Ratusan Santri di Sidoarjo Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Santap Menu MBG

2 September 2026 – Suasana di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, mendadak berubah menjadi kepanikan setelah ratusan santri mengalami gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan makanan dari program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Peristiwa tersebut terjadi pada Senin, 1 September 2026, setelah para santri menyantap makanan yang dibagikan melalui program tersebut. Sejumlah santri mulai mengalami keluhan beberapa jam setelah makanan dikonsumsi, hingga akhirnya membutuhkan penanganan medis. Kondisi tersebut membuat proses evakuasi dilakukan secara bertahap ke sejumlah fasilitas kesehatan di sekitar wilayah Sidoarjo.

Gejala yang dialami para santri dilaporkan mulai muncul setelah mereka menjalankan salat zuhur. Keluhan kemudian semakin terlihat ketika memasuki waktu asar, sehingga pihak pesantren mulai melakukan penanganan terhadap para santri yang kondisi tubuhnya menurun. Ketika waktu magrib tiba, jumlah santri yang membutuhkan pertolongan medis semakin banyak. Situasi tersebut mendorong proses evakuasi menggunakan ambulans menuju sejumlah rumah sakit agar para korban dapat segera mendapatkan pemeriksaan dan perawatan.

Berdasarkan data sementara, sedikitnya 120 santri telah dibawa ke beberapa rumah sakit untuk memperoleh penanganan darurat. Sebanyak 80 santri menjalani perawatan di RSUD Sidoarjo, kemudian 19 santri dibawa ke RS Siti Hajar. Selain itu, 12 santri mendapatkan penanganan di RS Delta Surya dan sembilan santri lainnya dibawa ke RS Pusura Gelam. Jumlah tersebut masih bersifat sementara karena proses pendataan dan evakuasi terus dilakukan seiring munculnya laporan santri yang mengalami keluhan kesehatan.

Kondisi di sekitar pondok pesantren pun sempat dipenuhi aktivitas kendaraan darurat. Puluhan ambulans dilaporkan terus datang dan pergi dari kawasan pesantren untuk membawa santri yang mengalami gejala menuju fasilitas kesehatan. Proses evakuasi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing korban. Banyaknya santri yang harus mendapatkan pertolongan dalam waktu hampir bersamaan membuat situasi di lingkungan pesantren menjadi sangat padat dan penuh kekhawatiran.

Di tengah situasi tersebut, para orang tua dan wali santri mulai berdatangan ke kawasan pondok pesantren. Mereka berkumpul di luar gerbang sembari menunggu informasi mengenai kondisi anak masing-masing. Kekhawatiran terlihat karena sebagian besar wali santri belum memperoleh kepastian secara langsung mengenai tingkat keparahan kondisi para korban. Pihak keluarga berharap proses penanganan medis dapat dilakukan secepat mungkin sehingga para santri yang mengalami gangguan kesehatan dapat segera pulih.

Pengamanan di lingkungan pesantren juga diperketat selama proses penanganan berlangsung. Sejumlah personel TNI terlihat berada di sekitar lokasi untuk membantu menjaga situasi agar tetap tertib. Pengamanan diperlukan mengingat banyaknya orang yang berdatangan, baik dari pihak keluarga maupun petugas yang terlibat dalam proses evakuasi. Kehadiran personel di lokasi juga membantu memastikan akses keluar masuk ambulans tetap berjalan sehingga penanganan terhadap para santri tidak terhambat.

Makanan yang dikonsumsi para santri tersebut diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Kalitengah. Makanan tersebut merupakan bagian dari penyaluran program Makan Bergizi Gratis yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan asupan gizi penerima manfaat. Namun, setelah munculnya kejadian tersebut, asal makanan menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian dan perlu ditelusuri lebih lanjut. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para santri.

Dugaan keracunan belum dapat menjadi kesimpulan akhir sebelum dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Pemeriksaan medis terhadap korban dan penelusuran terhadap makanan yang dikonsumsi menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebab sebenarnya. Selain melihat kondisi para santri, penanganan juga perlu mencakup pemeriksaan terhadap proses pengolahan, pengemasan, distribusi, hingga waktu makanan tersebut dikonsumsi. Langkah tersebut diperlukan agar penyebab kejadian dapat diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan, bukan semata berdasarkan dugaan yang berkembang di lapangan.

Peristiwa ini menjadi perhatian karena melibatkan penerima manfaat dalam jumlah besar pada satu lokasi. Insiden kesehatan yang terjadi secara bersamaan dapat memberikan tekanan besar terhadap fasilitas pelayanan kesehatan, terutama apabila jumlah korban terus bertambah. Oleh karena itu, pendataan korban, koordinasi antarinstansi, serta pemeriksaan terhadap makanan menjadi bagian penting dalam penanganan kasus ini. Keluarga para santri juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai kondisi anak mereka agar tidak terjadi kepanikan yang lebih luas.

Hingga proses penanganan berlangsung, jumlah santri yang terdampak masih berpotensi bertambah. Mobilisasi ambulans yang masih terjadi menunjukkan bahwa proses evakuasi belum sepenuhnya selesai. Penanganan terhadap para santri di rumah sakit diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai gejala yang dialami dan penyebabnya. Masyarakat pun masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah gangguan kesehatan tersebut benar berkaitan dengan makanan dari program MBG atau terdapat faktor lain yang turut memengaruhi kondisi para santri. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *