Jakarta, 7 Desember 2025 – Upaya memperkuat konektivitas transportasi publik di Jabodetabek terus dipacu KAI Group. Melalui kolaborasi KAI Commuter dan LRT Jabodebek, perusahaan menghadirkan perjalanan yang makin efisien, mudah dijangkau, sekaligus mendukung gaya hidup mobilitas sehat masyarakat perkotaan.

KAI menilai bahwa integrasi dari moda awal hingga moda lanjutan merupakan fondasi penting untuk menjawab dinamika urban yang semakin cepat. Hal ini ditegaskan oleh Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba.

“Mobilitas urban bergerak sangat cepat. Karena itu, kami membangun integrasi dari first–last mile hingga koneksi antarmoda agar pelanggan dapat berpindah dengan aman, mudah, dan nyaman,” ujar Anne.

Penguatan layanan ini terlihat dari hadirnya fasilitas parkir sepeda gratis di puluhan stasiun KRL Jabodetabek. Pengguna cukup melapor kepada petugas untuk memanfaatkan area yang dilengkapi CCTV dan sistem pengamanan, dengan dua tipe kapasitas: area 8 meter untuk delapan sepeda lipat dan sepuluh sepeda biasa, serta area 6 meter yang menampung hingga 15 sepeda. KAI juga menyediakan water station gratis di sejumlah stasiun sebagai bagian dari dukungan terhadap mobilitas yang lebih sehat.

Sejumlah stasiun seperti Pasar Minggu, Tebet, Lenteng Agung, Depok, Kebayoran, Juanda, Bekasi, Tambun, Klender, hingga Kranji telah menyediakan fasilitas ini. Di saat yang sama, seluruh stasiun LRT Jabodebek juga menghadirkan parkir sepeda yang terintegrasi dengan perjalanan lanjutan menggunakan LRT, serta water station di banyak titik.

Peningkatan fasilitas berjalan beriringan dengan tingginya pergerakan pengguna Commuter Line. Januari–November 2025, layanan KRL Jabodetabek mencatat 317.671.127 pengguna atau rata-rata 951 ribu penumpang per hari. Arus terbesar berasal dari simpul-simpul seperti Bogor, Tanah Abang, Sudirman, Citayam, dan Bekasi, sementara Manggarai tetap menjadi titik transit vital dengan 52,4 juta transaksi transit.

Integrasi juga makin kuat dengan hadirnya koneksi langsung antara LRT Jabodebek dan Commuter Line di Dukuh Atas dan Cikoko. Dukuh Atas menjadi jalur perpindahan utama menuju Stasiun Sudirman, sementara Cikoko terhubung dengan Stasiun Cawang, mempermudah mobilitas dari timur menuju area bisnis Jakarta.

Stasiun LRT Dukuh Atas tercatat sebagai yang tersibuk dengan lebih dari 7,5 juta transaksi sepanjang Januari–November 2025. LRT Jabodebek sendiri melayani lebih dari 26 juta penumpang dalam periode yang sama, dengan rata-rata 98 ribu pengguna pada hari kerja.

Konektivitas antarmoda ini mempercepat distribusi perjalanan, terutama pada koridor padat seperti Sudirman, Tanah Abang, dan Cawang. KRL dan LRT yang semakin terhubung memberi pilihan perjalanan lebih efisien dan memperkuat peran transportasi publik sebagai tulang punggung mobilitas Jabodetabek.

Anne menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari visi besar KAI dalam membangun transportasi berkelanjutan.

“KAI Group sedang membangun ekosistem transportasi yang semakin terhubung. Ketika masyarakat dapat dengan mudah berpindah dari sepeda ke KRL dan LRT serta moda transportasi lainnya, kota menjadi lebih sehat, bersih, dan rendah emisi. Inilah wujud dari transportasi berkelanjutan yang mendukung kualitas hidup yang lebih baik bagi semua,” tutupnya. (Redaksi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *