Seperempat Pekerja Indonesia Terjebak Jam Kerja Berlebih, Ancaman Serius bagi Kesehatan Mengintai

25 Juli 2026 – Budaya bekerja hingga larut malam dan menghabiskan waktu berjam-jam di tempat kerja masih menjadi kenyataan bagi jutaan pekerja di Indonesia. Di tengah tuntutan produktivitas dan tekanan ekonomi, tidak sedikit karyawan yang rela mengorbankan waktu istirahat maupun kehidupan pribadinya demi menyelesaikan pekerjaan. Padahal, kebiasaan bekerja secara berlebihan atau overwork bukan sekadar persoalan jam kerja yang panjang, tetapi juga dapat memicu berbagai gangguan kesehatan fisik maupun mental apabila terus berlangsung dalam jangka waktu lama.

Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2025 menunjukkan bahwa sebanyak 25,47 persen penduduk yang bekerja menghabiskan waktu lebih dari 49 jam setiap pekan. Dengan jumlah pekerja di Indonesia mencapai sekitar 146,54 juta orang, berarti puluhan juta pekerja menjalani aktivitas kerja yang melampaui durasi kerja normal. Sementara itu, kelompok pekerja terbesar, yakni 40,43 persen, bekerja selama 35 hingga 48 jam per minggu. Adapun pekerja dengan durasi kerja 1 sampai 34 jam per minggu mencapai 32,68 persen dari total tenaga kerja nasional.

Jika ditinjau berdasarkan jenis kelamin, pekerja laki-laki lebih banyak menjalani jam kerja yang panjang dibandingkan perempuan. Sebanyak 28,50 persen pekerja laki-laki bekerja lebih dari 49 jam per minggu, sedangkan pekerja perempuan dengan durasi kerja serupa tercatat sebesar 20,91 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa beban kerja berlebih masih lebih banyak dialami oleh pekerja pria, meski perempuan juga menghadapi risiko yang tidak sedikit.

Di Indonesia, ketentuan mengenai jam kerja telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang diperjelas melalui Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021. Aturan tersebut menetapkan dua pola kerja, yaitu tujuh jam per hari atau 40 jam per minggu untuk enam hari kerja dengan satu hari libur, serta delapan jam per hari atau 40 jam per minggu untuk lima hari kerja dengan dua hari libur. Meski regulasi telah menetapkan batasan tersebut, praktik di lapangan masih memperlihatkan banyak pekerja yang harus bekerja jauh melampaui ketentuan.

Istilah overwork menggambarkan kondisi ketika seseorang bekerja melebihi kemampuan fisik maupun mentalnya. Situasi ini terjadi ketika pekerjaan dilakukan terlalu lama, terlalu sering, atau dengan beban yang melampaui kapasitas individu. Akibatnya, tubuh dan pikiran mengalami tekanan yang terus menerus hingga memicu kelelahan kronis, stres berkepanjangan, bahkan burnout. Meski demikian, pengalaman setiap orang terhadap overwork dapat berbeda karena dipengaruhi kondisi pekerjaan, lingkungan kerja, dan kemampuan masing-masing individu.

Bagi pekerja penuh waktu, overwork sering kali ditandai dengan meningkatnya beban pekerjaan yang memaksa mereka tetap bekerja pada malam hari atau akhir pekan demi memenuhi target. Sementara itu, pekerja paruh waktu, pekerja shift, maupun mereka yang memiliki lebih dari satu pekerjaan juga berisiko mengalami kondisi serupa apabila tanggung jawab yang diemban sudah melampaui batas kemampuan. Bahkan, tekanan berlebihan juga dapat dialami oleh pelajar atau individu yang mengurus pekerjaan rumah tangga ketika tuntutan aktivitas sehari-hari tidak lagi seimbang dengan waktu istirahat.

Para ahli menilai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi merupakan faktor penting untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh. Ketika pekerjaan mulai mengganggu kehidupan sosial, waktu bersama keluarga, atau kesempatan merawat diri sendiri, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa seseorang perlu mengevaluasi pola kerjanya. Menetapkan batas yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi langkah penting agar produktivitas tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kesehatan.

Overwork biasanya diawali dengan sejumlah tanda yang sering kali diabaikan. Seseorang dapat mengalami peningkatan stres dan kecemasan, kehilangan motivasi terhadap pekerjaan maupun aktivitas yang sebelumnya disukai, hingga mengalami burnout. Produktivitas justru menurun meski waktu kerja semakin panjang. Selain itu, hubungan dengan keluarga, pasangan, rekan kerja, maupun teman dapat memburuk karena perhatian dan energi terkuras untuk pekerjaan. Kesulitan tidur, kelelahan berkepanjangan, serta sulit melepaskan pikiran dari urusan pekerjaan juga menjadi gejala yang umum muncul.

Dampak overwork tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai gangguan fisik. Kondisi ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga seseorang lebih mudah terserang penyakit. Risiko gangguan psikologis seperti depresi juga meningkat, disertai penurunan fungsi kognitif yang menyebabkan sulit berkonsentrasi atau mengalami brain fog. Selain itu, tekanan darah tinggi, jantung berdebar, gangguan tidur, perubahan berat badan, pola makan yang tidak sehat, hingga meningkatnya risiko kecelakaan kerja menjadi konsekuensi yang dapat muncul apabila tubuh terus dipaksa bekerja tanpa pemulihan yang memadai.

Para pakar mengibaratkan tubuh manusia seperti kendaraan yang membutuhkan bahan bakar agar dapat berfungsi dengan baik. Ketika cadangan energi fisik dan emosional terus dikuras tanpa kesempatan untuk beristirahat, performa tubuh akan menurun dan berbagai masalah kesehatan mulai bermunculan. Oleh karena itu, menjaga waktu tidur, berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, serta meluangkan waktu untuk beristirahat merupakan bagian penting dalam mencegah dampak buruk akibat bekerja secara berlebihan.

Apabila berbagai upaya untuk menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi tidak membuahkan hasil, kondisi tersebut bisa menjadi pertanda adanya lingkungan kerja yang tidak sehat. Dalam situasi seperti ini, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional di bidang kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat. Pendampingan profesional dapat membantu seseorang mengelola tekanan kerja, menyusun strategi menghadapi beban pekerjaan, hingga menemukan cara yang lebih sehat dalam menyelesaikan tugas tanpa mengorbankan kesejahteraan fisik maupun emosional. Perawatan diri bukanlah bentuk sikap egois, melainkan investasi penting agar kesehatan tetap terjaga dan produktivitas dapat dipertahankan dalam jangka panjang. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *