26 Mei 2026 – Warga di sejumlah wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara dikejutkan oleh guncangan gempa yang terjadi pada dini hari. Saat sebagian masyarakat masih beristirahat, getaran tiba-tiba terasa dan memicu perhatian warga di beberapa daerah. Gempa berkekuatan magnitudo 5,7 itu diketahui berpusat di wilayah laut tenggara Bitung, Sulawesi Utara.
Peristiwa gempa tersebut terjadi pada Selasa dini hari sekitar pukul 03.39 WIB. Berdasarkan data awal pemantauan aktivitas seismik, gempa berasal dari pusat aktivitas bawah laut dengan kedalaman relatif dangkal, yakni sekitar 22 kilometer.
Lokasi episentrum tercatat berada sekitar 125 kilometer di tenggara Bitung. Titik koordinat gempa berada pada 1,06 lintang utara dan 126,19 bujur timur, menunjukkan sumber gempa berasal dari wilayah perairan.
Karena pusat gempa berada di laut, guncangan tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi episentrum, tetapi juga menyebar hingga sejumlah daerah lain di kawasan timur Indonesia.
Laporan dari sejumlah wilayah menunjukkan bahwa getaran terasa di beberapa kota, termasuk Ternate, Manado, dan Tondano. Meski tidak menimbulkan guncangan yang sangat kuat, warga mengaku dapat merasakan getaran secara cukup jelas di dalam rumah.
Berdasarkan skala intensitas gempa, getaran yang dirasakan masuk kategori Modified Mercalli Intensity atau MMI III. Pada tingkat tersebut, guncangan umumnya mulai dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat, terutama mereka yang berada di dalam bangunan.
Pada skala MMI III, getaran biasanya digambarkan seperti sensasi adanya kendaraan berat atau truk besar yang melintas di dekat rumah. Benda-benda ringan yang digantung terkadang dapat bergoyang, sementara sebagian orang mulai menyadari adanya aktivitas seismik yang sedang terjadi.
Meskipun intensitasnya tidak tergolong merusak, gempa yang terjadi pada waktu dini hari sering kali menimbulkan kepanikan lebih besar. Kondisi masyarakat yang sedang tertidur membuat guncangan mendadak terasa lebih mengejutkan.
Hingga saat ini, belum terdapat laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban akibat peristiwa tersebut. Situasi di sejumlah daerah juga dilaporkan tetap kondusif setelah gempa terjadi.
Meski demikian, masyarakat di wilayah yang merasakan getaran tetap diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi terkait perkembangan aktivitas gempa.
Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan tingkat aktivitas seismik tertinggi di dunia. Posisi geografis yang berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik besar membuat wilayah Indonesia sangat rentan terhadap aktivitas gempa bumi.
Sulawesi dan kawasan timur Indonesia termasuk wilayah yang memiliki kompleksitas struktur geologi cukup tinggi. Aktivitas pergerakan lempeng dan keberadaan sejumlah sesar aktif menjadikan kawasan tersebut cukup sering mengalami guncangan dengan berbagai skala kekuatan.
Karena itu, gempa bumi menjadi fenomena yang relatif sering terjadi di wilayah tersebut. Meski sebagian besar gempa tidak menimbulkan dampak besar, kewaspadaan masyarakat tetap menjadi hal penting.
Di tengah perkembangan teknologi dan sistem pemantauan yang semakin canggih, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi. Informasi resmi dari lembaga terkait tetap menjadi acuan utama agar masyarakat memperoleh data yang akurat.
Sementara itu, pemantauan terhadap aktivitas gempa masih terus dilakukan guna memastikan tidak ada perkembangan lanjutan yang perlu diwaspadai. Warga di wilayah terdampak juga diharapkan tetap tenang dan tetap memperhatikan langkah mitigasi kebencanaan apabila terjadi gempa susulan. (Redaksi)

