30 Juli 2026 – Musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir menghadirkan pemandangan langka di Kabupaten Lebak, Banten. Permukaan air Bendungan Karian yang terus menyusut membuat sebuah kampung yang selama ini berada di dasar genangan kembali terlihat. Deretan rumah yang telah lama ditinggalkan muncul ke permukaan, menghadirkan jejak masa lalu sekaligus membangkitkan kenangan bagi warga yang pernah tinggal di kawasan tersebut.
Kampung Somang yang berada di Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, merupakan salah satu permukiman yang terdampak pembangunan Bendungan Karian. Sejak kawasan itu tergenang, seluruh aktivitas masyarakat berpindah ke lokasi baru dan kampung tersebut tidak lagi dihuni. Kini, ketika debit air mengalami penurunan akibat kemarau panjang, sisa bangunan rumah, jalan lingkungan, hingga berbagai struktur permukiman kembali terlihat dengan jelas di atas permukaan air.
Untuk mencapai lokasi kampung yang muncul kembali itu, pengunjung harus menuju area belakang Bendungan Karian melalui wilayah Sajira. Dari titik tersebut tersedia Dermaga Somang yang menjadi tempat penyeberangan menggunakan rakit. Sarana sederhana itu hingga kini masih menjadi akses utama masyarakat yang hendak menyeberang menuju wilayah seberang maupun menuju kawasan sekitar Rangkasbitung. Aktivitas penyeberangan tetap berlangsung setiap hari meskipun kondisi air bendungan terus mengalami penyusutan.
Pemandangan di Kampung Somang memperlihatkan bangunan yang telah mengalami kerusakan akibat bertahun tahun terendam air. Sebagian besar rumah sudah kehilangan atap, sementara dindingnya mulai rapuh dan runtuh di beberapa bagian. Meski demikian, struktur ruangan di sejumlah bangunan masih dapat dikenali. Bekas dapur, kamar mandi, hingga pembagian ruang di dalam rumah masih tampak jelas sehingga memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat yang dahulu pernah berlangsung di tempat tersebut.
Jarak antarrumah yang saling berdekatan menunjukkan bahwa Kampung Somang dulunya merupakan permukiman yang cukup padat. Kini suasana berubah drastis menjadi sunyi tanpa penghuni. Tidak terdengar lagi aktivitas warga maupun suara anak anak yang bermain seperti dahulu. Yang tersisa hanyalah bangunan kosong yang perlahan dimakan waktu dan menjadi saksi bisu perubahan besar akibat pembangunan bendungan.
Meskipun sempat ramai diperbincangkan di media sosial, lokasi ini belum menjadi tujuan wisata yang ramai dikunjungi. Sebagian besar orang yang datang merupakan warga dari desa sekitar atau mantan penduduk Kampung Somang yang ingin mengenang kampung halaman mereka. Ada pula masyarakat yang memanfaatkan kawasan tersebut untuk mencari ikan ketika permukaan air sedang surut sehingga aktivitas di sekitar kampung tetap berlangsung meski dalam skala terbatas.
Bagi para mantan warga, kemunculan kembali Kampung Somang bukan sekadar fenomena alam, melainkan juga perjalanan emosional yang mengingatkan mereka pada kehidupan sebelum kawasan itu berubah menjadi bendungan. Banyak kenangan yang tersimpan di setiap sudut kampung, mulai dari aktivitas bertani, mencari pasir, hingga kebersamaan dengan tetangga. Salah satu bangunan yang masih dapat dikenali adalah Masjid Al Mujahidin, yang kini hanya menyisakan bagian menara dan kubah berwarna biru yang menjulang di atas permukaan air.
Warga setempat menyebut kemarau tahun ini menjadi momen pertama ketika Kampung Somang dapat terlihat hampir secara utuh sejak bendungan mulai beroperasi. Pada musim kemarau sebelumnya, hanya sebagian kecil bangunan yang muncul di permukaan. Penyusutan volume air selama kurang lebih tiga bulan terakhir membuat lebih banyak area permukiman lama terlihat, sehingga memperlihatkan kondisi kampung secara lebih jelas dibandingkan tahun tahun sebelumnya.
Fenomena ini menjadi pengingat tentang perubahan lanskap yang terjadi akibat pembangunan infrastruktur berskala besar. Di satu sisi, Bendungan Karian memiliki peran penting dalam mendukung penyediaan air baku, pengendalian banjir, dan irigasi. Namun di sisi lain, keberadaannya juga menyimpan kisah perpindahan masyarakat dan jejak sebuah kampung yang kini hanya sesekali muncul ke permukaan ketika musim kemarau mencapai puncaknya. (Redaksi)

