1 September 2026 – Harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di jaringan SPBU Pertamina mengalami perubahan mulai Selasa, 1 September 2026. Penyesuaian tersebut terutama berlaku untuk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sementara beberapa produk lainnya tetap berada pada harga sebelumnya. Perubahan harga ini tentu menjadi perhatian masyarakat, terutama pemilik kendaraan yang rutin menggunakan BBM nonsubsidi untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Perbedaan harga juga terlihat di sejumlah wilayah karena tarif BBM Pertamina dapat disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik masing-masing daerah.
Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah komponen yang memengaruhi biaya penyediaan bahan bakar. Beberapa indikator yang menjadi perhatian antara lain perkembangan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, komponen pajak, serta berbagai faktor ekonomi lainnya. Selain aspek keekonomian, daya beli masyarakat juga menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan harga jual. Karena itu, tidak seluruh produk mengalami perubahan secara bersamaan pada periode penyesuaian kali ini.
Untuk September 2026, produk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex tercatat mengalami kenaikan harga. Sementara itu, Pertamax dan Pertamax Green 95 pada sejumlah wilayah tertentu tetap dipasarkan dengan harga yang tidak berubah. Secara umum, harga Pertamax Turbo berada di kisaran Rp19.600 hingga Rp20.450 per liter, sedangkan Dexlite berkisar antara Rp22.150 hingga Rp24.750 per liter tergantung wilayah. Pertamina Dex juga memiliki rentang harga yang berbeda antar daerah, dengan harga tertinggi dalam daftar yang diberikan mencapai Rp26.300 per liter.
Di tingkat nasional, harga Pertamax tercatat mulai dari Rp15.150 hingga Rp16.650 per liter di berbagai wilayah. Untuk kawasan yang menyediakan Pertamax Green 95, produk tersebut dibanderol Rp16.600 per liter. Adapun Pertamax Turbo di wilayah seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur berada pada harga Rp19.600 per liter. Harga Dexlite di wilayah-wilayah tersebut tercatat Rp23.700 per liter, sementara Pertamina Dex berada di angka Rp25.200 per liter.
Berbeda dengan BBM nonsubsidi, harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual dengan harga Rp10.000 per liter, sedangkan Solar subsidi atau Bio Solar tetap berada di level Rp6.800 per liter. Kedua jenis BBM tersebut masih mempertahankan harga yang sama sehingga perubahan harga pada awal September terutama dirasakan oleh konsumen yang menggunakan produk nonsubsidi. Kondisi ini membuat masyarakat perlu kembali memperhatikan jenis bahan bakar yang digunakan, terutama bagi mereka yang memiliki kebutuhan perjalanan cukup tinggi.
Sumatera
Di wilayah Aceh, harga Pertamax tercatat Rp16.300 per liter dan tidak mengalami perubahan. Namun, Pertamax Turbo naik menjadi Rp20.000 per liter dari sebelumnya Rp18.700. Dexlite juga mengalami peningkatan menjadi Rp24.200 per liter dari Rp20.150, sedangkan Pertamina Dex kini mencapai Rp25.750 per liter dari harga sebelumnya Rp21.650. Kenaikan serupa juga terjadi di Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan sejumlah wilayah lain dengan struktur harga yang sama.
Untuk Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau, harga Pertamax berada di level Rp16.650 per liter. Pertamax Turbo naik menjadi Rp20.450 per liter dari sebelumnya Rp19.100. Dexlite dijual Rp24.750 per liter, meningkat dari Rp20.550, sedangkan Pertamina Dex mencapai Rp26.300 per liter setelah sebelumnya berada di angka Rp22.100. Perubahan harga tersebut membuat kelompok BBM diesel nonsubsidi mengalami kenaikan yang cukup terasa dibandingkan harga periode sebelumnya.
Sementara itu, wilayah Free Trade Zone atau FTZ Sabang memiliki struktur harga tersendiri. Pertamax berada pada Rp16.300 per liter dari sebelumnya Rp14.950, sedangkan Dexlite kini dijual Rp22.150 per liter dari harga sebelumnya Rp18.450. Di FTZ Batam, Pertamax berada di angka Rp15.150 per liter, sementara Pertamax Turbo naik menjadi Rp18.550 dari Rp17.400. Dexlite meningkat menjadi Rp22.500 dari Rp18.700 dan Pertamina Dex menjadi Rp23.950 dari sebelumnya Rp20.100.
Jawa dan Bali
Memasuki wilayah Pulau Jawa, harga BBM Pertamina relatif seragam di sejumlah provinsi. DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur menetapkan harga Pertamax sebesar Rp15.950 per liter. Pertamax Green 95 dibanderol Rp16.600 per liter, sedangkan Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.600 dari sebelumnya Rp18.300. Dexlite kini dipasarkan Rp23.700 per liter dari sebelumnya Rp19.700, sementara Pertamina Dex meningkat menjadi Rp25.200 dari Rp21.150.
Pola harga yang hampir sama juga terlihat di Bali serta Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, meskipun ketersediaan produk dapat berbeda antarwilayah. Pertamax berada di harga Rp15.950 per liter, Pertamax Turbo Rp19.600, Dexlite Rp23.700, dan Pertamina Dex Rp25.200 per liter. Bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk mobilitas antarkota atau perjalanan jarak jauh, perubahan tersebut dapat berpengaruh terhadap pengeluaran operasional, khususnya bagi kendaraan yang membutuhkan konsumsi BBM dalam jumlah besar.
Kalimantan
Di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur, harga Pertamax berada pada Rp16.300 per liter. Pertamax Turbo meningkat menjadi Rp20.000 dari Rp18.700, sedangkan Dexlite naik menjadi Rp24.200 dari Rp20.150. Pertamina Dex juga mengalami kenaikan dari Rp21.650 menjadi Rp25.750 per liter. Kenaikan pada kelompok BBM nonsubsidi ini membuat biaya operasional kendaraan berbahan bakar diesel maupun kendaraan berperforma tinggi ikut meningkat.
Kalimantan Utara memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan beberapa provinsi Kalimantan lainnya. Pertamax berada di harga Rp16.650 per liter, sedangkan Pertamax Turbo mencapai Rp20.450 per liter dari sebelumnya Rp19.100. Dexlite naik menjadi Rp24.750 dari Rp20.550 dan Pertamina Dex menjadi Rp26.300 dari Rp22.100. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa konsumen perlu memperhatikan harga di wilayah masing-masing karena harga BBM tidak selalu sama antara satu provinsi dan provinsi lainnya.
Sulawesi
Di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat, Pertamax dipatok Rp16.300 per liter. Pertamax Turbo mengalami kenaikan menjadi Rp20.000 per liter, sedangkan Dexlite berada di Rp24.200 per liter. Pertamina Dex juga naik menjadi Rp25.750 per liter dari harga sebelumnya Rp21.650. Dengan adanya perubahan tersebut, pengguna kendaraan di kawasan Sulawesi yang mengandalkan BBM nonsubsidi harus menyiapkan anggaran lebih besar dibandingkan periode sebelumnya.
Maluku dan Papua
Di Maluku dan Maluku Utara, Pertamax tercatat sebesar Rp16.300 per liter, sedangkan Dexlite berada pada harga Rp24.200 per liter. Untuk wilayah Papua, harga Pertamax juga mencapai Rp16.300 per liter, sementara Pertamax Turbo dibanderol Rp20.000 dan Dexlite Rp24.200 per liter. Di beberapa wilayah Papua, produk Pertamina Dex tersedia dengan harga Rp25.750 per liter, seperti di Papua Barat dan Papua Barat Daya.
Sementara itu, Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah tercatat memiliki harga Pertamax Rp16.300 per liter dan Dexlite Rp24.200 per liter. Perbedaan ketersediaan produk di sejumlah wilayah membuat daftar harga tidak sepenuhnya sama antara satu provinsi dengan provinsi lainnya. Konsumen yang hendak membeli BBM tertentu juga perlu memastikan ketersediaan produk di SPBU terdekat karena tidak seluruh jenis BBM nonsubsidi tersedia di semua daerah.
Dengan berlakunya harga baru mulai 1 September 2026, masyarakat disarankan memperhatikan kembali pengeluaran untuk kebutuhan bahan bakar. Kenaikan paling terlihat terjadi pada Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sementara harga Pertamax serta BBM bersubsidi masih relatif stabil sesuai wilayah dan ketentuan yang berlaku. Bagi pengguna kendaraan yang memiliki mobilitas tinggi, perubahan harga per liter dapat memberikan pengaruh cukup besar terhadap biaya bulanan apabila konsumsi bahan bakar mencapai puluhan hingga ratusan liter. Karena itu, memahami harga BBM berdasarkan wilayah menjadi penting agar masyarakat dapat memperkirakan kebutuhan anggaran transportasi secara lebih akurat. (Redaksi)

