3 Juni 2026 – Duka mendalam masih menyelimuti warga Kabupaten Biak Numfor, Papua, setelah ledakan dahsyat yang diduga berasal dari bom sisa Perang Dunia II merenggut nyawa sejumlah warga. Jumlah korban meninggal dunia dalam peristiwa tragis tersebut kembali bertambah setelah satu korban yang sempat menjalani perawatan intensif dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit. Hingga kini, total korban tewas tercatat mencapai enam orang, sementara proses pencarian terhadap sejumlah warga yang masih hilang terus dilakukan.

Peristiwa memilukan itu terjadi di kawasan Kompleks Perikanan, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, pada Minggu, 31 Mei 2026. Ledakan yang diduga berasal dari bahan peledak peninggalan masa perang tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan belasan warga mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

Korban terbaru yang meninggal dunia diketahui bernama Mina Puadi, 51 tahun. Sebelumnya, ia sempat dinyatakan mengalami luka ringan dan mendapatkan penanganan medis. Namun, setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan perawatan intensif di rumah sakit, kondisi kesehatannya dilaporkan memburuk hingga akhirnya meninggal dunia pada Selasa dini hari.

Dengan bertambahnya korban tersebut, jumlah korban tewas kini mencapai enam orang. Sebelumnya, lima korban yang lebih dahulu dinyatakan meninggal dunia adalah Deflin Raubaba (41), Moris Raubaba (24), Karmila Ayorbaba (25), Israel Raubaba (7), dan Isril Raubaba (5).

Belasan Warga Terluka Akibat Ledakan

Selain korban meninggal dunia, insiden tersebut juga menyebabkan sedikitnya 19 orang mengalami luka-luka. Para korban mendapatkan perawatan medis di fasilitas kesehatan setempat setelah mengalami berbagai cedera akibat ledakan.

Besarnya jumlah korban menunjukkan kuatnya daya ledak yang ditimbulkan oleh benda yang diduga merupakan amunisi aktif peninggalan perang. Ledakan itu tidak hanya berdampak pada orang-orang yang berada sangat dekat dengan lokasi kejadian, tetapi juga menimbulkan kepanikan di kawasan sekitar.

Petugas kesehatan bersama aparat keamanan langsung bergerak cepat untuk melakukan evakuasi terhadap para korban. Sejumlah korban yang mengalami luka serius harus menjalani perawatan lanjutan guna memastikan kondisi mereka tetap stabil.

Tiga Warga Masih Dalam Pencarian

Di tengah upaya penanganan korban, tim gabungan masih menghadapi tantangan lain, yakni pencarian tiga warga yang dilaporkan hilang setelah ledakan terjadi. Ketiga warga tersebut adalah Yulianus Raubaba (26), Lae Madura (45), dan Abis Marandof (27).

Hingga kini, tim pencarian dan pertolongan terus menyisir sejumlah area di sekitar lokasi kejadian untuk menemukan keberadaan mereka. Operasi pencarian dilakukan dengan sangat hati-hati mengingat kawasan tersebut masih dianggap berisiko akibat kemungkinan adanya bahan peledak lain yang belum terdeteksi.

Fokus pencarian sementara diarahkan ke wilayah pinggir pantai dan area luar lokasi ledakan. Langkah ini dilakukan untuk menghindari risiko tambahan bagi petugas yang terlibat dalam operasi pencarian.

Lokasi Ledakan Masih Disterilisasi

Proses investigasi secara menyeluruh terhadap penyebab ledakan belum dapat dilakukan karena lokasi kejadian masih dalam tahap sterilisasi. Tim penjinak bom dari kepolisian masih bekerja untuk memastikan tidak ada lagi bahan peledak aktif yang tersisa di area tersebut.

Sterilisasi menjadi tahap krusial sebelum penyidik dan tim laboratorium forensik dapat memasuki lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara. Langkah tersebut diperlukan guna menjamin keselamatan seluruh personel yang bertugas sekaligus menjaga keutuhan barang bukti yang mungkin ditemukan di lapangan.

Setelah kawasan dinyatakan aman, tim forensik akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengidentifikasi jenis bahan peledak, sumber ledakan, serta kronologi pasti yang menyebabkan terjadinya insiden mematikan tersebut.

Ancaman Bom Peninggalan Perang yang Masih Mengintai

Biak merupakan salah satu wilayah yang memiliki sejarah panjang terkait Perang Dunia II. Pada masa perang, kawasan ini menjadi lokasi pertempuran besar antara pasukan Sekutu dan Jepang. Akibatnya, hingga kini masih ditemukan berbagai peninggalan militer berupa amunisi, bom, granat, hingga perlengkapan perang lainnya yang terkubur di sejumlah lokasi.

Meski perang telah berakhir puluhan tahun lalu, keberadaan sisa-sisa bahan peledak tersebut masih menjadi ancaman nyata bagi masyarakat. Dalam beberapa kasus, benda-benda yang tampak tidak berbahaya ternyata masih aktif dan dapat meledak sewaktu-waktu apabila dipindahkan, dibongkar, atau terkena benturan tertentu.

Peristiwa yang terjadi di Biak kembali menjadi pengingat penting mengenai bahaya bahan peledak peninggalan perang yang masih tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Masyarakat diimbau untuk segera melapor kepada aparat apabila menemukan benda mencurigakan yang diduga merupakan amunisi atau perlengkapan militer lama, serta tidak mencoba memindahkan atau membongkarnya sendiri.

Sementara itu, keluarga korban masih menanti kepastian terkait nasib anggota keluarga yang belum ditemukan. Di tengah proses pencarian dan penyelidikan yang masih berlangsung, duka mendalam terus dirasakan warga Biak atas tragedi yang telah merenggut nyawa enam orang dan melukai belasan lainnya. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *