12 September 2026 – Harga minyak mentah dunia kembali menjadi perhatian setelah sempat menembus level US$108 per barel. Lonjakan tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri, terutama produk BBM non subsidi. Jika harga minyak global bertahan pada level tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, harga Pertamax dan produk sejenis berpeluang mengalami kenaikan signifikan. Bahkan, harga Pertamax disebut berpotensi berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengatakan pergerakan harga BBM non subsidi sangat berkaitan dengan perkembangan harga minyak dunia. Apabila harga minyak mentah terus bertahan di atas level US$100 per barel dalam waktu yang cukup lama, tekanan terhadap harga jual BBM akan semakin besar. Kondisi tersebut dapat membuat harga produk seperti Pertamax bergerak menuju level yang lebih tinggi dibandingkan harga saat ini.
Eko menyampaikan bahwa harga Pertamax dan sejumlah produk BBM non subsidi lainnya berpotensi berada pada rentang Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter apabila tren kenaikan harga minyak dunia tidak segera mereda. Menurutnya, hingga saat ini belum terlihat indikasi kuat yang menunjukkan harga minyak global akan segera kembali turun. Karena itu, perkembangan harga minyak mentah masih menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan dalam menentukan harga BBM non subsidi.
Situasi tersebut juga membuat masyarakat diminta tetap tenang dan tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan. Masyarakat diimbau untuk membeli BBM sesuai kebutuhan dan menghindari aksi panic buying yang dapat menyebabkan lonjakan permintaan secara tiba-tiba. Pertamina Patra Niaga memastikan ketersediaan stok BBM di terminal maupun stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) saat ini masih berada dalam kondisi aman.
Panic buying justru berpotensi menimbulkan persoalan baru pada sistem distribusi energi. Lonjakan permintaan yang terjadi dalam waktu singkat dapat membuat kebutuhan BBM meningkat jauh di atas perhitungan normal. Ketika kondisi tersebut terjadi, operator harus melakukan penyesuaian pada berbagai titik dalam rantai pasok agar ketersediaan BBM tetap terjaga di tengah peningkatan konsumsi masyarakat.
Eko menjelaskan, tambahan kebutuhan BBM dalam jumlah yang terlihat kecil sekalipun dapat membutuhkan proses distribusi yang cukup panjang. Sebagai gambaran, apabila kebutuhan normal berada di angka 100 dan kemudian meningkat menjadi 110 hingga 120 akibat panic buying, tambahan pasokan tersebut tidak dapat begitu saja tersedia dalam waktu singkat. Setiap kenaikan kebutuhan harus diikuti dengan penyesuaian produksi, transportasi, penyimpanan, hingga distribusi ke SPBU.
Pemulihan stok setelah terjadi lonjakan permintaan juga tidak dapat dilakukan secara instan. Dalam kondisi tertentu, proses recovery stock dapat membutuhkan waktu setidaknya beberapa hari. Jika kondisi pasokan sebelumnya sudah aman dan kemudian terjadi lonjakan permintaan yang besar, proses pemulihan bahkan dapat memerlukan waktu hingga sekitar satu minggu.
Rantai pasok yang perlu disiapkan untuk menghadapi lonjakan konsumsi BBM cukup panjang. Penyesuaian dapat dimulai dari peningkatan produksi di kilang untuk memenuhi kebutuhan tambahan. Apabila produksi domestik belum mencukupi, opsi impor juga perlu dipertimbangkan agar pasokan tetap tersedia sesuai kebutuhan di dalam negeri.
Setelah pasokan tersedia, proses berikutnya adalah memastikan BBM dapat segera dikirim ke berbagai wilayah. Tim distribusi perlu menyiapkan tambahan armada kapal untuk mengangkut BBM menuju terminal-terminal yang membutuhkan pasokan. Dari terminal, distribusi kembali dilakukan menggunakan mobil tangki menuju SPBU di berbagai daerah.
Kebutuhan terhadap armada angkutan juga menjadi salah satu tantangan ketika terjadi panic buying. Jika jumlah mobil tangki yang tersedia sebelumnya sudah disesuaikan dengan kebutuhan normal, lonjakan permintaan akan membuat jumlah armada tersebut harus ditambah. Mencari kendaraan tambahan dalam jumlah tertentu secara mendadak bukan perkara sederhana karena membutuhkan koordinasi dan kesiapan operasional.
Karena itu, masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas rantai pasok BBM. Pembelian sesuai kebutuhan dapat membantu distribusi berjalan berdasarkan pola konsumsi yang telah diperhitungkan. Sebaliknya, pembelian dalam jumlah berlebihan berpotensi membuat permintaan melonjak dan menyebabkan penyesuaian distribusi harus dilakukan secara mendadak.
Di tengah imbauan agar masyarakat tidak melakukan panic buying, tekanan dari pasar minyak global masih menjadi perhatian. Harga minyak mentah sempat kembali bergerak di atas US$100 per barel pada pekan ini. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan sejumlah wilayah penting bagi jalur perdagangan energi dunia.
Pertempuran di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan minyak. Ketegangan juga melibatkan Amerika Serikat dan Iran yang saling melancarkan serangan. Di sisi lain, kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran turut melakukan serangan terhadap Arab Saudi sehingga situasi keamanan di kawasan semakin kompleks.
Kondisi geopolitik tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak mentah dalam jangka waktu lebih panjang. Selat Hormuz dan kawasan Laut Merah merupakan jalur strategis dalam perdagangan energi global. Setiap gangguan yang berpotensi menghambat pergerakan kapal tanker dapat meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar mengenai ketersediaan pasokan minyak.
Kekhawatiran tersebut kemudian mendorong para pedagang untuk meningkatkan pembelian minyak mentah sebagai langkah antisipasi. Mereka berupaya mengamankan pasokan lebih awal untuk menghadapi kemungkinan gangguan distribusi yang berlangsung lebih lama. Meningkatnya permintaan minyak mentah di tengah kekhawatiran pasokan tersebut pada akhirnya ikut memberikan tekanan terhadap harga komoditas energi.
Jika situasi geopolitik terus memanas dan harga minyak dunia bertahan pada level tinggi, dampaknya berpotensi terasa hingga pasar BBM domestik. Produk BBM non subsidi seperti Pertamax menjadi salah satu jenis bahan bakar yang lebih sensitif terhadap perubahan harga minyak karena penetapan harganya mengikuti perkembangan biaya dan kondisi pasar.
Dengan demikian, pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah harga BBM non subsidi di Indonesia. Apabila harga minyak kembali turun dan kondisi pasokan global membaik, tekanan terhadap harga BBM dapat berkurang. Namun, jika harga minyak terus bertahan di atas US$100 per barel, potensi harga Pertamax bergerak menuju kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter tetap menjadi perhatian. (Redaksi)

