29 Oktober 2026 – Perjuangan ribuan mahasiswa Universitas Trisakti untuk menyampaikan aspirasi secara langsung di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, harus diwarnai dengan aksi pengadangan ketat oleh aparat kepolisian. Rombongan mahasiswa yang bergerak dengan melakukan aksi jalan kaki jarak jauh (long march) dari kampus mereka di kawasan Grogol, Jakarta Barat, dihadang hingga tiga kali di sepanjang rute perjalanan menuju titik aksi. Pengadangan yang terjadi secara berulang tersebut memicu bentrokan fisik serta aksi saling dorong antara mahasiswa dan petugas keamanan yang menjaga ketat akses menuju pusat pemerintahan.
Menteri Luar Negeri Kepresidenan Mahasiswa Trisakti, Arief Rizquna, mengungkapkan bahwa tekanan dan halangan dari petugas sudah terasa sejak rombongan bergerak mendekati area inti Ibu Kota. Situasi memanas ketika massa berusaha menerobos barikade polisi demi mencapai titik aksi utama yang telah direncanakan sebelumnya di sekitar kawasan Monas dan Patung Kuda. Bentrokan fisik tak terelakkan hingga menyebabkan sejumlah mahasiswa, termasuk beberapa mahasiswi, terkena imbas dorongan tameng dan sikutan aparat saat tensi di lapangan meningkat.
Ketatnya pengawalan dan penyekatan oleh aparat kepolisian juga dibenarkan oleh Ketua BEM Fakultas Hukum Trisakti, Zahra Nazira Firman. Ia menjelaskan bahwa pergerakan massa yang memanfaatkan kendaraan angkutan kota serta puluhan sepeda motor terus mendapat hambatan di hampir setiap persimpangan jalan strategis, dengan titik penghadangan awal terjadi di persimpangan Jalan Abdul Muis, Tanah Abang. Meski pergerakan telah dirancang dengan perhitungan matang dan rencana mitigasi, barikade rapat aparat membuat rombongan tertahan hingga 45 menit di satu titik dan memakan waktu perjalanan total mencapai dua jam.
Di tengah impitan pengadangan dan situasi yang serba terbatas, para mahasiswa sempat menggelar aksi diam di kawasan Jalan MH Thamrin sebagai bentuk protes damai. Aksi hening tersebut sengaja dilakukan untuk menegaskan pesan moral bahwa kedatangan mereka murni sebagai bentuk kepedulian rakyat dan mahasiswa yang ingin menyuarakan tuntutan secara tertib tanpa tindak kekerasan. Perdebatan sengit dengan petugas di lapangan pun tak terhindarkan tatkala mahasiswa terus memperjuangkan hak konstitusional mereka untuk menyampaikan pendapat di muka umum.
Kendati langkah mereka dihentikan sebelum mencapai halaman Istana Merdeka, konsolidasi mahasiswa dipastikan tidak akan berhenti sampai di sini. Pihak kelembagaan mahasiswa Trisakti berharap aparat kepolisian dapat lebih bijak dan tidak lagi melakukan penghadangan berlebihan terhadap aksi-aksi penyampaian aspirasi rakyat pada masa mendatang. Mereka mengisyaratkan bakal menggelar gelombang aksi lanjutan dengan eskalasi massa yang lebih besar apabila daftar tuntutan yang dibawa dalam demonstrasi tersebut tidak segera direspons dan dipenuhi oleh pemerintah. (redaksi)

