3 Juni 2026 – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Australia mulai memberikan tekanan nyata bagi ribuan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Negeri Kanguru. Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya sewa hunian yang semakin mahal, serta inflasi yang masih dirasakan masyarakat Australia, mahasiswa asal Indonesia harus memutar otak agar tetap mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa mengganggu kelangsungan studi mereka.
Dalam beberapa bulan terakhir, depresiasi rupiah membuat biaya hidup yang harus ditanggung keluarga di Indonesia meningkat secara signifikan. Kondisi ini terutama dirasakan oleh mahasiswa yang masih bergantung pada kiriman dana dari orang tua, sementara sebagian lainnya mulai mencari sumber pendapatan tambahan untuk mengantisipasi ketidakpastian ekonomi yang masih berlanjut.
Salah satu mahasiswa Indonesia yang merasakan dampak langsung kondisi tersebut adalah Akmal Ismail Zain, mahasiswa S1 Ilmu Farmasi di Monash University. Ia mengaku pengeluaran bulanannya meningkat cukup drastis sejak pertama kali tiba di Australia.
Menurut Akmal, biaya hidup yang sebelumnya masih dapat dikelola kini mengalami kenaikan hingga jutaan rupiah setiap bulan. Kenaikan tersebut terasa semakin berat karena dirinya masih mengandalkan dukungan finansial dari keluarga di Indonesia.
Dalam waktu yang relatif singkat sejak tinggal di Australia, ia sudah merasakan bagaimana inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah secara bersamaan menggerus daya beli mahasiswa internasional. Situasi tersebut membuatnya mulai mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan paruh waktu guna membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia menilai langkah tersebut perlu segera dilakukan mengingat belum ada kepastian kapan nilai tukar rupiah akan kembali menguat. Daripada menunggu kondisi ekonomi membaik, ia memilih mengambil langkah antisipatif dengan menambah pemasukan secara mandiri.
Selisih Kurs yang Semakin Membebani
Tekanan finansial yang dirasakan mahasiswa Indonesia di Australia juga menjadi perhatian Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Australia. Ketua PPI Australia, Muhammad Hadiyan Ridho, menilai pelemahan rupiah memberikan dampak yang cukup besar terhadap mahasiswa yang membiayai pendidikannya secara mandiri maupun yang memperoleh dukungan terbatas dari keluarga.
Ia menjelaskan bahwa dalam kurun waktu sekitar satu tahun, nilai tukar rupiah terhadap dolar Australia mengalami kenaikan yang cukup tajam. Perubahan kurs tersebut membuat biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa untuk kebutuhan yang sama menjadi jauh lebih besar dibandingkan saat mereka pertama kali datang ke Australia.
Menurut Ridho, mahasiswa yang memiliki kendaraan pribadi menjadi salah satu kelompok yang paling merasakan dampaknya. Selain biaya perawatan kendaraan, harga bahan bakar yang masih relatif tinggi turut menambah beban pengeluaran bulanan mereka.
Biaya Makan dan Sewa Semakin Menguras Kantong
Kondisi serupa juga dialami Stephanie Permata Putri atau Tata, mahasiswa asal Yogyakarta yang sedang menempuh studi magister Administrasi Bisnis di Adelaide University.
Penerima beasiswa tersebut mengaku mulai merasakan lonjakan pengeluaran terutama untuk kebutuhan makan dan biaya tempat tinggal. Jika sebelumnya uang saku yang diterima masih cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan, kini sebagian besar anggaran bulanan habis untuk kebutuhan dasar.
Tata mengungkapkan bahwa saat pertama kali tiba di Australia pada pertengahan 2025, kondisi keuangannya masih relatif stabil. Namun memasuki akhir tahun dan awal tahun berikutnya, ia mulai menyadari bahwa tabungan yang dimiliki berkurang jauh lebih cepat meskipun pola pengeluarannya tidak banyak berubah.
Fenomena tersebut sejalan dengan kondisi yang dialami banyak rumah tangga di Australia. Kenaikan biaya hidup yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong masyarakat untuk melakukan berbagai penyesuaian pengeluaran. Bahkan, semakin banyak warga yang memanfaatkan layanan bantuan pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebagai penerima beasiswa gabungan dari Indonesia dan Australia, Tata memperoleh dukungan biaya pendidikan serta tunjangan hidup. Ia mengaku mendapat tambahan uang saku sejak awal tahun 2026 yang cukup membantu meringankan beban pengeluaran. Meski demikian, tambahan tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.
Tekanan Terbesar Datang dari Biaya Hunian
Berbeda dengan Tata, Ahimsa Wardah Swadeshi yang sedang menempuh studi Magister Jurnalistik di University of Melbourne mengaku belum terlalu merasakan kenaikan harga bahan makanan. Namun ia menghadapi tantangan lain yang tidak kalah besar, yakni biaya tempat tinggal.
Setelah memutuskan pindah dari rumah bersama ke studio apartemen pribadi, pengeluaran bulanannya meningkat cukup signifikan. Tidak hanya biaya sewa yang lebih mahal, seluruh tagihan utilitas seperti listrik juga harus ditanggung sendiri tanpa berbagi dengan penghuni lain.
Meski saat ini dana beasiswa masih mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari, Ahimsa menilai penyesuaian besaran tunjangan mungkin perlu dipertimbangkan apabila kondisi ekonomi global memburuk dan biaya hidup terus meningkat.
Menurutnya, dukungan tambahan baik dalam bentuk peningkatan tunjangan maupun keringanan biaya tertentu dapat menjadi solusi untuk membantu mahasiswa internasional menghadapi situasi yang semakin menantang.
Strategi Bertahan di Tengah Kenaikan Biaya Hidup
Menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar, mahasiswa Indonesia di Australia mulai menerapkan berbagai strategi penghematan. Salah satu langkah paling umum adalah mengurangi frekuensi membeli makanan siap saji dan lebih sering memasak sendiri.
Tata misalnya, berusaha membatasi pembelian makanan di luar. Jika terpaksa membeli makanan jadi, ia memilih porsi yang cukup untuk dikonsumsi lebih dari sekali sehingga pengeluaran harian dapat ditekan.
Selain itu, ia juga mulai mengurangi pembelian barang di luar kebutuhan pokok dan lebih memilih menunggu program diskon sebelum berbelanja.
Sementara itu, Ahimsa menerapkan pola serupa dengan memilih menu yang dapat dikonsumsi dalam beberapa kali makan. Strategi tersebut terbukti cukup efektif untuk menghemat anggaran bulanan tanpa mengurangi kualitas asupan makanan.
Akmal pun melakukan berbagai cara kreatif untuk menekan pengeluaran. Selain aktif mencari promo di supermarket, ia memanfaatkan berbagai program diskon restoran yang menawarkan paket pembelian bersama teman.
Tidak hanya kebutuhan konsumsi, pengeluaran untuk kegiatan sosial juga mulai dibatasi. Meski menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental melalui interaksi sosial, banyak mahasiswa memilih mengurangi frekuensi berkumpul demi memastikan kondisi keuangan tetap aman.
Ketidakpastian Ekonomi Jadi Tantangan Baru Mahasiswa Indonesia
Melemahnya rupiah terhadap dolar Australia menjadi tantangan tambahan bagi mahasiswa Indonesia yang sedang mengejar pendidikan di luar negeri. Kenaikan biaya hidup yang terjadi bersamaan dengan depresiasi mata uang membuat pengeluaran meningkat lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Kondisi ini memaksa mahasiswa untuk lebih disiplin dalam mengelola keuangan, mencari sumber pemasukan tambahan, serta menerapkan berbagai strategi penghematan dalam kehidupan sehari-hari. Selama nilai tukar rupiah belum menunjukkan penguatan yang signifikan dan biaya hidup di Australia masih tinggi, tekanan finansial diperkirakan akan tetap menjadi salah satu tantangan utama bagi pelajar Indonesia di negara tersebut. (Redaksi)

