18 April 2026 – Pertandingan penuh tensi tersaji dalam lanjutan Super League Indonesia ketika Bhayangkara Presisi Lampung FC berhasil menunjukkan mental kuat dengan membalikkan keadaan dan menundukkan PSIM Yogyakarta dengan skor 2-1. Laga yang digelar di Stadion Sumpah Pemuda ini menjadi bukti ketangguhan tuan rumah dalam menghadapi tekanan sejak awal pertandingan.
PSIM tampil agresif sejak menit pertama dan langsung memberi kejutan. Saat pertandingan baru berjalan sembilan menit, Savio Sheva berhasil membawa tim tamu unggul lebih dulu setelah memanfaatkan umpan matang dari Dei Corfe. Gol cepat tersebut membuat Bhayangkara harus bekerja ekstra untuk mengejar ketertinggalan.
Tertinggal satu gol, Bhayangkara mencoba meningkatkan intensitas serangan. Moussa Sidibé sempat mendapatkan peluang emas, namun upayanya masih mampu diamankan oleh kiper Cahya Supriadi yang tampil sigap di bawah mistar.
Sepanjang babak pertama, PSIM mampu menjaga keunggulan dengan disiplin bertahan yang solid. Hingga turun minum, skor 1-0 untuk tim tamu tetap bertahan, sementara Bhayangkara belum menemukan celah untuk menyamakan kedudukan.
Memasuki babak kedua, Bhayangkara tampil jauh lebih agresif. Tekanan yang terus dilancarkan akhirnya membuahkan hasil cepat. Pada menit ke-48, situasi bola mati dimanfaatkan dengan baik ketika umpan dari Sidibé berhasil disundul oleh Nehar Sadiki menjadi gol penyeimbang.
Momentum kebangkitan Bhayangkara berlanjut hanya beberapa menit kemudian. Kali ini Sidibé sendiri yang mencatatkan namanya di papan skor. Berawal dari umpan silang yang diarahkan ke depan gawang, bola berhasil disambar olehnya dan mengubah kedudukan menjadi 2-1 untuk tuan rumah.
PSIM sempat memiliki peluang untuk kembali menyamakan skor pada menit ke-71. Pulga Vidal berhasil mencetak gol setelah menerima bola dari situasi tendangan bebas yang dieksekusi Ze Valente. Namun, gol tersebut dianulir karena Vidal lebih dulu berada dalam posisi offside.
Di sisa waktu pertandingan, PSIM meningkatkan tekanan untuk mencari gol penyama kedudukan. Namun, strategi menyerang tersebut justru membuka celah di lini pertahanan mereka. Bhayangkara beberapa kali memanfaatkan situasi ini melalui serangan balik cepat yang nyaris menambah keunggulan.
Salah satu peluang datang dari Henri Doumbia, namun tembakannya masih mampu ditepis oleh Cahya Supriadi. Hingga peluit panjang dibunyikan, tidak ada gol tambahan yang tercipta dan Bhayangkara memastikan kemenangan penting di kandang sendiri.
Hasil ini membawa Bhayangkara naik ke posisi empat besar klasemen dengan koleksi 47 poin, memperkuat peluang mereka dalam persaingan papan atas. Sementara itu, PSIM harus puas tertahan di peringkat kesembilan dengan 38 poin, meski sempat memberikan perlawanan sengit.
Kemenangan ini tidak hanya soal tiga poin, tetapi juga menunjukkan karakter kuat Bhayangkara dalam membalikkan situasi sulit. Pertandingan ini menjadi gambaran bahwa konsistensi dan ketenangan dalam menghadapi tekanan dapat menjadi kunci meraih hasil maksimal di kompetisi yang semakin kompetitif. (Redaksi)

