10 Agustus 2026 – Jembatan penyeberangan orang di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, yang sempat menjadi perhatian publik karena berdiri berdekatan tetapi tidak saling terhubung, segera memasuki babak akhir. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan membongkar salah satu jembatan yang dinilai sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan akses pejalan kaki saat ini. Nantinya, masyarakat akan diarahkan menggunakan satu JPO baru yang terhubung langsung dengan fasilitas LRT sehingga akses penyeberangan di kawasan tersebut menjadi lebih terintegrasi.
JPO yang akan dibongkar merupakan jembatan lama yang dibangun sebelum hadirnya JPO baru yang terhubung dengan Stasiun LRT. Kondisi dua jembatan yang berdiri berdekatan tersebut sempat menjadi perbincangan karena memiliki fungsi yang hampir sama, tetapi tidak memiliki koneksi langsung satu sama lain. Situasi itu membuat keberadaan dua fasilitas penyeberangan dalam satu kawasan dinilai kurang efisien dan menimbulkan pertanyaan mengenai perencanaan fasilitas publik di masa lalu.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai keputusan pembongkaran juga berkaitan dengan aspek aksesibilitas. JPO lama dianggap belum ramah bagi penyandang disabilitas karena memiliki perbedaan ketinggian dengan JPO baru. Jika kedua jembatan dipaksakan untuk disambungkan, perbedaan elevasi tersebut justru dapat menciptakan hambatan bagi pengguna dengan kebutuhan akses khusus.
Setelah pembongkaran dilakukan, hanya JPO baru yang terhubung dengan LRT yang akan dipertahankan dan digunakan sebagai fasilitas utama bagi pejalan kaki. Pemerintah juga berencana melakukan pengecekan serta perbaikan terhadap berbagai fasilitas yang tersedia di JPO tersebut, termasuk lift. Langkah ini diharapkan membuat akses menuju fasilitas transportasi umum menjadi lebih mudah, aman, dan dapat digunakan oleh lebih banyak kalangan.
Rencana tersebut sekaligus menjadi upaya untuk menata kembali fasilitas pejalan kaki di kawasan Rasuna Said. Dengan hanya mempertahankan satu JPO, ruang di sekitar koridor jalan dapat dibuat lebih tertata dan masyarakat tidak lagi dihadapkan pada dua fasilitas dengan fungsi serupa. Integrasi dengan LRT juga dinilai penting karena kawasan Rasuna Said merupakan salah satu koridor dengan aktivitas transportasi dan mobilitas masyarakat yang cukup tinggi.
Proses pembongkaran diperkirakan berlangsung sekitar dua hingga tiga pekan setelah tahapan administrasi dan lelang selesai. Pemerintah menargetkan pekerjaan tersebut dapat diselesaikan pada September atau paling lambat Oktober 2026. Pembongkaran akan dilakukan pada malam hari untuk meminimalkan dampaknya terhadap aktivitas lalu lintas di Jalan HR Rasuna Said yang menjadi salah satu jalur penting di Jakarta Selatan.
Pemerintah juga memastikan pekerjaan tersebut direncanakan agar tidak mengganggu kelancaran arus kendaraan. Pelaksanaan pada malam hari menjadi salah satu strategi untuk mengurangi potensi kepadatan selama proses pembongkaran berlangsung. Meski demikian, pengaturan teknis di lapangan tetap diperlukan agar aktivitas pekerjaan tidak menimbulkan gangguan terhadap pengguna jalan maupun pejalan kaki.
Rencana penghapusan JPO lama mendapat dukungan dari sejumlah warga yang beraktivitas di sekitar kawasan tersebut. Sebagian warga menilai keberadaan JPO baru yang sudah terhubung dengan LRT membuat fungsi JPO lama semakin berkurang. Mereka berharap pembongkaran dapat dilakukan sesuai target waktu sehingga tidak menjadi pekerjaan yang berkepanjangan dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat.
Selain persoalan fungsi, keberadaan satu JPO juga dinilai dapat membuat tampilan kawasan menjadi lebih rapi. JPO baru yang terhubung dengan LRT diharapkan menjadi jalur utama bagi masyarakat yang ingin menyeberang sekaligus mengakses moda transportasi umum. Dengan demikian, pembongkaran JPO lama bukan sekadar menghilangkan fasilitas yang dianggap tidak lagi optimal, tetapi juga menjadi bagian dari penataan akses transportasi dan ruang publik di kawasan strategis Jakarta Selatan. (Redaksi)

