Kenaikan Harga Pertamax Picu Lonjakan Penggunaan Pertalite, Konsumsi Naik Tajam

22 Juli 2026 – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Dalam beberapa waktu terakhir, semakin banyak pengendara yang beralih menggunakan Pertalite setelah harga Pertamax dan sejumlah produk BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian. Pergeseran tersebut berdampak pada meningkatnya konsumsi Pertalite secara signifikan, meski Pertamina memastikan pasokan BBM bersubsidi masih dalam kondisi aman dan terkendali.

Berdasarkan data yang disampaikan PT Pertamina Patra Niaga, konsumsi Pertalite mengalami peningkatan sekitar 9,4 persen hanya selama Juli 2026. Lonjakan ini terjadi setelah harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax, mengalami kenaikan yang cukup besar sehingga mendorong sebagian konsumen memilih bahan bakar dengan harga yang lebih terjangkau.

Sejak penyesuaian harga yang berlaku mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax naik dari kisaran Rp12 ribuan per liter menjadi sekitar Rp16.250 per liter. Bahkan di sejumlah wilayah, harga BBM dengan nilai oktan 92 tersebut telah menembus lebih dari Rp17 ribu per liter. Perbedaan harga yang cukup lebar dengan Pertalite membuat sebagian pengguna mengubah pilihan bahan bakarnya.

Director of Regional Marketing PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial and Trading Eko Ricky Susanto menjelaskan bahwa perubahan pola konsumsi terlihat jelas dari komposisi penggunaan BBM masyarakat. Sebelum kenaikan harga, konsumsi Pertamax mencapai sekitar 23,2 persen dari total penjualan bensin, sedangkan Pertalite menguasai sekitar 75,4 persen.

Namun setelah harga BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian, pangsa konsumsi Pertalite meningkat hingga sekitar 80,3 persen. Di sisi lain, porsi penggunaan Pertamax turun menjadi sekitar 18,8 persen. Sementara itu, Pertamax Green tercatat hanya menyumbang sekitar 0,2 persen dan Pertamax Turbo sekitar 0,7 persen dari total konsumsi.

Menurut Eko, pergeseran tersebut menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumen yang cukup signifikan. Jika pada periode Januari hingga Mei komposisi penggunaan Pertalite masih berada di kisaran 75 persen, kini angkanya telah meningkat menjadi sekitar 80 persen. Dengan kata lain, terjadi perpindahan sekitar lima persen konsumsi dari BBM nonsubsidi menuju BBM bersubsidi.

Fenomena serupa juga terjadi pada kelompok bahan bakar diesel. Konsumsi Biosolar tercatat mengalami peningkatan dari sekitar 93 persen menjadi 94,2 persen. Sebaliknya, penggunaan Dexlite dan Pertamina Dex mengalami penurunan sekitar 6,4 persen dibandingkan rata rata konsumsi harian sebelumnya.

Pertamina menilai peningkatan konsumsi Biosolar tidak hanya berasal dari kendaraan pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh bertambahnya kendaraan sektor industri yang beralih menggunakan BBM bersubsidi. Kondisi tersebut ikut menekan konsumsi produk diesel nonsubsidi yang selama ini digunakan oleh sebagian pelaku usaha.

Meski terjadi lonjakan permintaan terhadap Pertalite dan Biosolar, Pertamina menyatakan distribusi serta ketersediaan stok BBM bersubsidi masih berada dalam kondisi yang terkendali. Perusahaan juga terus memantau perkembangan konsumsi di berbagai daerah untuk memastikan pasokan tetap mencukupi kebutuhan masyarakat dan distribusi dapat berjalan secara optimal di seluruh wilayah Indonesia. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *