Jakarta, 4 Agustus 2025 – Inovasi digital menjadi pilar penting dalam transformasi PT Kereta Api Indonesia (Persero). Direktur Utama KAI, Didiek Hartantyo, menegaskan bahwa inovasi yang dikembangkan KAI bukan sekadar memanfaatkan teknologi, melainkan untuk memanusiakan layanan dan menciptakan efisiensi operasional.
Dalam forum Directorship Development Program (DDP) BPJS Ketenagakerjaan di Jakarta, Didiek mengungkapkan bahwa transformasi digital KAI berakar dari visi dan purpose yang jelas. “Kami tidak hanya menjual tiket atau melayani penumpang. Kami mengantarkan harapan, membangun koneksi, dan memberi pengalaman bermakna bagi masyarakat. Itulah purpose kami,” tegas Didiek.
Platform digital Access by KAI menjadi wujud nyata dari inovasi yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih baik. Fitur-fitur seperti pembelian tiket komuter dan LRT, pemesanan hotel, hingga sistem face recognition disediakan dalam satu aplikasi terintegrasi.
Didiek menekankan bahwa inovasi tersebut bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga sebagai wujud tanggung jawab sosial. Teknologi diarahkan untuk membangun kepercayaan pelanggan dan menyederhanakan proses, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi publik.
KAI tidak hanya fokus pada digitalisasi layanan, tetapi juga memperkuat budaya service excellence di seluruh lini. Transformasi ini dinilai berhasil karena berpijak pada makna dan visi kelembagaan, bukan sekadar mengejar efisiensi atau laba.
Dalam sesi presentasinya, Didiek menyampaikan bahwa transformasi digital KAI dilandasi oleh panggilan untuk bangkit dari krisis. Pandemi 2020 menjadi titik balik, saat perusahaan merugi Rp1,7 triliun dan menghadapi ketidakpastian arah.
“Setiap krisis adalah panggilan untuk berubah. Dan perubahan sejati harus dimulai dari dalam, dari visi yang menyatukan dan tujuan yang memperkuat,” jelasnya. Bagi Didiek, makna dalam kepemimpinan menjadi bahan bakar utama dalam mendorong inovasi berkelanjutan.
Hasilnya, pada 2024 KAI mencatatkan laba bersih Rp2,2 triliun dan nilai aset meningkat hampir dua kali lipat menjadi Rp97,1 triliun. Lebih dari itu, kepercayaan pelanggan tumbuh, dengan indeks kepuasan pelanggan mencapai 4,50.
Tak hanya itu, reputasi KAI juga merambah ranah internasional dengan skor ESG 41 dari S&P Global. Capaian ini mencerminkan komitmen KAI terhadap prinsip keberlanjutan di bidang lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan.
Dalam kerangka kepemimpinan berkelanjutan, Didiek menyebut bahwa inovasi harus selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, KAI terus mendorong regenerasi internal yang adaptif dan berjiwa pelayanan.
Menurut Didiek, keberhasilan KAI adalah hasil dari kolaborasi seluruh insan perusahaan. Kepemimpinan bukan panggung individu, melainkan ruang kolektif yang digerakkan oleh makna bersama.
“Kepemimpinan sejati dimulai saat kita tahu untuk apa kita memimpin, untuk siapa kita hadir, dan perubahan apa yang ingin kita ciptakan,” tutupnya. (Redaksi)

