31 Mei 2026 – Di tengah jutaan umat Muslim yang menunaikan ibadah haji tahun 2026, terdapat satu sosok yang mencuri perhatian dunia. Seorang perempuan lanjut usia asal Kediri, Jawa Timur, berhasil mewujudkan impian seumur hidupnya untuk beribadah ke Tanah Suci pada usia 104 tahun. Kisah perjuangan dan keteguhannya menjadi inspirasi bagi banyak orang, membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita dan memenuhi panggilan ibadah.
Perempuan tersebut adalah Marsiyah, yang pada musim haji 1447 Hijriah tercatat sebagai jemaah haji tertua di dunia. Di usianya yang telah melewati satu abad, ia tetap menunjukkan semangat luar biasa untuk menjalankan rukun Islam kelima yang selama bertahun-tahun hanya menjadi harapan dalam doanya.
Keberangkatan Marsiyah ke Tanah Suci menjadi momen yang membanggakan, tidak hanya bagi keluarganya tetapi juga masyarakat Indonesia. Di tengah ribuan jemaah dari berbagai negara, sosoknya menjadi simbol ketekunan, kesabaran, dan keyakinan yang tak pernah luntur oleh waktu.
Menabung Bertahun-Tahun dari Hasil Jualan Jenang
Perjalanan Marsiyah menuju Tanah Suci tidak diperoleh dengan mudah. Di balik keberangkatannya tersimpan kisah perjuangan panjang yang penuh kesederhanaan.
Selama bertahun-tahun, ia menyisihkan sebagian hasil usahanya sebagai penjual jenang tradisional. Sedikit demi sedikit uang hasil berdagang dikumpulkan dan disimpan dengan penuh kesabaran. Tabungan itu menjadi bukti tekadnya untuk suatu hari dapat berangkat haji.
Dengan penghasilan yang tidak besar, proses mengumpulkan biaya haji tentu membutuhkan waktu yang panjang. Namun hal tersebut tidak pernah menyurutkan niatnya. Ketika tabungan yang dimiliki belum mencukupi, keluarga turut memberikan dukungan agar impian tersebut dapat terwujud.
Kebiasaan menabung sederhana yang dilakukan selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2021, Marsiyah berhasil mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji setelah dana yang dibutuhkan terkumpul.
Tetap Semangat Meski Usia Lebih dari Satu Abad
Marsiyah lahir pada 1 Juli 1921. Meski telah berusia 104 tahun, semangatnya menjalankan ibadah masih terlihat kuat. Dalam aktivitas sehari-hari, ia masih mampu berjalan perlahan dengan bantuan tongkat.
Namun untuk mendukung mobilitas selama menjalani rangkaian ibadah haji yang cukup padat dan melelahkan, ia lebih banyak menggunakan kursi roda. Pendampingan juga dilakukan oleh putrinya yang berusia 67 tahun yang turut menemaninya selama berada di Tanah Suci.
Kondisi tersebut menjadi bentuk perhatian agar Marsiyah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman tanpa harus memaksakan kondisi fisiknya yang sudah lanjut usia.
Kondisi Kesehatan Tetap Terjaga
Salah satu hal yang membuat banyak orang kagum adalah kondisi kesehatan Marsiyah yang relatif baik. Meski telah memasuki usia lebih dari satu abad, ia disebut tetap memiliki semangat tinggi dan kondisi mental yang stabil.
Petugas pendamping haji yang bertugas dalam kelompok terbangnya melaporkan bahwa Marsiyah berada dalam keadaan sehat dan siap mengikuti rangkaian ibadah yang telah dijadwalkan.
Ketika ditanya mengenai kondisi kesehatannya, jawaban yang disampaikannya sangat sederhana namun mengejutkan banyak orang. Ia mengaku jarang mengalami gangguan kesehatan yang berarti selama hidupnya.
Kondisi tersebut membuatnya mampu menjalani perjalanan panjang menuju Arab Saudi dan beradaptasi dengan berbagai aktivitas ibadah yang membutuhkan kesiapan fisik maupun mental.
Menjelang Wukuf dengan Hati yang Bahagia
Salah satu puncak ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sebuah rangkaian yang memiliki makna sangat penting bagi seluruh jemaah. Menjelang pelaksanaan ibadah tersebut, kondisi Marsiyah dilaporkan tetap baik.
Keluarga dan petugas pendamping terus memberikan perhatian khusus untuk memastikan kebutuhan kesehatannya terpenuhi. Dukungan tersebut memungkinkan Marsiyah menjalani setiap tahapan ibadah dengan tenang dan penuh rasa syukur.
Bagi dirinya, keberhasilan menginjakkan kaki di Tanah Suci setelah penantian panjang menjadi kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Senyum yang terus menghiasi wajahnya menjadi gambaran bahwa impian yang selama ini diperjuangkan akhirnya menjadi kenyataan.
Inspirasi bagi Banyak Orang
Kisah Marsiyah menjadi pengingat bahwa kesabaran dan ketekunan sering kali menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Perjuangannya menabung sedikit demi sedikit dari hasil berjualan jenang menunjukkan bahwa niat yang kuat mampu mengalahkan berbagai keterbatasan.
Di tengah usia yang telah melampaui satu abad, ia tetap menunjukkan optimisme, semangat hidup, dan keyakinan yang menginspirasi. Perjalanan hajinya tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi simbol harapan bagi banyak orang yang masih berjuang mewujudkan impian mereka.
Keberangkatan Marsiyah ke Tanah Suci pada usia 104 tahun menjadi salah satu kisah paling menyentuh dalam musim haji 2026. Di balik langkah yang perlahan dan tubuh yang telah menua, tersimpan tekad besar yang akhirnya mengantarkannya memenuhi panggilan suci yang telah lama dinantikan. (Redaksi)

