Kontroversi Lagu Bupati Purwakarta Berakhir dengan Permintaan Maaf, Video Klip Resmi Dihapus

3 Juli 2026 – Kontroversi yang mengiringi lagu berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat akhirnya memasuki babak baru. Lagu ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri yang akrab disapa Om Zein, menuai kritik luas setelah liriknya dinilai mengandung unsur yang merendahkan perempuan. Polemik tersebut memicu berbagai reaksi dari kalangan masyarakat, lembaga bantuan hukum, hingga politisi. Di tengah derasnya kritik, Om Zein menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan memutuskan menghapus video klip lagu tersebut dari seluruh akun media sosial pribadinya sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Kontroversi bermula ketika sejumlah pihak menilai lirik lagu berbahasa Sunda tersebut mengandung diksi yang dianggap misoginis serta berpotensi merendahkan martabat perempuan. Beberapa penggalan lirik yang menyinggung persoalan kesehatan reproduksi dan tubuh perempuan menjadi sorotan utama. Menurut penilaian sejumlah pemerhati hukum, lirik tersebut tidak lagi dapat dipandang sebagai kritik sosial ataupun karya seni semata, melainkan telah mengarah pada bentuk penghinaan verbal terhadap perempuan, termasuk anak di bawah umur yang dianalogikan dalam isi lagu.

Polemik itu kemudian berujung pada somasi yang dilayangkan oleh Jabar Bantuan Hukum. Lembaga tersebut menyatakan telah melakukan kajian terhadap isi lagu melalui transkripsi, analisis yuridis, hingga telaah semiotika hukum. Berdasarkan hasil kajian tersebut, mereka menilai terdapat muatan yang merendahkan harkat dan martabat perempuan secara vulgar. Melalui somasi itu, mereka meminta agar seluruh aktivitas produksi, distribusi, penyiaran, hingga monetisasi lagu dihentikan. Selain itu, Om Zein juga diminta menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat, khususnya kaum perempuan Indonesia.

Sorotan terhadap lagu tersebut tidak hanya datang dari kalangan pemerhati hukum. Sejumlah anggota DPR turut menyampaikan kritik keras. Mereka menilai seorang pejabat publik seharusnya lebih berhati-hati dalam menghasilkan karya yang akan dikonsumsi masyarakat luas. Lirik yang dinilai mengandung bias gender dianggap tidak sejalan dengan nilai kesetaraan, etika, dan penghormatan terhadap perempuan. Bahkan, muncul desakan agar Kementerian Dalam Negeri memberikan klarifikasi dan pembinaan kepada kepala daerah terkait polemik tersebut.

Partai Gerindra, sebagai partai tempat Om Zein bernaung, juga memberikan tanggapan atas kontroversi tersebut. Meski menjelaskan bahwa lagu itu diciptakan pada tahun 2020 sebelum Om Zein menjabat sebagai bupati, partai tetap menyayangkan isi lirik yang menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Menurut mereka, setiap karya seni tetap harus memperhatikan norma, budaya, serta etika agar tidak menimbulkan kesan melecehkan kelompok tertentu. Peristiwa ini pun dinilai menjadi pembelajaran bagi siapa pun, terutama pejabat publik, untuk lebih bijak dalam menyampaikan pesan melalui karya kreatif.

Menanggapi berbagai kritik yang muncul, Om Zein menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat. Ia menegaskan tidak pernah memiliki niat untuk merendahkan atau melecehkan perempuan melalui lagu tersebut. Menurutnya, lirik itu berawal dari sebuah puisi yang ditulis pada 2020 ketika dirinya masih belum menjabat sebagai kepala daerah. Puisi tersebut disebut sebagai refleksi perjalanan hidup dan proses spiritual pribadinya ketika mengingat masa muda yang diakuinya penuh kenakalan. Dari pengalaman itu, ia menuangkan renungan tentang perjalanan hidup yang kemudian diaransemen menjadi lagu oleh seorang seniman pada 2023.

Om Zein menjelaskan bahwa makna yang ingin disampaikan dalam puisinya merupakan bentuk introspeksi terhadap dirinya sendiri, bukan ditujukan untuk menggambarkan atau menyerang pihak tertentu. Namun demikian, ia mengakui bahwa pilihan diksi dalam lagu tersebut telah menimbulkan penafsiran berbeda di tengah masyarakat. Karena itulah, ia menyampaikan penyesalan atas ketidaknyamanan yang terjadi dan menghormati berbagai kritik yang disampaikan kepadanya.

Terkait somasi yang diterimanya, Om Zein mengaku masih akan berkonsultasi dengan kuasa hukumnya sebelum menentukan langkah lanjutan. Meski demikian, sebagai bentuk itikad baik, ia telah mengambil keputusan untuk menghapus video klip lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat dari seluruh platform media sosial miliknya. Keputusan tersebut diambil demi menjaga kondusivitas dan keharmonisan masyarakat, sekaligus menunjukkan kesediaannya menerima masukan dari berbagai pihak.

Di akhir pernyataannya, Om Zein menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah memberikan kritik dan masukan. Ia menganggap seluruh respons yang muncul merupakan bentuk kepedulian terhadap dirinya sebagai kepala daerah. Polemik yang sempat menjadi perhatian publik ini pun diharapkan menjadi pelajaran penting mengenai tanggung jawab penggunaan bahasa dan penyampaian pesan di ruang publik, terutama bagi figur yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *