16 Agustus 2026 – Warga di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur masih harus menghadapi aktivitas gempa susulan sehari setelah gempa besar mengguncang kawasan tersebut. Pada Minggu pagi, 16 Agustus 2026, gempa dengan kekuatan magnitudo 5,2 kembali terjadi di sekitar Ruteng, Manggarai. Guncangan tersebut disusul gempa lain dengan kekuatan lebih kecil beberapa jam kemudian. Kondisi ini membuat masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan berikutnya.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gempa berkekuatan magnitudo 5,2 terjadi pada pukul 06.12 WIB. Pusat gempa berada sekitar 84 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai, dengan kedalaman 10 kilometer. Berdasarkan informasi yang dikeluarkan BMKG, gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Masyarakat tetap diminta berhati-hati karena aktivitas gempa susulan masih dapat terjadi setelah gempa utama.
Beberapa waktu setelah gempa magnitudo 5,2 tersebut, aktivitas seismik kembali tercatat di wilayah sekitar Ruteng. Pada pukul 07.54 WIB, gempa berkekuatan magnitudo 3,3 terjadi dengan kedalaman sekitar 22 kilometer. Rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan bahwa kawasan terdampak masih mengalami dinamika seismik setelah gempa utama yang mengguncang Nusa Tenggara Timur sehari sebelumnya.
Aktivitas gempa susulan sebenarnya telah berlangsung sejak gempa utama terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026. BMKG sebelumnya mencatat ratusan aktivitas gempa susulan setelah gempa utama di utara Pulau Flores. Hingga pukul 14.00 WIB pada Sabtu, tercatat 235 gempa susulan dengan kekuatan berkisar antara magnitudo 2,5 hingga 6,2. Pemantauan menunjukkan aktivitas tersebut belum mengalami penurunan yang signifikan.
Gempa utama yang mengguncang wilayah NTT pada Sabtu pagi memiliki kekuatan awal magnitudo 7,7 sebelum kemudian diperbarui menjadi magnitudo 7. Gempa tersebut terjadi pada pukul 04.58 WIB dan sempat memicu peringatan dini tsunami. Namun, peringatan tersebut kemudian dinyatakan berakhir setelah BMKG melakukan pemantauan terhadap kondisi laut dan aktivitas gempa yang terjadi.
Dampak gempa utama dirasakan cukup luas dan menimbulkan kerusakan di sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur. Sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat. Fasilitas publik seperti sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, kantor pemerintahan, serta sejumlah infrastruktur lainnya juga turut terdampak.
Data penanganan bencana yang dihimpun pada Sabtu menunjukkan jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 47 orang. Korban tersebar di beberapa kabupaten, dengan jumlah terbesar berada di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Selain korban meninggal, sejumlah warga juga mengalami luka-luka sehingga harus mendapatkan pertolongan dan perawatan medis.
Kerusakan pada permukiman warga juga menjadi salah satu dampak utama dari gempa tersebut. Ratusan rumah tercatat mengalami kerusakan dengan kategori berat, sedang, maupun ringan. Kondisi bangunan yang rusak membuat sebagian warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka untuk sementara waktu demi menghindari risiko akibat bangunan yang tidak lagi aman.
Selain bangunan, akses transportasi di sejumlah wilayah juga menghadapi gangguan. Longsor dilaporkan menutup beberapa ruas jalan sehingga menyulitkan mobilitas masyarakat dan proses distribusi bantuan. Kondisi geografis wilayah NTT yang memiliki banyak kawasan perbukitan turut menjadi tantangan bagi petugas dalam menjangkau sejumlah lokasi terdampak.
Tim gabungan terus melakukan proses evakuasi, pendataan kerusakan, serta penanganan terhadap warga yang membutuhkan bantuan. Bantuan berupa kebutuhan pangan dan nonpangan juga mulai disalurkan ke wilayah yang terdampak. Proses penanganan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, akses menuju lokasi, serta keselamatan petugas dan masyarakat.
Dengan masih berlangsungnya gempa susulan, masyarakat di wilayah terdampak perlu meningkatkan kewaspadaan dan tidak mengabaikan informasi resmi mengenai kondisi kebencanaan. Warga juga perlu berhati-hati ketika berada di sekitar bangunan yang mengalami kerusakan karena guncangan susulan dapat meningkatkan risiko runtuhnya struktur bangunan yang telah melemah. Informasi mengenai perkembangan gempa dan potensi tsunami sebaiknya diperoleh dari kanal resmi pemerintah dan lembaga terkait.
Rangkaian gempa yang masih terjadi pada Minggu pagi menjadi pengingat bahwa situasi pascabencana belum sepenuhnya berakhir. Selain menangani korban dan kerusakan, aparat serta lembaga kebencanaan masih harus mengantisipasi kemungkinan munculnya gempa susulan. Masyarakat di NTT diharapkan tetap tenang, mengikuti arahan petugas, dan segera melakukan langkah keselamatan apabila kembali merasakan guncangan kuat. (Redaksi)

