Dokumenter Gaza “NAZA” Ukir Rekor Standing Ovation Terlama di Venice Film Festival

12 September 2026 – Suasana haru pecah di salah satu festival film paling bergengsi di dunia ketika sebuah dokumenter tentang Gaza mendapat sambutan luar biasa dari penonton. Film berjudul NAZA mencatat standing ovation selama 24,5 menit setelah pemutaran perdananya di Venice Film Festival. Durasi tepuk tangan tersebut tidak hanya menunjukkan respons emosional penonton, tetapi juga mengantarkan film tersebut mencetak rekor baru dalam sejarah festival.

NAZA merupakan dokumenter karya dua sutradara asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor. Film tersebut pertama kali diputar pada Kamis waktu setempat dan langsung mendapatkan respons panjang dari para penonton yang hadir di dalam auditorium. Tepuk tangan berdiri berlangsung selama 24,5 menit, menjadikannya standing ovation terlama yang pernah tercatat sepanjang penyelenggaraan Venice Film Festival.

Catatan tersebut sekaligus melampaui rekor sebelumnya yang diraih *The Voice of Hind Rajab*. Film garapan sutradara Tunisia Kaouther Ben Hania itu memperoleh standing ovation selama 22 menit pada penyelenggaraan Venice Film Festival tahun sebelumnya. Dengan tambahan waktu sekitar dua setengah menit, NAZA kini menempati posisi teratas dalam catatan standing ovation terlama di festival tersebut.

Momen pemutaran perdana NAZA berlangsung dengan suasana yang sangat emosional. Jonathan Glazer, sutradara peraih Oscar melalui film *The Zone of Interest* yang terlibat sebagai produser eksekutif film tersebut, terlihat memeluk Yuval Abraham dan Rachel Szor. Ia juga turut memimpin tepuk tangan panjang yang menggema di dalam auditorium ketika penayangan film berakhir.

Respons penonton tidak hanya ditunjukkan melalui tepuk tangan. Sejumlah orang di dalam auditorium terlihat menangis setelah menyaksikan dokumenter tersebut, sementara beberapa penonton membentangkan bendera Palestina. Abraham dan Szor juga tampak tersentuh oleh sambutan yang diberikan penonton. Momen tersebut membuat pemutaran perdana film berlangsung dalam atmosfer yang penuh haru dan khidmat.

Secara isi, NAZA mengangkat persoalan yang sangat sensitif mengenai perang di Gaza. Dokumenter tersebut berupaya menelusuri sistem dan mekanisme yang berkaitan dengan serangan militer Israel serta dampaknya terhadap warga sipil Palestina. Film ini secara khusus menyoroti dugaan adanya sistem yang digunakan untuk memperkirakan jumlah korban sipil dalam serangan udara.

Proses produksi film tersebut dilakukan secara rahasia. Abraham dan Szor disebut mengerjakan sejumlah bagian dokumenter pada malam hari di atas atap-atap gedung di kawasan Tel Aviv. Cara produksi tersebut dilakukan untuk menjaga kerahasiaan proyek sekaligus memungkinkan keduanya melakukan pengumpulan materi dan wawancara secara lebih aman.

Salah satu bagian penting dalam NAZA adalah rangkaian wawancara dengan 24 perwira intelijen dan tentara Israel. Kesaksian dari para narasumber tersebut menjadi bagian utama dalam upaya film mengungkap bagaimana sistem operasi militer bekerja dari perspektif orang-orang yang pernah berada di dalam struktur tersebut. Materi tersebut kemudian dirangkai untuk memberikan gambaran mengenai proses pengambilan keputusan dalam operasi militer.

Judul NAZA sendiri memiliki makna khusus yang berkaitan dengan terminologi internal intelijen Israel. Istilah tersebut disebut sebagai akronim yang digunakan untuk merujuk pada *collateral damage*, yaitu perkiraan jumlah korban sipil yang diprediksi akan meninggal akibat suatu serangan udara. Penggunaan istilah tersebut menjadi salah satu elemen penting yang ingin dibongkar dan diperlihatkan kepada publik melalui dokumenter ini.

Bagi Yuval Abraham dan Rachel Szor, pembuatan NAZA juga berkaitan erat dengan posisi mereka sebagai warga Israel yang memiliki akses terhadap sejumlah sumber di dalam masyarakat mereka sendiri. Keduanya berusaha menggunakan akses tersebut untuk memahami bagaimana sistem militer bekerja serta bagaimana keputusan yang berdampak terhadap kehidupan warga sipil di Gaza dibuat.

Abraham sebelumnya telah dikenal melalui keterlibatannya dalam film dokumenter *No Other Land*. Film tersebut berhasil meraih penghargaan Oscar 2025 untuk kategori Dokumenter Terbaik. Kesuksesan tersebut membuat nama Abraham dan Szor semakin dikenal di dunia perfilman internasional, sekaligus memberikan perhatian lebih besar terhadap karya terbaru mereka mengenai Gaza.

Dalam pernyataannya menjelang pemutaran perdana, Abraham menjelaskan bahwa pengalaman dan latar belakangnya sebagai warga Israel membuat dirinya merasa memiliki tanggung jawab untuk mengangkat persoalan tersebut. Ia menilai akses yang dimiliki terhadap orang-orang yang pernah menjadi bagian dari militer Israel dapat digunakan untuk melihat lebih dekat bagaimana sistem tersebut beroperasi dalam konteks konflik di Gaza.

Menurut Abraham, keputusan membuat film ini juga didorong oleh keinginan untuk melihat langsung mekanisme di balik tindakan militer yang telah menjadi perhatian berbagai organisasi hak asasi manusia. Karena itu, NAZA tidak hanya ditempatkan sebagai dokumenter mengenai konflik, tetapi juga sebagai upaya untuk membedah sistem yang berada di balik berbagai operasi militer dan konsekuensinya terhadap warga sipil.

Film tersebut diproduksi oleh media Inggris The Guardian bersama produser James Wilson. Kehadiran NAZA juga memiliki posisi khusus dalam Venice Film Festival tahun ini karena menjadi satu-satunya film dokumenter panjang yang masuk ke dalam kompetisi utama festival. Status tersebut membuat film ini menjadi salah satu karya dokumenter yang mendapatkan perhatian besar dalam perhelatan perfilman internasional tersebut.

Rekor standing ovation yang diraih NAZA semakin memperkuat sorotan terhadap film tersebut. Sambutan selama 24,5 menit menjadi catatan tersendiri bagi karya yang mengangkat isu perang dan kemanusiaan yang masih menjadi perdebatan global. Di tengah tingginya perhatian terhadap konflik Gaza, kehadiran dokumenter ini menunjukkan bagaimana sinema dokumenter dapat menjadi medium untuk membawa kesaksian, pengalaman, dan pertanyaan mengenai perang ke hadapan penonton internasional. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *