15 Juni 2026 – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak hanya mengubah dunia kerja, tetapi juga mulai merombak sistem pendidikan tinggi secara besar-besaran. Dalam beberapa tahun terakhir, universitas di China melakukan transformasi akademik yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menutup ribuan program studi yang dianggap tidak lagi sesuai kebutuhan industri modern. Sebagai gantinya, kampus-kampus membuka jurusan baru yang berfokus pada AI, robotika, data, dan berbagai teknologi masa depan yang diperkirakan akan mendominasi pasar kerja dalam beberapa dekade mendatang.
Perubahan besar tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah China untuk menyelaraskan dunia pendidikan dengan kebutuhan ekonomi dan industri yang terus berkembang. Selain itu, langkah ini juga ditujukan untuk mengurangi kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia kerja. Dalam kurun waktu 2021 hingga 2025, tercatat sekitar 12.200 program sarjana dihentikan atau tidak lagi menerima mahasiswa baru. Pada periode yang sama, lebih dari 10.000 program studi baru dibuka. Angka tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen jurusan di perguruan tinggi China mengalami perubahan dalam waktu hanya lima tahun.
Bidang yang paling banyak terdampak berasal dari kelompok seni, humaniora, bahasa asing, dan manajemen. Jurusan-jurusan tersebut dinilai mengalami kejenuhan pasar dan menghadapi tantangan besar akibat kemajuan teknologi digital. Banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan keterampilan khusus kini mulai terbantu atau bahkan digantikan oleh sistem berbasis AI. Akibatnya, sejumlah universitas memilih mengalihkan sumber daya mereka ke bidang studi yang dianggap memiliki prospek lebih kuat di masa depan.
Sebaliknya, program studi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan berkembang pesat. Salah satu bidang yang mendapat perhatian besar adalah embodied intelligence, yaitu disiplin ilmu yang menggabungkan AI dengan robot atau mesin fisik yang mampu berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitarnya. Jurusan ini dianggap sebagai salah satu fondasi utama bagi perkembangan industri robotika generasi berikutnya. Sejumlah universitas ternama di China bahkan telah membuka program khusus untuk mempersiapkan tenaga ahli di bidang tersebut.
Transformasi ini terlihat jelas di salah satu universitas media dan seni terkemuka di Beijing. Kampus tersebut menutup beberapa jurusan seni tradisional seperti fotografi, komik, desain komunikasi visual, seni media baru, dan desain fesyen. Sebagai pengganti, mereka menghadirkan program studi baru yang mengintegrasikan unsur kreativitas dengan teknologi, termasuk bidang pencitraan cerdas, rekayasa audiovisual berbasis AI, serta desain kreatif berbasis teknologi pintar.
Pihak kampus menilai bahwa masa depan dunia kreatif akan ditandai oleh kolaborasi antara manusia dan mesin. Menurut pandangan tersebut, kemampuan memanfaatkan teknologi akan menjadi nilai tambah yang sangat penting bagi para lulusan. Dalam konteks fotografi misalnya, perkembangan perangkat digital dan AI membuat hampir setiap orang dapat menghasilkan konten visual dengan mudah. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan dinilai perlu berubah agar lebih relevan dengan kebutuhan industri kreatif modern.
Tidak hanya jurusan seni yang mengalami perombakan. Beberapa program studi bahasa dan penerjemahan juga mulai ditinjau ulang. Kemampuan AI dalam menerjemahkan berbagai bahasa secara cepat dan akurat membuat sejumlah akademisi mempertanyakan efektivitas pembukaan program studi khusus yang berfokus pada bahasa tertentu selama empat tahun penuh. Meski pandangan tersebut memicu perdebatan, banyak pihak sepakat bahwa teknologi telah mengubah lanskap profesi secara signifikan.
Fenomena serupa juga terjadi di berbagai universitas lain di China. Sejumlah kampus diketahui menghentikan penerimaan mahasiswa baru untuk program sastra film, penyiaran, penyutradaraan, animasi, dan beberapa bidang kreatif lainnya. Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahun, sementara persaingan di pasar kerja menjadi semakin ketat. Tingkat pengangguran di kalangan generasi muda yang masih relatif tinggi turut mendorong pemerintah dan institusi pendidikan untuk melakukan penyesuaian yang lebih agresif.
Menariknya, banyak mahasiswa tidak merasa terkejut dengan perubahan tersebut. Sejak beberapa tahun terakhir, teknologi AI sudah mulai diperkenalkan dalam berbagai proses pembelajaran. Mahasiswa di bidang kreatif bahkan telah menggunakan AI sebagai alat bantu untuk menghasilkan karya, melakukan riset, hingga mengembangkan ide baru. Bagi mereka, AI bukan ancaman yang menghapus kreativitas manusia, melainkan sarana baru yang dapat memperluas kemungkinan dalam berkarya.
Di sisi lain, sejumlah pakar pendidikan mengingatkan bahwa transformasi kurikulum harus dilakukan secara hati-hati. Mereka menilai universitas tidak bisa terus-menerus menutup satu jurusan lalu membuka jurusan lain setiap kali muncul teknologi baru. Sistem pendidikan yang ideal adalah yang mampu beradaptasi secara fleksibel tanpa mengorbankan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kompetensi dasar yang tetap dibutuhkan di berbagai bidang pekerjaan.
Apa yang terjadi di China menjadi gambaran nyata bahwa kecerdasan buatan kini telah memasuki fase yang lebih dalam dari sekadar alat pendukung produktivitas. Teknologi ini mulai memengaruhi cara universitas menyusun kurikulum, menentukan jurusan, hingga mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan. Di tengah perubahan tersebut, tantangan terbesar bukan hanya menguasai teknologi, tetapi juga memastikan bahwa manusia tetap menjadi pusat inovasi dan kreativitas dalam era kolaborasi dengan mesin. (Redaksi)

