Jakarta, 4 Agustus 2025 – Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Didiek Hartantyo, memaparkan bahwa pengalaman krisis menjadi fondasi dalam membangun visi kepemimpinan yang kokoh di KAI. Hal ini ia sampaikan dalam kegiatan KAI Leadership Forum 2025, yang menghadirkan refleksi mendalam tentang perjalanan transformasi perusahaan.
Menurut Didiek, krisis pandemi COVID-19 adalah titik balik bagi KAI dalam memahami makna kepemimpinan. Ia menyebutkan bahwa saat menghadapi ketidakpastian ekstrem, pemimpin dituntut untuk tidak hanya tangguh secara operasional, tetapi juga jernih dalam melihat makna dan tujuan dari setiap keputusan.
“Kepemimpinan tidak bisa dibentuk di ruang yang steril. Ia tumbuh dari situasi krisis, dari keterbatasan, dan dari tekanan,” ujar Didiek Hartantyo dalam forum tersebut.
Didiek mengungkapkan bahwa saat pandemi melanda, KAI mengalami penurunan pendapatan hingga 75 persen, namun situasi tersebut justru menjadi medan pembelajaran dan pemurnian nilai-nilai kepemimpinan. Ia menekankan bahwa makna menjadi kunci dalam memimpin di tengah krisis.
Lebih lanjut, Didiek menjelaskan bahwa melalui krisis, KAI berupaya menemukan kembali identitas perusahaannya dan menegaskan kembali peran sosialnya dalam melayani masyarakat. Ia menyebutkan bahwa pemimpin yang baik harus bisa membawa organisasinya kembali pada tujuan hakiki yang lebih besar dari sekadar keuntungan finansial.
“Dalam setiap krisis, selalu ada pilihan: tenggelam atau bangkit. Kami memilih bangkit dengan membawa visi baru yang lahir dari pengalaman tersebut,” kata Didiek.
Ia juga mengajak seluruh pemimpin di lingkungan KAI untuk merefleksikan setiap momen sulit sebagai kesempatan untuk memperkuat karakter dan memperdalam pemaknaan. Menurutnya, pemimpin sejati bukan hanya menyelamatkan institusi, tapi juga memperkaya makna di tengah kesulitan.
Didiek menekankan bahwa nilai-nilai seperti integritas, keberanian, dan ketulusan menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan. Ia yakin bahwa ketika visi kepemimpinan dibangun di atas pengalaman nyata, maka akan lahir kebijakan yang relevan dan berdampak luas.
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa KAI kini terus memperkuat kapasitas kepemimpinan di semua level, dengan memberikan ruang refleksi dan dialog makna bagi para pemimpin internal. Visi tersebut, menurut Didiek, akan menjadikan KAI lebih siap menghadapi masa depan.
“Pemimpin yang lahir dari krisis akan membawa harapan baru. Karena mereka tahu betapa berharganya stabilitas, kerja sama, dan keberanian untuk terus bergerak maju,” tutup Didiek. (Redaksi)

