Jakarta, 7 November 2025 – Upaya memperkuat keselamatan perjalanan kereta api di Jawa Barat kembali mendapat dorongan besar setelah KAI dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyepakati langkah bersama untuk menangani perlintasan sebidang serta mempercepat revitalisasi kawasan Stasiun Bandung. Pertemuan yang berlangsung di Gedung Sate pada Kamis (6/11) itu menjadi momentum penting dalam mempertegas komitmen kedua pihak dalam menciptakan transportasi rel yang lebih aman dan modern di wilayah Priangan.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan penghargaan atas konsistensi KAI dalam menjalankan program keselamatan di seluruh jalur operasional. Ia menilai kerja sama erat antara pemerintah daerah dan KAI menjadi faktor penting untuk menekan risiko kecelakaan maupun kemacetan di perlintasan sebidang yang tersebar di berbagai titik.

“Kami akan mendukung penuh langkah KAI dalam mengatasi permasalahan di perlintasan sebidang melalui pembangunan flyover dan underpass di titik-titik rawan. Keselamatan masyarakat adalah hal yang tidak bisa ditawar, dan kami siap bersinergi untuk mempercepat penyelesaiannya,” ujar Dedi.

Selama Januari hingga Oktober 2025, KAI tercatat telah melaksanakan 1.699 kegiatan sosialisasi keamanan dan keselamatan di perlintasan sebidang, termasuk 195 kegiatan edukasi di sekolah-sekolah. Di periode yang sama, KAI juga menutup dan mempersempit 290 perlintasan di berbagai daerah operasi dan divisi regional sebagai bagian dari upaya menekan potensi bahaya.

Dari total 3.777 perlintasan kereta api di Indonesia, sebanyak 2.763 berstatus resmi. Sementara itu, 1.014 sisanya masih merupakan perlintasan liar yang kini menjadi prioritas penanganan bersama pemerintah daerah.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan bahwa aspek keselamatan selalu menjadi bagian penting dari operasional perusahaan sekaligus bentuk tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

“Kami berkolaborasi dengan Pemprov Jawa Barat untuk menghadirkan transportasi berbasis rel yang aman, nyaman, dan berkelanjutan. Setiap pembangunan underpass atau penutupan perlintasan adalah langkah konkret untuk melindungi keselamatan masyarakat,” tegas Bobby.

Pertemuan tersebut juga membahas rencana percepatan revitalisasi kawasan Stasiun Bandung yang memiliki fungsi strategis sebagai simpul mobilitas utama di Jawa Barat. Dengan luas sekitar 77.000 meter persegi, kawasan ini menaungi area stasiun, jalur kereta, depo, kantor, parkir, serta berbagai fasilitas pendukung. Adapun sisi utara Stasiun Bandung melayani kereta jarak jauh dan Feeder KCJB, sementara sisi selatan melayani KA commuter, feeder KCJB, serta layanan logistik.

Setiap hari, Stasiun Bandung melayani lebih dari 36 ribu penumpang yang terdiri dari 10.815 penumpang KA jarak jauh, 18.135 penumpang KA Commuter Bandung Raya, serta 7.332 penumpang KA Feeder KCJB.

Vice President Public Relations KAI Anne Purba menjelaskan bahwa revitalisasi dilakukan bertahap, dimulai dari pengembangan fasilitas Griya Karya, dilanjutkan penataan area parkir, titik transportasi daring, perbaikan drainase, hingga revitalisasi Stasiun Selatan dan pembangunan akses penghubung sisi utara–selatan.

“Revitalisasi ini akan memperkuat fungsi Stasiun Bandung sebagai pusat aktivitas publik yang nyaman untuk melayani transportasi, menjadi ruang interaksi, ikon kota, dan bagian dari pengalaman urban masyarakat Jawa Barat,” jelas Anne.

Stasiun Bandung sendiri menyimpan sejarah panjang sejak dibangun pada 1882 oleh Staatsspoorwegen (SS). Jalur Bogor–Bandung yang dibuka pada 17 Mei 1884 mendorong peningkatan volume penumpang dan barang sehingga SS melakukan renovasi besar pada 1928 oleh arsitek F.J.A. Cousin bergaya art deco. Renovasi berikutnya dilakukan pada 1939 oleh E.H. de Roo yang memperkuat karakter modern dengan jendela kaca biru dan atap payung beton. Pembaruan terakhir pada 1989–1990 menampilkan sentuhan rumah adat Joglo pada pintu utara, menggabungkan unsur tradisi dan modernitas.

Melalui kolaborasi yang semakin solid antara KAI dan Pemprov Jawa Barat, peningkatan keselamatan perlintasan dan revitalisasi Stasiun Bandung diharapkan mampu memperkuat kualitas layanan transportasi publik sekaligus menggerakkan potensi ekonomi, kreativitas, dan pariwisata wilayah Jawa Barat (Redaksi).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *