Keluar Rumah untuk Melihat Situasi, Pedagang Kaca di Pejompongan Justru Tak Pernah Kembali

1 September 2026 – Kericuhan yang terjadi di kawasan Pejompongan, Jakarta, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga Bambang Setiawan. Pria berusia 59 tahun itu sebelumnya hanya berniat keluar rumah untuk melihat kondisi di sekitar setelah situasi mulai dianggap lebih tenang. Namun, keputusan sederhana tersebut justru menjadi perjalanan terakhir dalam hidupnya. Bambang yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang kaca dan cermin dilaporkan menjadi korban kekerasan oleh sekelompok orang yang belum diketahui identitasnya. Peristiwa tersebut tidak hanya merenggut nyawanya, tetapi juga menyisakan luka mendalam bagi keluarga yang semula berharap ia segera pulang ke rumah.

Sore sebelum kejadian, tidak ada tanda-tanda bahwa keluarga tersebut akan menghadapi malam yang penuh kepanikan. Bambang masih menjalankan aktivitas rutinnya dengan berjualan di kawasan Pejompongan bersama sang istri, Sudarsi. Keduanya biasanya menjalani kegiatan berdagang hingga sore hari, tetapi situasi pada Kamis itu membuat mereka memilih menutup lapak lebih awal. Sekitar pukul 16.30 WIB, Sudarsi melihat jumlah massa yang semakin banyak di sekitar kawasan dan mulai merasa khawatir terhadap keselamatan mereka. Ia kemudian meminta Bambang segera membereskan barang dagangan agar mereka dapat pulang sebelum keadaan menjadi semakin tidak terkendali.

Keputusan untuk meninggalkan tempat usaha lebih cepat pada awalnya dianggap sebagai langkah paling aman. Setelah seluruh barang dirapikan, Bambang dan Sudarsi menuju rumah untuk menghindari kerumunan yang mulai memenuhi sejumlah ruas jalan. Namun, ketika sampai di lingkungan tempat tinggal, situasi ternyata masih belum sepenuhnya tenang. Kepanikan turut dirasakan warga sekitar karena pergerakan massa masih terdengar dan terlihat di kawasan tersebut. Dalam keadaan itu, seorang tetangga bernama Tagor yang sedang mengalami sakit membutuhkan bantuan untuk pergi berobat ke Rumah Sakit Pelni. Anak Bambang kemudian menawarkan diri untuk mengantar Tagor menggunakan sepeda motor, sementara Bambang dan Sudarsi memilih tetap berada di rumah.

Setelah mengantarkan tetangganya, anak Bambang kembali sekitar pukul 21.00 WIB. Saat itu, suasana di sekitar tempat tinggal mereka dinilai mulai lebih kondusif dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Kondisi tersebut membuat Bambang kemudian berniat keluar rumah untuk melihat keadaan secara langsung. Bagi keluarganya, keinginan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Bambang dikenal sebagai sosok yang cukup sering keluar sekadar untuk menyaksikan keramaian yang terjadi di lingkungan sekitar. Ia juga disebut memiliki kepedulian terhadap orang lain, terutama ketika terjadi situasi genting di kawasan tempat tinggalnya.

Sudarsi mengingat bahwa pada sejumlah kericuhan yang pernah terjadi sebelumnya, Bambang justru kerap berusaha membantu warga yang terdampak. Salah satu kebiasaannya adalah menyediakan atau mengalirkan air agar orang-orang yang membutuhkan dapat mencuci muka setelah terpapar situasi yang tidak nyaman. Karena itu, ketika Bambang berpamitan untuk keluar rumah pada malam tersebut, Sudarsi tidak memiliki firasat buruk. Tidak ada larangan maupun percakapan panjang yang mengisyaratkan sesuatu yang akan terjadi. Namun, setelah Bambang pergi, waktu terus berjalan dan ia tidak juga kembali ke rumah.

Rasa khawatir mulai berubah menjadi kepanikan ketika malam semakin larut. Sudarsi berusaha mencari keberadaan suaminya dengan menyusuri lingkungan sekitar hingga sekitar pukul 01.30 WIB. Ia juga meminta bantuan teman dan orang-orang terdekat untuk memberikan informasi apabila melihat Bambang di sekitar lokasi. Berbagai upaya dilakukan untuk menemukan keberadaannya, tetapi tidak ada kabar yang meyakinkan. Keluarga akhirnya hanya bisa menunggu dengan kecemasan sambil berharap Bambang segera pulang seperti biasanya.

Titik terang mengenai keberadaan Bambang baru muncul menjelang pagi. Keluarga menerima sebuah rekaman video yang memperlihatkan seorang pria dalam kondisi tergeletak setelah diduga mengalami tindak kekerasan. Setelah diperiksa dan dibandingkan dengan ciri-ciri yang diketahui keluarga, sosok dalam rekaman tersebut akhirnya diyakini sebagai Bambang. Informasi itu sekaligus mengakhiri penantian keluarga, tetapi membawa kenyataan yang jauh lebih pahit daripada yang mereka bayangkan.

Bambang kemudian diketahui telah dievakuasi ke Rumah Sakit Polri dalam kondisi meninggal dunia. Keluarga menduga korban kemungkinan telah meninggal di lokasi kejadian sebelum sempat mendapatkan pertolongan medis. Dugaan tersebut semakin memperberat suasana duka yang dirasakan keluarga, mengingat Bambang sebelumnya meninggalkan rumah dalam kondisi sehat dan hanya dengan tujuan melihat situasi di sekitar. Kepergiannya yang berlangsung dalam hitungan jam membuat keluarga kesulitan menerima kenyataan bahwa aktivitas yang terlihat sederhana ternyata menjadi perpisahan untuk selama-lamanya.

Setelah menjalani pemeriksaan luar di rumah sakit, jenazah Bambang kemudian dibawa untuk dimakamkan. Pemakaman dilakukan pada Jumat siang di kawasan Kemanggisan Pulo, Jakarta Barat. Prosesi tersebut berlangsung dalam suasana haru dan dihadiri keluarga serta sejumlah pihak yang menyampaikan belasungkawa. Rumah duka menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang mengenal Bambang, sekaligus menjadi ruang terakhir bagi keluarga untuk melepas kepergiannya.

Kisah Bambang menyisakan gambaran tragis tentang bagaimana situasi kericuhan dapat membawa dampak yang tidak terduga bagi warga yang berada di sekitarnya. Ia bukan bagian dari keramaian yang hendak mencari pertentangan, melainkan seorang pedagang yang sehari-hari berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Kepergiannya membuat keluarga kehilangan sosok yang selama ini hadir dalam rutinitas sederhana mereka. Bagi Sudarsi, malam itu akan selalu dikenang sebagai malam ketika suaminya keluar rumah untuk melihat keadaan, tetapi tidak pernah kembali. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *