24 Agustus 2026 – Malam yang seharusnya tenang berubah menjadi kepanikan di Kampung Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kobaran api muncul ketika sebagian warga sedang beristirahat dan dengan cepat merambat dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Puluhan hingga lebih dari seratus rumah adat dilaporkan hangus dalam kebakaran yang terjadi pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Selain kehilangan tempat tinggal dan harta benda, musibah ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan salah satu kawasan yang selama puluhan generasi menjadi pusat kehidupan dan tradisi masyarakat Sasak.
Kebakaran dilaporkan mulai terjadi sekitar pukul 22.00 Wita. Api diduga pertama kali muncul dari salah satu rumah warga, kemudian membesar dan merambat ke bangunan lain yang berada berdekatan. Struktur rumah adat yang sebagian besar menggunakan material alami membuat api dapat berkembang dengan cepat. Hingga proses penanganan berlangsung, jumlah rumah yang terdampak disebut mencapai sekitar 120 hingga 129 bangunan.
1. Kampung Adat Sade Bukan Sekadar Permukiman
Kampung Adat Sade berada di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat kehidupan tradisional masyarakat Sasak dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Lombok. Rumah rumah tradisional di kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang dipertahankan secara turun temurun.
Bangunan tradisional Sade memiliki karakteristik yang berbeda dengan rumah modern. Atapnya menggunakan jerami, sementara dindingnya dibuat dari anyaman bambu atau bedek. Lantainya menggunakan tanah liat yang secara tradisional dicampur dengan kotoran kerbau dan abu jerami. Bentuk dan material tersebut mencerminkan cara masyarakat setempat mempertahankan pola kehidupan leluhur selama beberapa generasi.
Karakteristik bangunan tersebut sekaligus menjadi salah satu tantangan ketika kebakaran terjadi. Material seperti jerami dan bambu relatif mudah terbakar sehingga api dapat menjalar dengan cepat apabila beberapa bangunan berada dalam jarak berdekatan. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman harus dilakukan secepat mungkin agar kobaran tidak meluas ke seluruh kawasan.
Kebakaran besar yang melanda Sade akhirnya tidak hanya menjadi persoalan kehilangan rumah. Kerusakan tersebut juga menyentuh aspek budaya karena bangunan yang terbakar merupakan bagian dari lingkungan tradisional yang menjadi identitas masyarakat Sasak dan salah satu daya tarik wisata budaya di Lombok.
2. Warga Kehilangan Harta Benda dalam Waktu Singkat
Kebakaran terjadi ketika sebagian besar warga sedang berada di rumah dan beristirahat. Api yang muncul secara tiba tiba membuat banyak penghuni tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan barang barang mereka. Dalam kondisi panik, keselamatan penghuni menjadi prioritas sehingga berbagai benda berharga harus ditinggalkan.
Sejumlah warga menyebut barang yang tidak sempat diselamatkan antara lain kain tenun, uang, telepon seluler, serta berbagai perlengkapan rumah tangga. Bagi masyarakat Sade, kehilangan kain tenun juga memiliki arti tersendiri karena aktivitas menenun merupakan salah satu bagian dari tradisi dan kehidupan masyarakat Sasak.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan warga setelah kebakaran menjadi persoalan mendesak. Selain tempat tinggal sementara, masyarakat membutuhkan pakaian, makanan, perlengkapan sehari hari, serta dukungan untuk kembali menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi. Penanganan pascakebakaran harus dilakukan secara bertahap karena kerugian yang dialami warga tidak hanya berupa bangunan, tetapi juga harta benda dan sumber penghidupan.
Upaya evakuasi dilakukan bersamaan dengan pemadaman. Aparat bersama pemerintah daerah dan masyarakat dikerahkan untuk memastikan warga dapat keluar dari kawasan yang terdampak dengan aman. Setelah api dikendalikan, perhatian kemudian beralih pada pendataan korban serta kebutuhan masyarakat yang kehilangan rumah.
3. Pemerintah Siapkan Pemenuhan Kebutuhan Warga
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyatakan kebutuhan dasar warga menjadi prioritas setelah kebakaran. Penanganan diarahkan untuk memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan makanan, pakaian, tempat yang aman, serta kebutuhan lain selama proses pemulihan berlangsung.
Pemerintah daerah juga memberikan perhatian terhadap anak anak yang tinggal di kawasan tersebut. Kebakaran berpotensi mengganggu kehidupan keluarga dalam berbagai aspek, termasuk aktivitas pendidikan. Karena itu, keberlangsungan sekolah anak anak menjadi salah satu hal yang perlu dijaga agar dampak bencana tidak menyebabkan gangguan berkepanjangan terhadap pendidikan mereka.
Selain kebutuhan dasar, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat juga menjadi perhatian. Sebagian warga Sade menggantungkan aktivitas ekonomi pada kegiatan yang berkaitan dengan pariwisata dan kerajinan tradisional. Ketika rumah dan fasilitas yang digunakan dalam aktivitas tersebut terbakar, penghasilan masyarakat berpotensi ikut terdampak.
Pemerintah daerah berencana melakukan penanganan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan dan kebutuhan mendesak. Setelah kondisi stabil, perhatian akan diarahkan pada pemulihan kehidupan masyarakat serta pembangunan kembali kawasan yang rusak.
4. Ratusan Rumah Adat Direncanakan Dibangun Kembali
Kerusakan dalam kebakaran tersebut cukup besar. Data sementara menyebut sekitar 129 rumah adat mengalami kerusakan akibat kobaran api. Pemerintah Provinsi NTB kemudian menyiapkan rencana rekonstruksi terhadap bangunan yang terbakar.
Rencana pembangunan kembali menjadi penting karena Kampung Adat Sade memiliki nilai budaya yang jauh lebih luas daripada sekadar kumpulan rumah warga. Kawasan tersebut merupakan salah satu gambaran kehidupan tradisional masyarakat Sasak yang masih dipertahankan hingga sekarang. Karena itu, pembangunan kembali perlu mempertimbangkan aspek keselamatan sekaligus karakter arsitektur tradisionalnya.
Rekonstruksi juga membutuhkan perencanaan yang matang agar bangunan baru tetap dapat mempertahankan identitas budaya Sade. Material dan bentuk rumah tradisional perlu diperhatikan, tetapi aspek keselamatan kebakaran juga menjadi pertimbangan penting. Pengalaman kebakaran ini dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem pencegahan kebakaran tanpa menghilangkan karakter khas kawasan adat.
Pemerintah daerah akan berkoordinasi untuk menentukan langkah rekonstruksi. Proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu karena tidak hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan kehidupan masyarakat yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
5. Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki
Hingga proses penanganan berlangsung, penyebab pasti kebakaran belum diketahui. Kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara untuk mencari titik awal api dan mengumpulkan informasi yang dapat menjelaskan bagaimana kebakaran tersebut bermula.
Tim gabungan dari kepolisian melakukan dokumentasi di lokasi dan meminta keterangan dari warga serta korban. Garis polisi juga dipasang untuk menjaga area tertentu agar tidak terganggu selama proses pemeriksaan. Sejumlah personel dengan kemampuan identifikasi dan pemeriksaan tempat kejadian turut dikerahkan untuk membantu penyelidikan.
Pemeriksaan menjadi penting karena kebakaran terjadi dalam skala besar dan menyebabkan kerusakan terhadap banyak rumah. Penyidik perlu memastikan apakah kebakaran disebabkan oleh faktor teknis, kelalaian, maupun kemungkinan lain. Kesimpulan mengenai penyebab baru dapat ditentukan setelah seluruh bukti dan keterangan yang diperoleh dianalisis.
Pengamanan lokasi juga dilakukan untuk menjaga kondisi tempat kejadian perkara. Aparat gabungan dari unsur TNI, Polri, dan pemerintah daerah dikerahkan untuk membantu evakuasi, pemadaman, serta menjaga keamanan kawasan selama proses penanganan.
Tantangan Menjaga Warisan Budaya Setelah Kebakaran
Kebakaran Kampung Adat Sade menjadi persoalan yang memiliki dimensi lebih luas karena menyangkut kehidupan masyarakat sekaligus warisan budaya. Kehilangan rumah berarti kehilangan tempat tinggal bagi warga, sementara kerusakan bangunan adat juga berarti berkurangnya bagian dari lanskap budaya yang telah dipertahankan selama beberapa generasi.
Pemulihan kawasan nantinya perlu memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan pelestarian tradisi. Rumah rumah yang dibangun kembali diharapkan tetap mencerminkan karakter arsitektur Sade sehingga identitas kawasan tidak hilang. Pada saat yang sama, aspek keselamatan perlu diperkuat agar kejadian serupa dapat diminimalkan pada masa mendatang.
Sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran juga dapat menjadi bagian penting dari evaluasi. Ketersediaan sumber air, akses kendaraan pemadam, alat pemadam awal, jalur evakuasi, serta edukasi kepada masyarakat dapat diperkuat tanpa mengubah karakter kawasan adat secara berlebihan.
Bagi masyarakat Sade, proses pemulihan bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang terbakar. Mereka juga harus mengembalikan aktivitas ekonomi, melanjutkan tradisi, memastikan anak anak tetap bersekolah, serta mempertahankan kehidupan sosial yang selama ini menjadi bagian dari identitas kampung adat tersebut.
Kebakaran yang melanda Kampung Adat Sade pada akhirnya menjadi ujian besar bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Ratusan bangunan yang rusak harus dipulihkan, kebutuhan warga harus segera dipenuhi, sementara penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan. Di tengah kerugian yang besar, pembangunan kembali Sade dapat menjadi kesempatan untuk memulihkan kehidupan warga sekaligus memperkuat perlindungan terhadap warisan budaya dan keselamatan masyarakat di masa depan. (Redaksi)

