7 Juni 2026 – Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi Supriyono untuk terus berkarya dan meraih kemandirian ekonomi. Penyandang disabilitas asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah, itu berhasil membuktikan bahwa semangat belajar dan kerja keras mampu mengubah hidup seseorang. Kini, usaha jahit yang dulu sempat membuatnya minder justru menjadi sumber penghasilan utama untuk menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan anaknya.

Perjalanan Supriyono menuju kesuksesan tidaklah mudah. Pria yang mengalami disabilitas fisik akibat polio tersebut mengaku pernah merasa kurang percaya diri dengan profesi penjahit. Bahkan pada awalnya, ia berusaha menghindari pekerjaan yang berkaitan dengan dunia jahit-menjahit karena menganggap profesi tersebut bukan pilihan yang diinginkannya.

Namun seiring berjalannya waktu, pandangannya mulai berubah. Berbagai pengalaman hidup membawanya mengenal lebih dekat dunia konveksi dan keterampilan menjahit yang kemudian menjadi jalan hidupnya hingga saat ini.

Belajar dari Nol di Dunia Konveksi

Langkah awal Supriyono dimulai pada tahun 2010 ketika ia bekerja di sebuah usaha konveksi di Kabupaten Kudus. Di tempat tersebut, ia mendapatkan kesempatan untuk mempelajari berbagai teknik menjahit dari para pekerja yang lebih berpengalaman.

Setiap hari, ia mengamati proses pembuatan pakaian, mempelajari pola, hingga memahami berbagai detail pekerjaan yang dibutuhkan dalam industri konveksi. Perlahan namun pasti, kemampuan menjahitnya terus berkembang.

Meski telah memiliki keterampilan tersebut, Supriyono belum sepenuhnya yakin menjadikan menjahit sebagai profesi utama. Ia sempat mencoba pekerjaan lain sebagai tenaga administrasi dan mengerjakan desain infografis menggunakan perangkat lunak AutoCAD selama sekitar satu tahun.

Pengalaman bekerja di berbagai bidang akhirnya membuatnya menyadari bahwa keterampilan menjahit yang dimiliki merupakan aset berharga yang dapat menjadi modal untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Dukungan Pelatihan Jadi Titik Balik Kehidupan

Perubahan besar dalam hidup Supriyono terjadi ketika ia memperoleh kesempatan mengikuti program rehabilitasi sosial dan pelatihan vokasional menjahit yang difasilitasi oleh Kementerian Sosial melalui Sentra Margo Laras Pati.

Sejak tahun 2021, ia mengikuti pelatihan intensif selama enam bulan. Program tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis menjahit, tetapi juga membantu membangun rasa percaya diri yang selama ini menjadi tantangan terbesar bagi dirinya.

Pelatihan tersebut memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai pengelolaan usaha, peningkatan kualitas hasil jahitan, hingga strategi melayani pelanggan dengan baik. Dari sinilah keyakinannya untuk membuka usaha sendiri semakin kuat.

Bekal keterampilan dan semangat baru itu kemudian melahirkan usaha jahit yang diberi nama Kaxyon Tailor.

Melayani Beragam Pesanan hingga Seragam Instansi

Saat ini, usaha yang dirintis Supriyono terus berkembang. Ia menerima berbagai jenis pesanan, mulai dari permak pakaian, pembuatan celana dan kemeja, hingga seragam dalam jumlah besar.

Pelanggannya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum hingga instansi. Tidak jarang ia menerima pesanan seragam sekolah, seragam puskesmas, maupun pakaian untuk keperluan hajatan warga.

Dalam satu proyek, Supriyono mampu mengerjakan pesanan seragam untuk 15 hingga 20 orang. Sebagian besar pesanan yang masuk merupakan pakaian pria yang membutuhkan ketelitian dalam pengerjaannya.

Untuk jasa pembuatan celana panjang, misalnya, ia mematok tarif berkisar antara Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per potong, tergantung tingkat kesulitan dan model yang diinginkan pelanggan.

Konsistensi menjaga kualitas jahitan membuat pelanggan terus berdatangan dan mempercayakan kebutuhan mereka kepada usahanya.

Mampu Menghidupi Keluarga dari Hasil Menjahit

Kerja keras yang dijalani selama bertahun-tahun kini membuahkan hasil nyata. Pendapatan dari usaha jahit mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya sekaligus membantu membiayai pendidikan anak.

Bagi Supriyono, keberhasilan tersebut bukan hanya soal peningkatan ekonomi, tetapi juga bukti bahwa penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk mandiri dan berkontribusi bagi masyarakat apabila mendapatkan dukungan yang tepat.

Perkembangan usahanya juga terlihat dari berbagai fasilitas penunjang yang kini dimiliki. Salah satunya adalah sepeda motor roda tiga yang digunakan untuk mendukung aktivitas usaha, mulai dari mengantar pesanan hingga memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari.

Inspirasi bagi Penyandang Disabilitas

Kisah Supriyono menjadi contoh bahwa keterbatasan fisik tidak harus membatasi mimpi dan potensi seseorang. Melalui keberanian untuk belajar, kemauan bekerja keras, serta dukungan pelatihan yang tepat, ia berhasil mengubah rasa minder menjadi sumber kekuatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Keberhasilannya juga menunjukkan pentingnya program pemberdayaan dan pelatihan keterampilan bagi penyandang disabilitas. Selain meningkatkan kemampuan kerja, program semacam itu mampu menumbuhkan rasa percaya diri sehingga mereka dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Kini, dari ruang jahit sederhana di Pati, Supriyono terus menorehkan kisah inspiratif. Setiap helai pakaian yang dijahitnya bukan sekadar produk, melainkan simbol perjuangan, ketekunan, dan semangat untuk terus berkarya tanpa menyerah pada keadaan. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *