25 Mei 2026 – Musim penuh kejutan di Liga Italia 2025/2026 menghadirkan cerita dramatis hingga pekan terakhir. Di saat banyak tim besar berjuang mengamankan posisi elite, Como justru tampil sebagai kisah paling mengejutkan musim ini. Tim asuhan Cesc Fabregas sukses menciptakan sejarah dengan mengamankan tiket Liga Champions setelah menutup musim lewat kemenangan telak 4-1 atas Cremonese.

Di sisi lain, malam yang sama berubah menjadi mimpi buruk bagi Cremonese. Kekalahan di laga penentuan membuat klub tersebut harus menerima kenyataan pahit turun kasta ke Serie B. Nasib sulit juga dirasakan kiper Timnas Indonesia, Emil Audero, yang gagal menyelamatkan timnya dari jurang degradasi.

Pertandingan yang berlangsung di Stadio Giovanni Zini sejak awal sudah sarat tekanan. Kedua tim datang membawa misi yang sama pentingnya, meski dengan tujuan berbeda. Como membutuhkan kemenangan demi menjaga peluang finis di empat besar, sementara Cremonese berjuang mempertahankan tempat di kasta tertinggi sepak bola Italia.

Tuan rumah memulai pertandingan dengan semangat tinggi. Bermain di depan pendukung sendiri membuat Cremonese berusaha tampil agresif dan berupaya memberi tekanan sejak menit awal.

Namun Como tampil lebih tenang dan efektif. Tim asuhan Cesc Fabregas memperlihatkan kematangan permainan yang sepanjang musim menjadi salah satu kekuatan utama mereka.

Setelah beberapa kali membangun serangan berbahaya, Como akhirnya membuka keunggulan pada menit ke-35. Jesus Rodriguez menjadi sosok yang memecah kebuntuan.

Gol tersebut lahir setelah Como memanfaatkan celah di lini pertahanan Cremonese. Rodriguez berhasil menyelesaikan peluang dengan baik dan membawa tim tamu unggul 1-0.

Keunggulan itu membuat Como bermain semakin percaya diri. Mereka mampu mengontrol jalannya pertandingan hingga babak pertama berakhir.

Memasuki babak kedua, tekanan kepada Cremonese semakin besar. Situasi bertambah sulit ketika Como kembali memperlebar jarak pada menit ke-50.

Anastasios Douvikas sukses mencatatkan namanya di papan skor setelah memanfaatkan peluang di area pertahanan lawan. Gol tersebut mengubah skor menjadi 2-0 dan membuat harapan Cremonese mulai berada dalam ancaman serius.

Meski tertinggal dua gol, tuan rumah tidak menyerah begitu saja.

Empat menit berselang, Cremonese mendapatkan kesempatan untuk kembali ke pertandingan melalui hadiah penalti. Federico Bonazzoli yang maju sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya dengan baik.

Gol dari titik putih itu membuat skor berubah menjadi 2-1 dan kembali membangkitkan harapan para pendukung tuan rumah.

Namun momentum kebangkitan Cremonese ternyata hanya bertahan singkat.

Petaka besar datang pada menit ke-70 ketika Alberto Grassi terlibat insiden yang kemudian ditinjau melalui VAR. Setelah melakukan pemeriksaan, wasit memutuskan memberikan kartu merah kepada pemain Cremonese sekaligus menghadiahkan penalti bagi Como.

Keputusan tersebut memicu protes keras dari kubu tuan rumah. Situasi di lapangan sempat memanas karena para pemain dan staf Cremonese menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap keputusan wasit.

Ketegangan semakin meningkat ketika dua pemain cadangan Cremonese, Milan Djuric dan David Okereke, juga diganjar kartu merah akibat reaksi berlebihan terhadap keputusan tersebut.

Dalam situasi penuh tekanan itu, Lucas Da Cunha tampil tenang saat maju sebagai algojo penalti. Tendangannya sukses menaklukkan Emil Audero pada menit ke-73 dan mengubah kedudukan menjadi 3-1.

Gol tersebut menjadi pukulan besar bagi Cremonese yang saat itu sudah bermain dengan jumlah pemain lebih sedikit.

Tidak berhenti di situ, Da Cunha kembali menunjukkan kualitasnya beberapa menit kemudian. Pada menit ke-80, ia sekali lagi berhasil menjebol gawang Emil Audero dan memastikan kemenangan telak Como dengan skor 4-1.

Peluit panjang akhirnya menutup pertandingan sekaligus mengakhiri musim dengan dua cerita berbeda.

Bagi Como, kemenangan ini terasa sangat spesial. Mereka menutup musim di posisi keempat klasemen dengan koleksi 71 poin. Raihan tersebut memastikan Como merebut tiket Liga Champions musim depan.

Keberhasilan ini semakin terasa luar biasa karena Como berhasil mengungguli banyak klub besar Italia dalam perebutan zona empat besar.

Menariknya, Como sebenarnya memiliki jumlah poin yang sama dengan Juventus. Namun tim asuhan Cesc Fabregas unggul dalam catatan pertemuan langsung sehingga berhak menempati posisi lebih tinggi.

Keberhasilan Como juga tidak lepas dari hasil pertandingan lain. Kekalahan AC Milan pada pekan terakhir membuka jalan bagi mereka untuk menembus empat besar.

Sementara itu, suasana berbeda dirasakan Cremonese. Kekalahan telak membuat mereka harus mengakhiri musim di posisi ke-18 dengan raihan 34 poin, hasil yang membuat klub tersebut terdegradasi ke Serie B.

Bagi Emil Audero dan rekan-rekannya, malam tersebut menjadi penutup musim yang sangat berat. Setelah berjuang hingga pekan terakhir, mereka tetap gagal menghindari kenyataan pahit harus meninggalkan Serie A.

Musim ini pun menjadi bukti bahwa sepak bola selalu menghadirkan kejutan. Di saat sebagian tim besar kehilangan tempat di kompetisi elite, Como justru menulis sejarah baru dan membuktikan bahwa mimpi besar dapat menjadi kenyataan. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *