Jakarta, 10 Agustus 2025 – Kekayaan budaya yang tersimpan di kawasan Glenmore, Banyuwangi, kini semakin mudah dijangkau berkat penambahan perhentian baru KA Pandanwangi yang mulai beroperasi 11 Agustus hingga 30 September 2025. Kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi ini menawarkan perpaduan unik antara warisan budaya, tradisi lokal, dan keindahan alam yang masih terjaga kelestariannya. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengambil inisiatif strategis ini sebagai respons atas penutupan jalur nasional di kawasan Gumitir, sekaligus membuka peluang pengembangan wisata budaya yang berkelanjutan di kawasan selatan Jawa Timur. Keputusan ini mendukung upaya pelestarian warisan budaya sambil memberikan akses yang lebih mudah bagi masyarakat dan wisatawan yang ingin mengenal kekayaan tradisi dan sejarah lokal yang autentik.
Stasiun Glenmore menjadi salah satu dari enam perhentian baru KA Pandanwangi relasi Jember–Ketapang pulang pergi, bergabung dengan Ledokombo, Sempolan, Garahan, Sumberwadung, dan Argopuro dalam melayani koridor wisata budaya. Perjalanan menggunakan kereta api ini memberikan pengalaman berbeda dengan menyajikan panorama hijau yang memukau sepanjang rute, menjadikan waktu tempuh sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalaman wisata budaya yang berkesan. Jalur ini berfungsi sebagai penghubung antara berbagai destinasi wisata budaya yang tersebar di kawasan yang kaya akan nilai sejarah dan tradisi. Glenmore berperan strategis sebagai gerbang masuk menuju kawasan yang memadukan situs budaya dengan sentra ekonomi perkebunan yang telah berkembang menjadi bagian dari identitas cultural landscape kawasan ini.
Warisan budaya Glenmore memiliki akar sejarah yang kuat dari abad ke-18 ketika sekelompok orang Katolik Skotlandia yang mencari suaka di Belanda kemudian dikirim ke Hindia Belanda untuk membangun pemukiman di daerah yang kini dikenal sebagai Banyuwangi. Nama “Glenmore” yang berasal dari Skotlandia atau Irlandia tidak hanya diabadikan sebagai nama geografis tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Perkembangan selanjutnya terjadi pada awal abad ke-20 dengan kehadiran perkebunan tembakau “Glenmore” milik Ros Taylor yang turut membentuk karakteristik sosial-ekonomi masyarakat. Kini kawasan seluas 368,89 km² ini dihuni 78.397 jiwa penduduk yang tersebar di tujuh desa dengan kearifan lokal yang masih terjaga, termasuk tradisi pertanian, kerajinan, dan ritual adat yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Glenmore punya kekuatan wisata yang khas Indonesia dari bentang alam, kekayaan perkebunan, hingga cerita sejarah yang melekat di masyarakatnya. Dengan tambahan perhentian ini, kami berharap semakin banyak orang bisa mengakses berbagai destinasi menarik di kawasan ini, seperti Umbul Bening hingga Doesoen Kakao,” tegas Vice President Public Relations KAI Anne Purba. Kawasan ini menyimpan situs purbakala dari zaman Neolitikum yang tersebar di tengah hamparan perkebunan seluas 3.800 hektare, memberikan nilai tambah sebagai destinasi wisata budaya dan edukatif. Glenmore juga terkenal dengan tradisi pertanian kakao yang telah menghasilkan produk berkualitas ekspor ke negara-negara Eropa seperti Swiss, Prancis, dan Inggris melalui Perkebunan Kendenglembu. Destinasi wisata budaya yang dapat diakses meliputi situs religi, sejarah, dan budaya yang dipadukan dengan wisata alam seperti Umbul Bening dan Doesoen Kakao, menciptakan pengalaman wisata terpadu yang menggabungkan aspek pendidikan, budaya, dan rekreasi dalam satu kawasan yang mudah dijangkau.
(Redaksi)

