28 Agustus 2026 – Situasi di kawasan Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, memanas pada Kamis malam, 27 Agustus 2026. Kerumunan massa yang sejak sore memadati sekitar lampu merah Slipi mulai terlibat dalam sejumlah aksi yang mengganggu ketertiban. Ketegangan meningkat setelah muncul aksi provokasi dan perusakan fasilitas umum, sementara ban dibakar di tengah jalan. Polisi kemudian mengambil tindakan dengan menembakkan gas air mata untuk mendorong massa menjauh dari lokasi.
Massa mulai berdatangan dan memadati kawasan Slipi sekitar pukul 18.00 WIB. Pada awalnya situasi masih relatif terkendali, tetapi sekitar pukul 18.30 WIB kondisi berubah menjadi lebih tegang. Sejumlah orang terlihat melakukan tindakan provokatif dan diduga merusak sejumlah fasilitas umum di sekitar lokasi. Kondisi tersebut membuat aparat keamanan meningkatkan pengawasan untuk mencegah situasi berkembang semakin luas.
Salah satu aksi yang terlihat di tengah kerumunan adalah pembakaran ban di badan jalan. Asap dari ban yang terbakar memenuhi sebagian kawasan dan turut menambah ketegangan di lokasi. Selain itu, Halte Transjakarta yang berada di kawasan Slipi sempat diduduki oleh sejumlah orang. Beberapa peserta aksi juga terlihat mengenakan masker serta jaket bertudung yang menutupi sebagian identitas mereka.
Situasi semakin tegang ketika muncul kekhawatiran bahwa Halte Transjakarta akan menjadi sasaran perusakan atau pembakaran. Sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi terdengar meneriaki massa dan meminta agar fasilitas publik tersebut tidak dirusak. Warga berusaha mencegah kerusakan terhadap fasilitas yang digunakan masyarakat sehari-hari, sementara aparat kepolisian terus memantau pergerakan kerumunan.
Polisi kemudian menembakkan gas air mata ke arah massa yang berada di sekitar Pospol Slipi. Tembakan tersebut membuat massa yang berada di kawasan itu berhamburan dan bergerak menjauh dari titik bentrokan. Gas air mata yang menyebar di udara membuat sejumlah orang berlari meninggalkan lokasi untuk mencari tempat yang lebih aman.
Namun, situasi tidak langsung sepenuhnya mereda setelah massa terdorong mundur. Beberapa waktu kemudian, sejumlah orang kembali mendatangi kawasan Slipi. Pergerakan massa tersebut membuat aparat tetap bersiaga dan situasi di sekitar lampu merah belum sepenuhnya kembali normal.
Hingga sekitar pukul 20.46 WIB, kawasan lampu merah Slipi masih dipadati massa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketegangan masih berlangsung meski polisi sebelumnya telah menggunakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Aparat terus melakukan pengamanan di sekitar lokasi guna mengantisipasi aksi lanjutan serta mencegah fasilitas umum kembali menjadi sasaran.
Peristiwa di Slipi menjadi salah satu titik yang mengalami peningkatan ketegangan pada malam tersebut. Pembakaran ban, pendudukan halte, dugaan perusakan fasilitas umum, serta penggunaan gas air mata menunjukkan bahwa situasi di lapangan berkembang cukup cepat. Kondisi ini juga membuat pengamanan menjadi penting untuk menjaga keselamatan masyarakat dan memastikan fasilitas publik tetap dapat digunakan. (Redaksi)

