Jakarta, 17 November 2025 – Sosok Ignasius Jonan kembali menarik perhatian publik ketika ia hadir dalam perjalanan terakhir KRL JALITA pada Minggu (16/11). Mantan Direktur Utama KAI tersebut mendampingi sarana legendaris itu dari Stasiun Jakarta Kota hingga Depo Depok, sekaligus menegaskan pentingnya layanan rel dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jabodetabek.
Dalam kesempatan itu, Jonan menyapa para penumpang yang memadati gerbong. Banyak yang mengabadikan momen bersamanya, mengingat ia merupakan tokoh di balik lompatan besar modernisasi KAI pada 2009–2014. Kehadirannya menjadi simbol penghormatan bagi JALITA yang telah menjadi ikon perjalanan perkotaan.
Jonan menegaskan bahwa Commuter Line adalah etalase layanan transportasi nasional. Dengan Jabodetabek sebagai kawasan hunian terpadat di Indonesia, transportasi rel menjadi kebutuhan utama masyarakat yang mengandalkan ritme perjalanan cepat dan terjadwal.
Dalam konteks itu, JALITA memiliki posisi penting. Sebagai sarana pertama yang dimiliki KAI Commuter, unit ini menjadi tonggak perubahan, terutama dalam peningkatan kenyamanan dan kapasitas angkut. Tidak heran jika masyarakat merasa kehilangan ketika masa purna tugasnya diumumkan.
Statistik perjalanan 2025 menunjukkan pertumbuhan signifikan mobilitas rel. Dari Januari hingga Oktober, lebih dari 287 juta perjalanan dilayani Commuter Line Jabodetabek. Angka tersebut menunjukkan besarnya ketergantungan masyarakat terhadap layanan KRL dalam aktivitas harian.
Untuk mengenang peran JALITA, Mini Museum JALITA digelar selama sepekan. Pameran itu menampilkan dokumentasi sejarah, edukasi keselamatan, serta kampanye sosial yang berkaitan dengan pengalaman perjalanan KRL. Sebanyak 20.426 pengunjung menghadirinya.
Menurut Jonan, pelestarian sejarah seperti ini adalah bagian penting dari perjalanan sebuah bangsa. Ia berharap sebagian unit JALITA dapat dipertahankan sebagai warisan sejarah yang menunjukkan evolusi layanan transportasi urban.
Sementara itu, KAI menyatakan bahwa regenerasi sarana terus dilakukan. Kehadiran unit-unit baru dengan teknologi yang lebih canggih dinilai penting untuk menopang peningkatan mobilitas masyarakat, terutama di wilayah metropolitan.
Perjalanan terakhir JALITA tidak hanya menutup babak sejarah, tetapi juga membuka ruang bagi hadirnya generasi baru KRL yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Mobilitas harian Jabodetabek kini memasuki fase baru yang lebih progresif. (Redaksi)

