12 September 2026 – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,9 mengguncang wilayah Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, pada Sabtu pagi, 12 September 2026. Guncangan yang terjadi pada pukul 04.23 WIB tersebut terasa hingga sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra karena pusat gempa berada cukup dalam. Tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar Jakarta, getaran juga dilaporkan terasa di sejumlah daerah mulai dari Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, hingga beberapa wilayah Sumatra.
Berdasarkan informasi awal yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berpusat di sekitar Kepulauan Seribu dengan kedalaman ratusan kilometer. Dalam pembaruan analisis, BMKG mencatat episenter berada di laut pada jarak sekitar 69 kilometer sebelah timur laut Kepulauan Seribu. Kedalaman hiposenter tercatat sekitar 368 kilometer sehingga gempa dikategorikan sebagai gempa bumi dalam.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan bahwa gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas pematahan di dalam lempeng bumi. Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa termasuk jenis gempa dalam akibat aktivitas intraslab. Analisis terhadap mekanisme sumber menunjukkan adanya pergerakan geser turun atau *oblique normal* di dalam lempeng.
Karakteristik gempa yang berada pada kedalaman cukup jauh membuat getarannya dapat menjalar dalam cakupan wilayah yang luas. Karena itu, dampak guncangan tidak hanya dirasakan di sekitar Kepulauan Seribu dan Jakarta, tetapi juga menjangkau sejumlah daerah di Pulau Jawa hingga Sumatra. Tingkat getaran yang dirasakan masyarakat berbeda-beda, bergantung pada jarak wilayah dari pusat gempa serta kondisi setempat.
Guncangan terkuat tercatat mencapai skala IV Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada tingkat tersebut, getaran dapat dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah dan benda-benda tertentu seperti jendela dapat ikut berderik. Wilayah yang merasakan guncangan pada skala IV MMI antara lain Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, Cianjur, serta Tanggamus.
Sejumlah wilayah lainnya merasakan getaran dengan intensitas III MMI. Pada skala tersebut, guncangan terasa nyata dan dapat disamakan dengan sensasi ketika sebuah kendaraan berat seperti truk melintas di sekitar lokasi. Daerah yang mengalami getaran pada tingkat ini antara lain Tangerang, Tanjung Priok, Nagrak, Kalapanunggal, hingga Cilacap.
Sementara itu, guncangan dengan intensitas II hingga III MMI dirasakan di sejumlah wilayah lain yang berada lebih jauh dari episenter. Beberapa di antaranya mencakup Rancaekek, Lembang, Garut, Bandung, Yogyakarta, Pacitan, Ponorogo, Malang, Kota Bengkulu, Sumur, Padang, Mentawai, Pariaman, dan Solok Selatan. Adapun wilayah Lemong, Semaka, dan Bengkunat dilaporkan merasakan getaran dengan intensitas II MMI.
Di tengah meluasnya wilayah yang merasakan guncangan, BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hal ini berkaitan dengan karakteristik sumber gempa dan kedalamannya yang berada jauh di bawah permukaan laut. Masyarakat pun diminta tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Hingga pukul 05.00 WIB, pemantauan BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan atau *aftershock*. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan kondisi seismik setelah gempa utama. Masyarakat diimbau menjauhi bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan dan memastikan keselamatan sebelum kembali melakukan aktivitas di dalam bangunan.
Gempa tersebut juga berdampak pada operasional perjalanan kereta rel listrik (KRL) di wilayah Jabodetabek. KAI Commuter Line sempat menghentikan sementara perjalanan kereta setelah gempa terjadi. Penghentian dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk memastikan kondisi jalur rel tetap aman sebelum perjalanan kembali dilanjutkan.
Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh pada jalur yang terdampak untuk memastikan tidak terdapat kerusakan yang dapat membahayakan perjalanan kereta maupun penumpang. Langkah tersebut menjadi bagian dari prosedur keselamatan setelah terjadi gempa, terutama karena getaran dapat berpotensi memengaruhi kondisi prasarana perkeretaapian.
Pengguna KRL yang terdampak penghentian sementara perjalanan diminta mengikuti arahan petugas di lapangan. Kondisi tersebut sempat menyebabkan ketidaknyamanan bagi penumpang yang sedang melakukan perjalanan pada pagi hari. Namun, pemeriksaan jalur diprioritaskan untuk memastikan seluruh perjalanan dapat kembali berjalan dengan aman.
Setelah proses pemeriksaan selesai, KAI Commuter Line mulai mengoperasikan kembali sejumlah layanan. Pemeriksaan jalur pascagempa untuk lintas Bogor, Cikarang, Rangkasbitung, dan Tanjung Priok dinyatakan selesai pada pukul 05.26 WIB. Setelah itu, perjalanan di sejumlah lintas tersebut kembali berjalan normal, meskipun masih diperlukan proses penguraian kepadatan pengguna akibat penghentian sementara sebelumnya.
Perjalanan pada lintas Tangerang juga kembali beroperasi setelah pemeriksaan selesai dilakukan. Pengecekan untuk jalur tersebut dinyatakan rampung pada pukul 05.45 WIB. Setelah perjalanan kembali dibuka, operator melakukan pengaturan untuk mengurai kepadatan penumpang yang sempat menumpuk akibat penghentian layanan.
Dengan kembali normalnya perjalanan KRL, aktivitas transportasi pada pagi hari berangsur pulih setelah sempat mengalami gangguan akibat gempa. Pemeriksaan jalur dilakukan sebagai langkah preventif agar perjalanan tidak langsung dilanjutkan sebelum kondisi rel dipastikan aman. KAI Commuter Line juga mengingatkan pengguna untuk tetap memperhatikan arahan petugas selama proses normalisasi perjalanan.
Gempa M5,9 yang terjadi di Kepulauan Seribu menjadi pengingat bahwa aktivitas seismik dapat dirasakan hingga wilayah yang cukup jauh dari pusat gempa. Kedalaman sumber gempa membuat getaran dapat merambat dalam cakupan yang luas, meskipun intensitasnya berbeda di setiap daerah. Kondisi tersebut juga menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan pemeriksaan infrastruktur setelah terjadi gempa.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap mengandalkan informasi dari kanal resmi. Warga juga disarankan memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali beraktivitas apabila merasakan dampak guncangan. Informasi mengenai perkembangan gempa, kemungkinan gempa susulan, maupun kondisi terkait lainnya akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan dan analisis terbaru. (Redaksi)

