Jakarta, 9 Agustus 2025 – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menggunakan teknologi sensor digital untuk mendeteksi getaran pada jembatan baja yang berusia lebih dari 90 tahun sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan dan stabilitas jalur kereta api.
“Transformasi prasarana ini bukan sekadar pembaruan teknis, tetapi fondasi untuk masa depan. Kami ingin memastikan setiap perjalanan pelanggan berlangsung aman, andal, dan didukung teknologi terkini,” kata Direktur Pengelolaan Prasarana KAI, Heru Kuswanto.
Heru menjelaskan bahwa sensor ini mampu memantau berbagai parameter penting seperti getaran, pergerakan tanah, dan suhu rel, yang sangat krusial untuk memastikan kondisi struktur jembatan tetap aman untuk dilalui.
Data dari sensor diolah dalam sistem peta digital tiga dimensi (3D), memudahkan teknisi melakukan analisis cepat dan mengambil tindakan preventif sebelum masalah menjadi serius.
Teknologi ini merupakan bagian dari digitalisasi pengoperasian dan perawatan infrastruktur yang mendorong efisiensi, keselamatan, dan peningkatan pendapatan perusahaan.
Selain penggunaan sensor, KAI juga melakukan penggantian bantalan sintetis dan peremajaan wesel untuk meningkatkan stabilitas jalur di area rawan.
KAI terus berkomitmen menerapkan prinsip Reliability, Availability, Maintainability, Safety, and Services (RAMSS) dalam setiap aspek pengelolaan prasarana.
“Setiap kilometer rel yang kami perbaiki adalah wujud komitmen untuk menghadirkan transportasi yang lebih cepat, ramah lingkungan, dan cerdas. Di balik keheningan rel, ada kerja kolaboratif, teknologi, dan visi yang kami jaga,” tutup Heru.
Penggunaan teknologi sensor digital ini diharapkan dapat mencegah gangguan operasional dan meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api di seluruh jaringan nasional. (Redaksi)

