Bendung Karet Pati Mengering, Ribuan Ikan Mati Picu Bau Menyengat dan Kekhawatiran Warga

3 September 2026 – Musim kemarau yang berkepanjangan mulai meninggalkan dampak serius di kawasan Bendung Karet Sungai Juana, Kabupaten Pati. Bendung yang berada di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, itu kini nyaris tanpa air setelah mengalami penyusutan selama sekitar satu bulan. Kondisi tersebut membuat ribuan ikan terdampar dan mati di sepanjang dasar sungai yang mengering. Bangkai ikan yang mulai membusuk di bawah terik matahari kemudian menimbulkan aroma menyengat yang mengganggu warga yang berada di sekitar lokasi.

Kondisi Bendung Karet Sungai Juana disebut semakin parah dalam sepekan terakhir. Air yang sebelumnya masih tersisa perlahan menyusut hingga akhirnya mengering di sejumlah bagian akibat tingginya kebutuhan air untuk mengairi lahan pertanian. Penurunan debit air bukan hanya berdampak terhadap lingkungan sungai, tetapi juga memunculkan persoalan baru bagi warga yang harus menghadapi tumpukan bangkai ikan. Bau busuk mulai terasa kuat ketika warga mendekati alur bendung yang sebelumnya menjadi salah satu sumber air bagi kawasan pertanian di sekitarnya.

Kekeringan tersebut juga menyebabkan perubahan drastis terhadap kondisi ekosistem perairan. Ribuan ikan yang tidak mampu bertahan ketika permukaan air terus turun akhirnya terjebak di bagian sungai yang dangkal dan kemudian mati. Salah satu jenis ikan yang paling banyak ditemukan adalah ikan sapu-sapu. Ikan yang mati kemudian memenuhi sejumlah bagian dasar bendung dan mulai membusuk akibat terpapar panas matahari secara langsung.

Aroma dari bangkai ikan tersebut menjadi salah satu persoalan yang mulai dirasakan masyarakat. Warga yang datang ke sekitar bendung mengaku mencium bau busuk yang cukup kuat, terutama ketika berada dekat dengan titik tempat ikan menumpuk. Selain bau, ribuan lalat juga mulai terlihat berada di sekitar bangkai ikan. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran apabila tidak segera dilakukan penanganan, meski sejauh ini bau tersebut disebut belum sampai mengganggu permukiman warga secara langsung.

Ari, salah seorang warga Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, sengaja mendatangi kawasan bendung untuk melihat langsung kondisi kekeringan yang terjadi. Ia mengatakan air sungai sebenarnya telah berangsur surut sejak sekitar satu bulan sebelumnya, sebelum akhirnya mengering dalam waktu sekitar sepekan terakhir. Menurutnya, berkurangnya air tidak terlepas dari tingginya kebutuhan untuk pengairan sawah milik petani di sekitar kawasan tersebut. Kondisi itu membuat warga harus menghadapi dampak lain berupa kematian ikan dalam jumlah besar.

Kekeringan juga membuat petani berada dalam situasi yang tidak mudah. Sebagian lahan pertanian telah ditanami, sementara ketersediaan air semakin terbatas. Para petani kini dihantui kekhawatiran tanaman yang sudah ditanam tidak mendapatkan pasokan air yang cukup hingga masa panen. Apabila aliran air tidak kembali normal, risiko gangguan terhadap pertumbuhan tanaman bahkan potensi gagal panen dapat semakin besar.

Bagi warga sekitar, persoalan yang muncul akibat mengeringnya bendung bukan hanya berkaitan dengan sektor pertanian. Kondisi ekosistem sungai yang berubah juga menimbulkan persoalan lingkungan karena ikan yang mati dalam jumlah besar menjadi limbah organik yang harus segera ditangani. Bila dibiarkan terlalu lama, proses pembusukan dapat semakin meningkatkan bau tidak sedap dan memperbanyak lalat di sekitar lokasi. Karena itu, warga berharap terdapat penanganan agar bangkai ikan tidak terus menumpuk di dasar bendung yang mengering.

Di tengah kondisi tersebut, sebagian warga justru memanfaatkan banyaknya ikan yang terdampar untuk memperoleh penghasilan tambahan. Saipul bersama sekitar 10 warga Desa Bungasrejo mulai mengambil ikan sapu-sapu yang berada di dasar bendung. Ikan yang berhasil dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam wadah dan dibawa menggunakan kendaraan pikap untuk selanjutnya disetorkan kepada pihak yang menampungnya. Aktivitas tersebut menjadi salah satu cara warga memanfaatkan kondisi yang ada di tengah menurunnya debit air sungai.

Saipul mengatakan ikan yang terkumpul dapat dijual dengan harga sekitar Rp2.500 per kilogram. Dalam satu kali pengambilan, ia mengaku mampu memperoleh ikan dalam jumlah besar yang mencapai sekitar satu ton. Ikan tersebut kemudian dikirim ke tempat pelelangan ikan di Juwana untuk selanjutnya disetorkan kepada pihak pabrik. Dengan jumlah ikan yang tersedia cukup banyak, warga berencana terus melakukan pengambilan selama masih terdapat ikan yang dapat dikumpulkan di dasar bendung.

Aktivitas pengambilan ikan tersebut sekaligus membantu mengurangi sebagian bangkai dan ikan yang terdampar di area bendung. Namun, jumlah ikan yang terdampak kekeringan diperkirakan sangat banyak sehingga kegiatan warga belum tentu mampu mengatasi seluruh persoalan lingkungan yang muncul. Penanganan tetap diperlukan untuk memastikan sisa ikan yang mati tidak menumpuk dan membusuk di berbagai bagian sungai.

Mengeringnya Bendung Karet Sungai Juana memperlihatkan dampak berlapis dari berkurangnya ketersediaan air selama musim kemarau. Di satu sisi, petani membutuhkan air untuk mempertahankan lahan yang telah ditanami. Di sisi lain, berkurangnya debit sungai membuat ekosistem perairan terganggu hingga menyebabkan kematian ikan secara massal. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan sumber daya air yang mempertimbangkan kebutuhan pertanian sekaligus keberlangsungan lingkungan.

Warga berharap kondisi bendung dapat segera mendapat perhatian, terutama terkait kebutuhan air untuk lahan pertanian dan penanganan ikan yang mati. Apabila kekeringan terus berlangsung, tekanan terhadap sektor pertanian dan lingkungan berpotensi semakin besar. Selain itu, masyarakat juga perlu mewaspadai persoalan sanitasi dan lingkungan yang dapat muncul akibat bangkai ikan yang terus membusuk. Penanganan yang cepat dan terkoordinasi diperlukan agar dampak kekeringan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas bagi warga di sekitar Sungai Juana. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *