1 September 2026 – Upaya Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendapat dukungan dari sejumlah negara. Bantuan datang dalam bentuk pengerahan armada udara yang dinilai mampu menjangkau wilayah kebakaran yang sulit ditembus melalui jalur darat. Sejumlah negara bahkan mengirimkan helikopter dengan kemampuan angkut besar untuk mempercepat proses pemadaman dan penanganan titik api, khususnya di wilayah Kalimantan. Dukungan tersebut menjadi bagian dari langkah bersama untuk menekan meluasnya kebakaran sekaligus mengurangi dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.
Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah menerbitkan puluhan izin khusus untuk mendukung penggunaan pesawat udara asing dalam operasi penanganan karhutla. Tercatat terdapat 35 izin khusus yang diberikan untuk pengoperasian 36 helikopter dari delapan negara. Negara-negara tersebut meliputi Australia, Rusia, Amerika Serikat, Ukraina, Selandia Baru, Laos, Vietnam, dan Kanada. Pengerahan armada dari berbagai negara menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan dukungan lintas negara, terutama ketika kebakaran terjadi di kawasan yang luas dan memiliki medan sulit.
Izin penerbangan tersebut diberikan kepada 11 pemegang Air Operator Certificate atau AOC yang berasal dari berbagai operator penerbangan. Dengan adanya izin khusus itu, pesawat yang telah ditempatkan di satu wilayah dapat dipindahkan menuju daerah lain yang juga mengalami karhutla sesuai kebutuhan operasi. Pemindahan armada dapat dilakukan dengan kewajiban memberikan pemberitahuan dalam waktu 1 x 24 jam. Pengaturan tersebut memungkinkan pengerahan kekuatan udara dilakukan secara lebih fleksibel mengikuti perkembangan titik api di lapangan.
Dukungan internasional juga datang dari Jepang dengan kekuatan yang cukup besar. Jepang mengerahkan tiga unit helikopter angkut berat CH-47 Chinook serta sekitar 350 personel Pasukan Bela Diri Jepang untuk membantu operasi penanganan kebakaran di Indonesia. Armada dan personel tersebut diberangkatkan menggunakan kapal Kunisaki yang bertolak dari Pangkalan Kure, Hiroshima. Kapal itu diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua minggu untuk mencapai Indonesia sebelum seluruh personel dan peralatan dapat mulai mendukung operasi di lapangan.
Pengerahan pasukan dan armada Jepang menjadi bagian penting dalam kerja sama antara kedua negara. Operasi tersebut juga memiliki arti khusus karena disebut sebagai misi pemadaman kebakaran luar negeri pertama bagi Pasukan Bela Diri Jepang. Kehadiran personel dan helikopter berkapasitas besar diharapkan dapat memperkuat kemampuan Indonesia dalam menangani kebakaran, terutama di daerah yang memiliki akses darat terbatas. Operasi udara dinilai menjadi salah satu alternatif penting ketika petugas tidak dapat menjangkau lokasi kebakaran secara cepat melalui kendaraan darat.
Kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Jepang yang telah ditandatangani sebelumnya turut menjadi landasan bagi pengerahan bantuan tersebut. Melalui kerja sama itu, dukungan tidak hanya diarahkan pada aspek pertahanan dalam pengertian konvensional, tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk respons terhadap bencana dan keadaan darurat. Dalam konteks karhutla, dukungan tersebut diharapkan mampu mempercepat respons terhadap titik api yang berada di kawasan terpencil, termasuk wilayah yang sulit dijangkau oleh kendaraan pemadam dari darat.
Helikopter CH-47 Chinook menjadi salah satu armada yang dinilai sesuai untuk menjalankan misi tersebut karena memiliki kapasitas angkut yang besar. Helikopter dengan dua rotor utama berukuran besar itu dapat membawa hingga puluhan personel sekaligus mengangkut air dalam jumlah besar untuk operasi pemadaman dari udara. Dalam misi water bombing, Chinook dapat menggunakan perangkat Bambi Bucket untuk mengambil dan menjatuhkan air langsung ke area yang terbakar. Kemampuan tersebut memungkinkan pemadaman dilakukan dari udara pada lokasi yang sulit dimasuki petugas atau kendaraan pemadam.
Kehadiran helikopter asing juga diharapkan memberikan tambahan kekuatan bagi operasi pemadaman yang sudah berjalan di Indonesia. Karhutla tidak hanya membutuhkan personel dalam jumlah besar, tetapi juga memerlukan dukungan teknologi, armada, serta strategi yang dapat disesuaikan dengan kondisi medan. Dengan menggabungkan kemampuan pesawat udara asing dan sumber daya dalam negeri, proses pemadaman diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat, terarah, dan efektif. Kecepatan dalam menangani titik api menjadi faktor penting untuk mencegah kebakaran menyebar ke wilayah yang lebih luas.
Selain pengerahan helikopter, dukungan dari negara tetangga juga dilakukan melalui operasi penyemaian awan. Malaysia telah memperoleh izin untuk memasuki wilayah udara Indonesia dalam rangka melaksanakan kegiatan tersebut di sepanjang perbatasan kedua negara. Penyemaian awan ditujukan untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang membutuhkan, sehingga dapat mendukung upaya penanganan kebakaran. Langkah ini menjadi bentuk lain dari kerja sama regional dalam menghadapi persoalan karhutla yang dampaknya dapat melintasi batas administratif dan geografis.
Bantuan dari berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa karhutla merupakan persoalan yang memiliki dampak luas dan membutuhkan koordinasi yang kuat. Pengerahan puluhan helikopter, personel asing, hingga operasi penyemaian awan menjadi bagian dari berbagai strategi yang digunakan untuk menekan kebakaran. Di tengah kondisi geografis Indonesia yang luas dan terdiri atas banyak wilayah sulit dijangkau, dukungan udara menjadi salah satu elemen penting dalam memperkuat respons terhadap bencana. Kolaborasi internasional pun diharapkan dapat membantu Indonesia mengendalikan kebakaran dengan lebih cepat sekaligus mengurangi dampaknya terhadap masyarakat, kesehatan, dan lingkungan. (Redaksi)

