Jakarta, 22 September 2025 – Perayaan HUT ke-80 KAI terasa semakin istimewa dengan hadirnya KA Cut Meutia di Aceh Utara. Kereta perintis ini menjadi bukti nyata bahwa semangat melayani tidak hanya terhenti di pusat kota, tetapi juga menjangkau hingga ujung barat Nusantara. Dengan tarif Rp2.000, masyarakat dapat menikmati perjalanan singkat yang penuh makna dan kaya pengalaman.
Sejak diresmikan pada 2016, KA Cut Meutia telah melayani ribuan perjalanan. Dari Januari hingga Agustus 2025, kereta ini mencatat 30.527 penumpang dengan frekuensi perjalanan mencapai 1.944 kali. Data tersebut menunjukkan betapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat Aceh atas hadirnya layanan transportasi ini.
“KA Cut Meutia hadir sebagai transportasi andalan masyarakat sekaligus pintu menuju pengalaman wisata yang khas di Aceh. Dari balik jendela kereta, pelanggan dapat menikmati panorama pantai seperti Pantai Mulia, Pantai Curah, hingga Pantai Krueng Mane. Inilah wujud layanan Semakin Melayani di HUT ke-80 KAI, menghadirkan perjalanan singkat yang penuh cerita dan memperkaya pengalaman berwisata bagi masyarakat di sana,” ujar Vice President Public Relations KAI Anne Purba.
Perjalanan sejauh 21,4 km dari Krueng Geukueh ke Kutablang memberikan alternatif transportasi bagi masyarakat sekaligus memperkuat konektivitas di wilayah Aceh Utara. Layanan ini juga mempertegas posisi Kutablang sebagai stasiun paling barat di Indonesia.
Nama Cut Meutia yang melekat pada kereta ini memiliki makna besar. Pahlawan perempuan asal Aceh tersebut dikenal sebagai sosok yang gigih melawan penjajah. Kehadirannya dalam nama kereta menghubungkan semangat perjuangan masa lalu dengan kemajuan transportasi masa kini.
Selain menjadi sarana mobilitas, KA Cut Meutia turut memperkaya sektor pariwisata. Pemandangan pantai yang bisa dinikmati dari jendela kereta menambah daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun wisatawan.
Momentum ulang tahun ke-80 ini membuktikan bahwa KAI konsisten menghadirkan layanan transportasi yang semakin dekat dengan masyarakat. KA Cut Meutia adalah simbol semangat perintis yang menghubungkan Aceh dengan cerita, sejarah, dan keindahan alamnya. (Redaksi)

