Kebakaran TPA Liar di Waringinkurung Belum Padam, Warga Mulai Keluhkan Sesak Napas

30 Agustus 2026 – Kebakaran di tempat pembuangan sampah ilegal di wilayah Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten, belum juga sepenuhnya padam setelah berlangsung sekitar 24 jam. Api masih terlihat dari kawasan permukiman warga, sementara asap dari tumpukan sampah yang terbakar mulai menimbulkan keluhan gangguan pernapasan. Warga yang tinggal di sekitar lokasi mengaku mencium bau asap menyengat dan sebagian mulai mengalami sesak napas.

Kebakaran diketahui terjadi di Kampung Pranje, Desa Waringinkurung, pada Jumat, 28 Agustus 2026, sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, warga yang baru kembali dari aktivitas mengambil rumput melihat api sudah membesar dan menjalar di area tempat pembuangan sampah. Petugas kepolisian yang mendapat laporan kemudian mendatangi lokasi untuk membantu penanganan dan mengantisipasi agar kobaran api tidak meluas ke wilayah permukiman.

Sehari setelah kebakaran terjadi, kondisi di lokasi masih belum sepenuhnya aman. Api masih terlihat dari permukiman Kampung Cibeka yang berjarak sekitar 400 meter dari titik kebakaran. Pada malam hari, cahaya api bahkan masih tampak di tengah kondisi sekitar yang gelap, menandakan bahwa bara dan titik api masih bertahan di dalam tumpukan sampah.

Warga juga melaporkan adanya suara letupan dari area kebakaran. Suara tersebut terdengar seperti bunyi petasan dan sempat membuat warga khawatir karena berasal dari lokasi yang masih dipenuhi material sampah terbakar. Letupan diduga berasal dari material tertentu yang berada di dalam tumpukan sampah, meskipun penyebab pastinya belum diketahui.

Kondisi tersebut turut berdampak terhadap kualitas udara di sekitar lokasi. Salah seorang warga Kampung Cibeka mengaku mulai mencium bau asap yang cukup menyengat dari rumahnya. Jarak rumah warga tersebut dengan lokasi kebakaran diperkirakan sekitar 700 meter, tetapi asap masih dapat tercium hingga ke permukiman.

Keluhan mengenai gangguan pernapasan juga mulai muncul di tengah masyarakat. Sejumlah warga mengeluhkan rasa sesak napas akibat asap yang menyebar dari lokasi kebakaran. Situasi ini membuat warga semakin khawatir apabila kebakaran berlangsung lebih lama dan asap terus bergerak menuju permukiman.

Pemadaman Terkendala Alat Berat

Proses pemadaman kebakaran menghadapi kendala karena kondisi tumpukan sampah yang sulit ditangani hanya dengan penyiraman air. Petugas pemadam kebakaran harus menghadapi kemungkinan munculnya kembali api dari bagian dalam tumpukan sampah yang telah terbakar.

Kapolsek Waringinkurung Iptu Hari Purwanto mengatakan penggunaan alat berat diperlukan untuk membantu proses penanganan di lokasi. Alat berat direncanakan didatangkan untuk membongkar atau mengurai tumpukan sampah sehingga titik api yang berada di bagian dalam dapat dijangkau dan dipadamkan.

Menurutnya, penyiraman air secara terus menerus belum tentu dapat menyelesaikan persoalan karena api dapat kembali muncul setelah petugas meninggalkan lokasi. Kondisi tersebut terjadi karena bagian dalam tumpukan sampah masih menyimpan panas dan bara yang dapat memicu kobaran baru meskipun permukaan terlihat telah padam.

Karena itu, strategi penanganan tidak hanya difokuskan pada penyiraman api yang terlihat. Petugas juga perlu memastikan bara di dalam tumpukan sampah dapat ditangani sehingga potensi api kembali menyala bisa diminimalkan. Penggunaan alat berat diharapkan dapat membantu membuka bagian tumpukan yang sulit dijangkau oleh air.

Api Diupayakan Tidak Merambat ke Permukiman

Di tengah proses pemadaman, petugas juga berupaya mencegah api meluas ke area lain. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lokasi kebakaran berada tidak jauh dari permukiman warga. Angin dan material yang mudah terbakar dapat meningkatkan risiko penyebaran api apabila tidak segera dikendalikan.

Petugas pemadam kebakaran telah berupaya membuat area di sekitar titik kebakaran dalam kondisi padam untuk membatasi pergerakan api. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan agar kobaran tidak menjalar ke lahan lain maupun mendekati kawasan tempat tinggal masyarakat.

Jarak antara lokasi kebakaran dengan permukiman membuat pengendalian api menjadi sangat penting. Selain ancaman langsung dari kobaran api, asap yang dihasilkan juga dapat menyebar ke wilayah sekitar dan mengganggu aktivitas masyarakat. Oleh sebab itu, pemadaman dan pencegahan perlu dilakukan secara bersamaan.

Warga yang berada di sekitar lokasi diharapkan tetap berhati-hati selama proses penanganan berlangsung. Apabila asap semakin pekat atau kondisi di sekitar rumah mulai tidak aman, masyarakat perlu mempertimbangkan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mengikuti arahan petugas di lapangan.

Lokasi Awalnya Bekas Galian Bata

Lokasi yang kini digunakan sebagai tempat pembuangan sampah tersebut diketahui sebelumnya merupakan lahan bekas galian bata. Seiring waktu, area tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai lokasi pembuangan sampah. Ketika volume sampah sudah memenuhi area, tumpukan tersebut biasanya ditutup atau ditimbun menggunakan tanah.

Kondisi tersebut membuat material sampah berada dalam lapisan yang cukup tebal. Ketika terjadi kebakaran, api tidak hanya membakar material yang berada di permukaan, tetapi juga dapat merambat ke bagian bawah tumpukan. Bara yang tersimpan di dalam lapisan tersebut kemudian berpotensi menyebabkan api kembali muncul meskipun kobaran di permukaan telah berhasil dikurangi.

Situasi semacam ini juga dapat membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang. Petugas perlu memastikan titik panas yang tersembunyi di balik tumpukan sampah benar-benar teratasi. Tanpa pembongkaran atau penguraian material, penyiraman pada permukaan saja berisiko tidak mampu menjangkau sumber bara yang berada jauh di dalam.

Hingga sekitar 24 jam setelah api pertama kali diketahui, kebakaran masih menjadi perhatian warga dan petugas. Selain berupaya memadamkan seluruh titik api, penanganan juga diarahkan untuk mencegah kobaran menjalar ke kawasan sekitar.

Keluhan warga mengenai asap dan sesak napas menambah urgensi penanganan kebakaran tersebut. Semakin lama tumpukan sampah terbakar, semakin lama pula masyarakat di sekitar lokasi berpotensi terpapar asap. Karena itu, proses pemadaman dan pengendalian asap menjadi hal penting untuk melindungi permukiman di sekitar lokasi.

Petugas diharapkan dapat segera melakukan penanganan dengan dukungan alat berat agar titik api yang tersembunyi di dalam tumpukan sampah dapat dijangkau. Sementara itu, masyarakat sekitar perlu tetap waspada terhadap perubahan arah asap maupun kemungkinan meluasnya api hingga proses pemadaman dinyatakan selesai. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *