24 April 2026 – Status sebagai penguasa kompetisi Eropa ternyata tidak menjamin stabilitas di liga domestik. Sevilla FC kini justru berada dalam situasi genting, berjuang menghindari degradasi dari LaLiga setelah serangkaian hasil buruk yang terus membayangi musim mereka.
Kekalahan terbaru menjadi bukti nyata keterpurukan Los Nervionenses. Bertandang ke markas Levante UD, Sevilla harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor 0-2. Dua gol yang dicetak Ivan Romero tak mampu dibalas, sekaligus memperpanjang daftar hasil negatif yang mereka alami musim ini.
Hasil tersebut menambah catatan kelam Sevilla menjadi 16 kekalahan hingga pekan ke-32. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan indikator nyata bahwa performa tim jauh dari kata konsisten. Dengan hanya mengoleksi 34 poin, Sevilla kini terjebak di posisi ke-17 klasemen sementara, satu tingkat di atas zona degradasi.
Jarak poin yang tipis membuat tekanan semakin besar. Mereka hanya unggul satu angka dari Deportivo Alavés, dua poin dari Levante, serta enam poin dari Real Oviedo yang menghuni dasar klasemen. Situasi ini menjadikan setiap pertandingan sisa sebagai laga hidup dan mati bagi Sevilla.
Dengan enam pertandingan tersisa, tantangan yang menanti pun tidak ringan. Sevilla masih harus menghadapi tim-tim kompetitif seperti CA Osasuna, Real Sociedad, RCD Espanyol, Villarreal CF, Real Madrid CF, dan Celta de Vigo. Jadwal ini jelas bukan jalan mudah bagi tim yang tengah kehilangan kepercayaan diri.
Ironisnya, kondisi ini sangat kontras dengan reputasi Sevilla di pentas Eropa. Klub asal Andalusia tersebut dikenal sebagai raja UEFA Europa League dengan koleksi gelar terbanyak. Bahkan pada musim 2022 hingga 2023, mereka sukses meraih trofi ketujuh setelah mengalahkan AS Roma di partai final.
Namun, keberhasilan di Eropa tidak berjalan seiring dengan performa domestik. Setelah finis di posisi keempat pada musim 2021 hingga 2022, grafik Sevilla terus menurun. Mereka hanya mampu menutup musim 2022 hingga 2023 di peringkat ke-12, lalu turun lagi ke posisi ke-14 pada musim berikutnya. Tren negatif itu berlanjut hingga kini, bahkan membawa mereka ke ambang degradasi.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai arah klub ke depan. Masalah konsistensi, kedalaman skuad, hingga strategi permainan menjadi sorotan utama. Jika tidak segera menemukan solusi, bukan tidak mungkin Sevilla akan mencatat salah satu musim paling kelam dalam sejarah modern mereka.
Kini, enam laga tersisa akan menjadi penentu nasib. Apakah Sevilla mampu bangkit dan mempertahankan statusnya di kasta tertinggi sepak bola Spanyol, atau justru harus menerima kenyataan pahit turun kasta, sebuah skenario yang terasa hampir tak terbayangkan bagi klub dengan reputasi sebesar mereka. (Redaksi)

