30 Mei 2026 – Tangis dan kesedihan menyelimuti kawasan permukiman padat di Tambora, Jakarta Barat, setelah kebakaran besar melanda puluhan rumah warga. Dalam hitungan jam, api melahap bangunan yang selama bertahun-tahun menjadi tempat tinggal dan sumber penghidupan masyarakat. Kini, ratusan warga harus menjalani hari-hari mereka di pengungsian sambil menunggu kepastian mengenai masa depan tempat tinggal mereka.
Peristiwa kebakaran terjadi pada Kamis malam sekitar pukul 19.47 WIB. Api dengan cepat menyebar di kawasan yang didominasi bangunan berdempetan sehingga menyulitkan upaya penanganan pada awal kejadian. Petugas pemadam kebakaran yang tiba di lokasi langsung berupaya mengendalikan kobaran api agar tidak meluas ke area lain.
Proses pemadaman berlangsung selama beberapa jam. Puluhan personel dan armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjinakkan api yang terus membesar. Setelah perjuangan panjang, kobaran api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 23.32 WIB.
Akibat kejadian tersebut, sebanyak 27 rumah dilaporkan hangus terbakar. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemilik rumah yang kehilangan tempat tinggal, tetapi juga ratusan warga yang harus meninggalkan lingkungan mereka untuk sementara waktu.
Data sementara menunjukkan sebanyak 115 kepala keluarga atau sekitar 250 jiwa terdampak dalam musibah ini. Rumah-rumah yang terbakar tersebar di empat wilayah rukun tetangga dalam satu kawasan permukiman yang sama.
Keesokan harinya, suasana duka masih begitu terasa di lokasi kejadian. Meski api telah padam, aroma asap dan sisa-sisa material yang terbakar masih memenuhi udara. Bangunan yang sebelumnya berdiri kini hanya menyisakan puing-puing, rangka atap yang roboh, serta tumpukan barang rumah tangga yang hangus dan sulit dikenali bentuk aslinya.
Sejumlah warga terlihat berupaya membersihkan sisa kebakaran dan mencari barang-barang yang mungkin masih bisa diselamatkan. Namun sebagian besar harus menerima kenyataan bahwa hampir seluruh harta benda mereka musnah dalam peristiwa tersebut.
Sementara itu, warga yang kehilangan tempat tinggal untuk sementara mengungsi di beberapa lokasi yang telah disiapkan. Salah satu titik pengungsian berada di musala setempat yang kini menjadi tempat berlindung bagi keluarga-keluarga terdampak.
Di tengah kesibukan warga membersihkan puing-puing, kisah pilu datang dari Dadang, seorang pedagang bakso yang menjadi salah satu korban kebakaran. Saat kejadian berlangsung, ia baru saja pulang bekerja dan sedang beristirahat di kontrakannya.
Menurut pengakuannya, teriakan warga yang mengabarkan adanya kebakaran membuat dirinya segera keluar rumah. Namun saat melihat kondisi api yang sudah membesar, ia menyadari tidak banyak barang yang bisa diselamatkan.
Dalam situasi panik tersebut, Dadang hanya sempat menyelamatkan satu gerobak bakso yang menjadi sumber penghasilannya sehari-hari. Sementara berbagai perlengkapan usaha, peralatan memasak, pakaian, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya habis dilalap api.
Kerugian yang dialaminya diperkirakan mencapai jutaan rupiah. Bagi seorang pedagang kecil, kehilangan perlengkapan usaha bukan hanya soal materi, tetapi juga ancaman terhadap keberlangsungan mata pencaharian yang selama ini menopang kebutuhan keluarga.
Kisah Dadang mencerminkan kondisi banyak warga lain yang terdampak. Tidak sedikit keluarga yang kehilangan rumah sekaligus sumber penghasilan dalam satu malam. Beberapa di antaranya kini hanya memiliki pakaian yang melekat di badan saat berhasil menyelamatkan diri dari kobaran api.
Warga berharap bantuan segera datang untuk memenuhi kebutuhan dasar selama masa pengungsian. Selain makanan dan minuman, mereka juga membutuhkan pakaian, perlengkapan tidur, perlengkapan bayi, obat-obatan, serta dukungan untuk memulai kembali kehidupan setelah musibah.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan besarnya risiko kebakaran di kawasan permukiman padat penduduk. Selain pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, diperlukan pula upaya mitigasi yang lebih baik agar potensi kebakaran dapat diminimalkan dan dampaknya tidak semakin meluas ketika terjadi.
Saat ini, warga Tambora masih berusaha bangkit dari musibah yang menimpa mereka. Di tengah puing-puing dan kehilangan yang begitu besar, harapan akan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak menjadi penyemangat bagi mereka untuk kembali menata kehidupan yang sempat luluh lantak dalam satu malam. (Redaksi)

