1 Oktober 2026 – Harga berbagai kebutuhan pokok yang terus merangkak naik memicu kenaikan angka inflasi di wilayah DKI Jakarta pada September 2026. Komoditas daging ayam ras menjadi pemicu utama yang memberikan andil paling dominan terhadap laju inflasi bulanan di ibu kota. Pergerakan harga bahan pangan yang cukup signifikan ini sangat memengaruhi pengeluaran rumah tangga warga Jakarta di tengah kondisi perekonomian yang penuh tantangan.
Data resmi mencatat bahwa rata-rata harga daging ayam ras di wilayah Jakarta telah menyentuh angka Rp 45.306 per kilogram pada periode September 2026. Kenaikan harga pada komoditas ini mendorong inflasi sebesar 4,61 persen secara bulanan serta memberikan andil sebesar 0,06 persen terhadap angka inflasi umum Jakarta. Tren kenaikan ini sejatinya melanjutkan pola dari bulan sebelumnya, di mana pada Agustus 2026 komoditas unggas ini juga menyumbang inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Tekanan inflasi semakin diperberat oleh melonjaknya harga bumbu dapur dan makanan pokok lainnya akibat dampak musim kering yang berkepanjangan. Komoditas cabai rawit mencatatkan kenaikan harga yang cukup tajam hingga mencapai rata-rata Rp 70.446 per kilogram, yang mendorong terjadinya inflasi sebesar 17,11 persen pada kelompok tersebut. Fenomena alam ini mengganggu pasokan barang dan memperketat ketersediaan stok bahan pangan segar di pasaran.
Selain cabai rawit, komoditas beras juga mengalami kenaikan harga signifikan hingga menyentuh rata-rata Rp 16.596 per kilogram pada bulan September 2026. Capaian angka tersebut tercatat sebagai level harga beras tertinggi dalam tiga tahun terakhir di kawasan Jakarta. Kenaikan harga pokok pangan ini secara otomatis mendorong inflasi beras sebesar 0,62 persen dan memberikan kontribusi langsung terhadap inflasi umum daerah secara bulanan.
Secara keseluruhan, tingkat inflasi tahunan untuk wilayah Jakarta pada September 2026 berada pada posisi 2,71 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami inflasi tahunan sebesar 3,71 persen dengan kontribusi terbesar disumbang oleh beras, daging ayam ras, dan minyak goreng. Sektor transportasi juga turut memberikan tekanan inflasi tahunan yang relatif tinggi, yakni mencapai 4,65 persen dengan kenaikan harga bensin sebagai komoditas penyumbang terbesarnya.
Meskipun merangkak naik, tingkat inflasi tahunan DKI Jakarta sebesar 2,71 persen ini tercatat masih berada di bawah angka inflasi nasional yang menyentuh 3,28 persen. Secara nasional, kelompok pasokan pangan serta transportasi tetap menjadi pendorong utama dalam pergerakan inflasi. Pemerintah daerah dan pihak terkait terus memantau dinamika harga di pasar guna mengantisipasi lonjakan harga kebutuhan dasar warga secara berkelanjutan. (redaksi)

