21 April 2026 – Suasana haru dan khidmat menyelimuti Masjid Nurul Hidayah saat keluarga, sahabat, dan kerabat berkumpul untuk memperingati 40 hari wafatnya Vidi Aldiano. Momen ini bukan hanya menjadi ajang doa bersama, tetapi juga ruang untuk mengenang sosok yang selama hidupnya dikenal penuh kehangatan dan kedekatan dengan banyak orang.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Habib Ja’far yang memberikan tausiah sekaligus berbagi kenangan pribadinya bersama almarhum. Dalam penyampaiannya, ia menggambarkan Vidi sebagai pribadi yang selalu berusaha hadir bagi orang-orang di sekitarnya, terutama sahabat dekat.
Menurutnya, salah satu karakter paling menonjol dari Vidi adalah kepedulian yang tulus. Ia tidak hanya menjaga hubungan pertemanan, tetapi juga berusaha hadir secara nyata dalam berbagai momen penting orang lain. Sikap inilah yang membuat Vidi dikenal luas sebagai figur yang dekat dengan banyak kalangan.
Julukan sebagai sosok yang erat dengan persahabatan pun melekat pada dirinya. Kehadiran banyak pelayat dalam acara 40 harian ini, menurut Habib Ja’far, menjadi bukti nyata dari hubungan yang telah dibangun Vidi semasa hidup. Apa yang ia tanam dalam bentuk kebaikan dan perhatian kini kembali dalam bentuk doa yang terus mengalir.
Tradisi doa bersama seperti tahlil yang digelar dalam peringatan ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus harapan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik. Bagi keluarga dan sahabat, kehadiran dalam acara tersebut merupakan cara untuk tetap terhubung, meski secara fisik telah berpisah.
Habib Ja’far juga mengenang awal perkenalannya dengan Vidi yang terjalin beberapa tahun sebelum kepergian sang penyanyi. Interaksi yang sering terjadi di sela-sela aktivitas pekerjaan membuatnya melihat langsung bagaimana karakter Vidi dalam keseharian.
Ia menggambarkan Vidi sebagai pribadi yang hangat dan mampu membawa suasana positif bagi orang di sekitarnya. Hal yang paling membekas baginya adalah sikap Vidi yang tetap tersenyum dan berusaha membahagiakan orang lain, meski tengah menghadapi kondisi kesehatan yang tidak mudah.
Dalam pandangannya, Vidi adalah sosok yang kuat secara batin. Ia memilih untuk menyimpan rasa sakitnya sendiri, namun tetap menunjukkan keceriaan di hadapan orang lain. Sikap ini dinilai sebagai bentuk ketulusan yang jarang dimiliki banyak orang.
Peringatan 40 hari ini tidak hanya menjadi momen refleksi, tetapi juga pengingat tentang arti kehadiran dalam kehidupan. Sosok Vidi Aldiano dikenang bukan hanya karena karya, tetapi juga karena cara ia memperlakukan orang lain dengan penuh empati dan ketulusan.
Di tengah lantunan doa yang mengalun, satu hal yang terasa jelas adalah bahwa kepergian tidak memutus hubungan. Kenangan, kebaikan, dan doa menjadi jembatan yang terus menghubungkan mereka yang ditinggalkan dengan sosok yang telah pergi. (Redaksi)

