27 Juni 2026 – Kabar baik bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Setelah sekian lama tidak melayani penerbangan komersial dengan pesawat jet, Bandara Husein Sastranegara dipastikan akan kembali beroperasi secara penuh mulai 17 September 2026. Pengaktifan kembali bandara ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas udara, mempercepat mobilitas masyarakat, sekaligus mendukung pertumbuhan sektor pariwisata dan perekonomian di Jawa Barat.
Rencana operasional tersebut telah ditetapkan oleh PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports sebagai pengelola bandara. Kebijakan ini sejalan dengan ketetapan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan yang memberikan izin kepada Bandara Husein Sastranegara untuk kembali melayani penerbangan angkutan udara niaga berjadwal, baik domestik maupun internasional, menggunakan pesawat jet maupun pesawat baling-baling. Dengan adanya keputusan ini, Bandara Husein kembali memiliki peran strategis dalam mendukung jaringan transportasi udara nasional.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menyampaikan bahwa persiapan menuju operasional telah memasuki tahap yang matang. Pemerintah bersama InJourney Airports telah melakukan serangkaian peninjauan langsung ke Bandara Husein guna memastikan seluruh aspek operasional memenuhi standar yang telah ditetapkan. Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah peningkatan kategori Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) menjadi kategori 7 agar mampu mendukung operasional pesawat dengan kapasitas yang lebih besar.
Meski demikian, sejumlah pekerjaan masih perlu diselesaikan sebelum bandara kembali beroperasi secara penuh. Selama beberapa tahun terakhir, Bandara Husein tidak lagi melayani penerbangan pesawat jet sehingga beberapa fasilitas memerlukan penyesuaian dan perbaikan. Pekerjaan tersebut meliputi perbaikan permukaan landasan melalui proses patching maupun overlay pada bagian yang diperlukan, serta peningkatan berbagai sistem operasional di dalam kawasan bandara. Langkah tersebut dilakukan agar seluruh fasilitas memenuhi standar keselamatan dan keamanan penerbangan yang berlaku.
Di sisi lain, Kementerian Perhubungan juga telah mengirimkan pemberitahuan kepada seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan mengenai rencana pengoperasian kembali Bandara Husein Sastranegara. Setelah maskapai menyampaikan permohonan layanan penerbangan, pemerintah akan menyusun pembagian rute sesuai kebutuhan dan kapasitas operasional bandara. Untuk saat ini, permintaan pembukaan rute internasional masih belum diterima sehingga fokus awal akan diarahkan pada pengembangan layanan penerbangan sesuai permintaan maskapai.
Dengan beroperasinya kembali Bandara Husein Sastranegara, bandara ini nantinya dapat melayani berbagai jenis penerbangan. Selain penerbangan niaga berjadwal dalam dan luar negeri menggunakan pesawat jet maupun pesawat baling-baling, bandara juga dapat mengakomodasi penerbangan niaga tidak berjadwal serta penerbangan bukan niaga untuk rute domestik maupun internasional. Hal ini membuka peluang yang lebih besar bagi maskapai untuk memperluas jaringan penerbangannya dari Kota Bandung.
Saat ini Bandara Husein Sastranegara masih melayani penerbangan berjadwal domestik dengan pesawat baling-baling untuk rute tertentu di Pulau Jawa. Menyambut dimulainya kembali operasional penuh, InJourney Airports telah membentuk Tim Operational Readiness Activation and Transition (ORAT) yang bertugas memastikan seluruh proses persiapan berjalan sesuai rencana. Tim tersebut fokus pada kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, prosedur operasional, hingga koordinasi dengan seluruh instansi terkait.
Manajemen InJourney Airports menegaskan bahwa seluruh proses persiapan dilakukan dengan mengedepankan aspek keamanan, keselamatan, dan kualitas pelayanan. Setiap tahapan akan dievaluasi secara menyeluruh agar pengoperasian kembali Bandara Husein Sastranegara dapat berlangsung optimal dan memberikan pengalaman perjalanan yang aman serta nyaman bagi seluruh pengguna jasa. Kehadiran kembali bandara ini diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak utama peningkatan mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat posisi Bandung sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi, bisnis, dan pariwisata di Indonesia. (Redaksi)

