakat terhadap sistem ini pun sangat positif. Banyak penumpang merasa lebih nyaman karena tidak perlu lagi khawatir kehilangan tiket atau mengantre lama di loket.

KAI juga berencana memperluas implementasi teknologi ini ke seluruh stasiun besar dan menengah di Indonesia, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

“Digitalisasi bukan hanya tren, tetapi kebutuhan. Kami ingin menjadi pelopor dalam memberikan layanan transportasi yang modern, efisien, dan ramah lingkungan,” pungkas Anne. (Redaksi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *