Jakarta, 23 September 2025 – Sejarah panjang kereta api di Indonesia dimulai dari Semarang pada 17 Juni 1864 dengan pembangunan rel pertama. Sejak saat itu, moda transportasi ini perlahan menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa. Momentum besar hadir pada 28 September 1945 ketika para pejuang kereta api merebut Kantor Pusat Kereta Api di Bandung. Peristiwa itu tidak hanya menandai lahirnya Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI), tetapi juga menjadi tonggak penetapan Hari Kereta Api Nasional yang masih diperingati hingga kini.

Seiring waktu, kereta api berkembang dari sekadar sarana kolonial menjadi urat nadi transportasi publik yang menyatukan negeri. Semangat perjuangan yang diwariskan para pejuang 1945 menjadi dasar bagi PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk terus bertransformasi. Kini, perusahaan itu hadir dengan wajah baru sebagai operator transportasi modern yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat yang serba digital.

“Sejak 28 September 1945, saat para pejuang kereta api mengibarkan bendera merah putih di kantor pusat Bandung, semangat itu terus hidup hingga kini. Dari semangat perjuangan itulah KAI menapaki jalan transformasi menuju layanan yang modern, inklusif, dan ramah lingkungan,” ujar Vice President Public Relations KAI, Anne Purba.

Transformasi digital terlihat jelas dari meningkatnya penggunaan aplikasi Access by KAI yang menjadi kanal utama pembelian tiket. Sepanjang Januari–Agustus 2025, aplikasi ini mencatat 17,2 juta transaksi, atau 71,73% dari total penjualan tiket. Ekosistem digital KAI juga semakin meluas dengan fitur carbon footprint, layanan integrasi antarmoda dengan KA Bandara, LRT, hingga kereta cepat Whoosh, serta sistem face recognition boarding gate di 22 stasiun besar.

Kinerja perusahaan menunjukkan capaian positif. Selama delapan bulan pertama tahun ini, KAI Group berhasil melayani 328,05 juta pelanggan, tumbuh 8,51% dibandingkan periode sama tahun lalu. Dari sisi angkutan barang, volume mencapai 45,26 juta ton, dengan batu bara sebagai komoditas dominan sebanyak 37,47 juta ton atau 82,8% dari total muatan. Kapasitas angkut juga meningkat dengan kemampuan menarik hingga 30 gerbong di Jawa dan 61 gerbong di Sumatera Selatan dalam sekali perjalanan.

Di tengah capaian tersebut, keandalan layanan tetap dijaga. Rata-rata ketepatan waktu kereta penumpang Januari–Agustus 2025 tercatat 99,50% untuk keberangkatan dan 96,32% untuk kedatangan. Angka ini menjadi bukti bahwa KAI berkomitmen menjaga kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi publik.

Delapan dekade perjalanan KAI menunjukkan bagaimana kereta api mampu menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dari rel pertama di Semarang hingga transformasi digital yang kini berjalan, KAI terus meneguhkan perannya sebagai simbol persatuan dan penggerak pembangunan bangsa. (Redaksi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *