11 Agustus 2026 – Ketergantungan petani terhadap bahan bakar fosil untuk mengairi sawah mulai berkurang di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Melalui pemanfaatan pompa air tenaga surya, petani kini dapat memperoleh sumber pengairan dengan biaya operasional yang lebih rendah sekaligus mengurangi penggunaan bahan bakar minyak. Teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan di sektor pertanian, terutama untuk menghadapi tantangan biaya produksi dan ketersediaan air saat musim kemarau.
Pemanfaatan pompa air tenaga surya atau PATS dilakukan melalui program Benteng Pangan Jawa Tengah. Saat ini, teknologi tersebut telah diterapkan di tiga lokasi, yaitu Desa Tengengwetan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Cilacap. Ketiga titik tersebut tidak hanya ditujukan untuk membantu petani setempat, tetapi juga diproyeksikan menjadi contoh penerapan teknologi pengairan berbasis energi terbarukan di wilayah lain.
Di Desa Tengengwetan, Kabupaten Pekalongan, penerapan PATS telah memberikan akses pengairan bagi lahan pertanian yang luasnya hampir mencapai 20 hektare. Secara keseluruhan, tiga titik pemasangan pompa tenaga surya tersebut mampu mengairi sekitar 50 hektare lahan pertanian. Sistem ini memungkinkan air dari sumber yang tersedia di sekitar wilayah pertanian dipompa menuju sawah sehingga kebutuhan air tanaman dapat lebih terjaga.
Teknologi tersebut memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan pompa diesel konvensional. Penggunaan energi matahari membuat petani dapat mengurangi konsumsi bahan bakar fosil yang selama ini menjadi salah satu komponen biaya produksi. Selain tidak menghasilkan emisi dari pembakaran bahan bakar ketika beroperasi menggunakan energi surya, sistem pompa juga dapat digunakan secara berkelanjutan sehingga mendukung kebutuhan pengairan petani.
Bagi petani, penghematan biaya menjadi salah satu manfaat yang paling langsung dirasakan. Di Desa Tengengwetan, penggunaan pompa tenaga surya membantu menekan konsumsi solar yang sebelumnya dibutuhkan untuk menjalankan pompa diesel. Dengan berkurangnya kebutuhan bahan bakar, biaya pengairan dapat ditekan sehingga petani memiliki ruang lebih besar untuk mengelola biaya produksi lainnya.
Perwakilan kelompok tani di wilayah tersebut menyebut sekitar 30 petani padi memanfaatkan sistem PATS untuk mengairi lahan mereka. Air diambil dari sungai yang berada di sekitar desa dan kemudian dialirkan menuju areal persawahan. Dalam penerapannya, pompa berbahan bakar solar masih digunakan pada malam hari, sedangkan pada siang hari kebutuhan pemompaan memanfaatkan energi matahari.
Penggunaan energi surya juga mulai memberikan dampak terhadap pengelolaan pola tanam di wilayah lain. Di Kabupaten Brebes, pompa tenaga surya dimanfaatkan bersama sumber air dari sumur bor untuk membantu petani menghadapi persoalan pengairan saat musim kemarau. Kondisi tersebut menjadi penting karena wilayah pertanian setempat dapat menghadapi masuknya air asin ke sistem irigasi, yang berpotensi mengganggu ketersediaan air tawar untuk tanaman.
Dengan memanfaatkan sumur bor dan pompa tenaga surya, petani di Brebes memiliki alternatif sumber air yang lebih sesuai untuk kebutuhan pertanian. Kondisi tersebut memungkinkan mereka mengatur kembali waktu tanam berdasarkan ketersediaan air, tanpa sepenuhnya bergantung pada kondisi irigasi konvensional. Fleksibilitas ini berpotensi membantu petani menjaga produktivitas lahan ketika menghadapi perubahan kondisi musim.
Pemerintah Jawa Tengah berencana mengembangkan penerapan teknologi tersebut secara lebih luas. Tiga lokasi yang telah mendapatkan PATS diproyeksikan menjadi contoh bagi kabupaten dan kota lain di Jawa Tengah. Jika penerapannya menunjukkan hasil yang baik, model pengairan menggunakan energi surya tersebut juga berpotensi dikembangkan sebagai salah satu contoh pemanfaatan energi terbarukan di sektor pertanian pada tingkat yang lebih luas.
Penggunaan PATS juga tidak terbatas pada kebutuhan pengairan sawah. Teknologi pompa berbasis energi surya dapat diterapkan untuk berbagai kebutuhan yang memerlukan pemindahan air, termasuk sektor lain yang membutuhkan sistem pompa dengan biaya operasional relatif rendah. Pengembangan teknologi ini sejalan dengan upaya mendorong transisi energi dan memperluas penerapan ekonomi hijau.
Bagi sektor pertanian, kombinasi energi terbarukan dan teknologi digital seperti Internet of Things dapat menjadi bagian dari transformasi sistem produksi. Jika dikembangkan secara tepat, teknologi tersebut bukan hanya membantu mengurangi biaya bahan bakar, tetapi juga dapat memberikan petani akses terhadap sistem pengairan yang lebih fleksibel. Langkah ini menjadi semakin relevan di tengah tantangan perubahan cuaca, musim kemarau, serta kebutuhan menjaga produktivitas pertanian secara berkelanjutan. (Redaksi)

