Es Abadi Puncak Jaya Terancam Hilang Total, Indonesia Diperkirakan Kehilangan Gletser Tropis dalam Waktu Dekat

4 Juli 2026 – Fenomena alam ikonik Indonesia di Puncak Jaya, Papua, kini berada di ambang kepunahan. Es abadi yang selama ribuan tahun bertahan di kawasan Pegunungan Jayawijaya dilaporkan terus menyusut secara signifikan dan diperkirakan akan hilang sepenuhnya pada akhir 2026 atau awal 2027. Kondisi ini menjadi penanda kuat dampak perubahan iklim yang semakin nyata di wilayah tropis, sekaligus menandai kemungkinan berakhirnya keberadaan gletser tropis di Indonesia.

Data pemantauan menunjukkan penyusutan yang sangat drastis dalam beberapa dekade terakhir. Pada 1988, luas gletser tercatat sekitar 4,3 kilometer persegi, namun pada September 2025 menyusut tajam hingga hanya tersisa sekitar 0,09 kilometer persegi. Tidak hanya luas permukaan yang berkurang, ketebalan es juga mengalami penurunan signifikan, dari sekitar 32 meter pada 2010 menjadi hanya sekitar 4 meter pada 2023 berdasarkan pengukuran terakhir di lapangan.

Kondisi terbaru bahkan menunjukkan bahwa sisa es yang ada sudah mengalami pencairan lebih lanjut. Para peneliti dan pengamat iklim memperkirakan bahwa dalam hitungan bulan, es yang tersisa kemungkinan besar akan benar benar hilang. Penyebab utama penyusutan ini merupakan kombinasi dari pemanasan global dan fenomena El Nino yang meningkatkan suhu serta mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia bagian timur.

Hilangnya es abadi di Puncak Jaya tidak hanya berdampak pada aspek ilmiah, tetapi juga memiliki makna budaya yang mendalam. Bagi masyarakat Papua, kawasan tersebut bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari warisan spiritual dan identitas leluhur. Kehilangan gletser ini dipandang sebagai hilangnya simbol sejarah alam yang telah ada jauh sebelum peradaban modern berkembang di wilayah tersebut.

Dari sisi lingkungan, keberadaan es di pegunungan tinggi berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Es membantu mengatur ketersediaan air yang menjadi penopang bagi habitat satwa liar dan aktivitas pertanian masyarakat di sekitarnya. Jika seluruh es mencair, dampaknya dapat meluas ke perubahan pola air, penurunan kualitas ekosistem, hingga gangguan pada sistem kehidupan masyarakat lokal yang bergantung pada sumber daya alam tersebut.

Perubahan yang terjadi di Puncak Jaya juga menjadi gambaran nyata percepatan dampak krisis iklim global. Para ahli menilai kondisi ini sebagai peringatan keras bahwa perubahan lingkungan tidak lagi bersifat jangka panjang, tetapi sudah terjadi dalam skala waktu manusia saat ini. Bahkan, ada kekhawatiran bahwa generasi sekarang menjadi yang terakhir yang masih dapat menyaksikan keberadaan es abadi di Indonesia.

Di tengah kondisi yang semakin mengkhawatirkan ini, berbagai pihak diingatkan untuk meningkatkan kesadaran terhadap pelestarian lingkungan. Upaya seperti menjaga kelestarian hutan, mengurangi limbah, menggunakan transportasi ramah lingkungan, hingga penghematan sumber daya alam dianggap menjadi langkah penting untuk memperlambat dampak perubahan iklim yang terus berlangsung. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *