24 April 2026 – Perjalanan spiritual sering kali tidak berjalan sesuai rencana manusia. Hal itulah yang dirasakan Ashanty, yang akhirnya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji setelah melewati proses panjang penuh penundaan dan ujian kesabaran.
Tahun 2026 menjadi momen yang dinanti-nanti bagi Ashanty. Ia dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada Mei mendatang untuk menunaikan rukun Islam kelima. Keberangkatan ini terasa istimewa karena sebelumnya ia sempat dua kali gagal berangkat meski sudah merencanakan sejak lama.
Istri dari Anang Hermansyah tersebut diketahui telah mendaftar program haji khusus sejak 2018. Saat itu, ia diproyeksikan berangkat pada 2024. Namun, rencana tersebut tidak berjalan mulus. Meski secara administratif telah siap, ia harus menerima kenyataan bahwa keberangkatannya tertunda.
Bagi Ashanty, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting tentang makna takdir dan kesabaran. Ia menyadari bahwa perjalanan ibadah bukan semata soal kesiapan materi atau jadwal, melainkan juga tentang waktu yang telah ditentukan.
Kegagalan di 2024 bukanlah akhir dari usahanya. Pada 2025, ia kembali mencoba mengatur keberangkatan, bahkan berencana menjalani ibadah bersama putrinya, Aurel Hermansyah. Namun, lagi-lagi kesempatan itu belum datang. Keterbatasan kuota menjadi penghalang yang tidak bisa dihindari.
Situasi tersebut sempat memunculkan pergulatan batin. Ashanty mengaku mengalami fase refleksi diri yang cukup mendalam. Ia mempertanyakan banyak hal dalam dirinya, termasuk kesiapan spiritual dan kualitas ibadah yang telah dijalani selama ini.
Meski demikian, proses tersebut justru memperkuat keyakinannya. Ia belajar menerima bahwa tidak semua keinginan bisa dipaksakan, terutama dalam urusan yang berkaitan dengan panggilan ibadah.
Kesabaran itu akhirnya terbayar pada tahun ini. Ashanty memastikan dirinya memperoleh kesempatan berangkat melalui jalur kuota resmi dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Kepastian tersebut menjadi titik terang setelah penantian panjang yang penuh ketidakpastian.
Menariknya, demi memaksimalkan ibadah, Ashanty rela menunda agenda akademiknya. Ia memilih menangguhkan ujian terbuka program doktor yang sedang ditempuhnya di Universitas Airlangga. Keputusan ini menunjukkan prioritasnya untuk fokus sepenuhnya pada perjalanan spiritual yang akan dijalani.
Dalam hal persiapan, Ashanty tidak hanya mengandalkan pengalaman orang terdekat. Meski sang suami telah dua kali menunaikan ibadah haji, ia tetap memilih mempersiapkan diri secara mandiri. Persiapan tersebut mencakup aspek fisik, mental, hingga spiritual.
Dukungan dari lingkungan sekitar turut menjadi energi tambahan. Ia menerima berbagai bantuan, mulai dari perlengkapan ibadah hingga buku panduan, yang membantunya memperdalam pemahaman sebelum berangkat. Salah satu target pribadinya adalah menyelesaikan bacaan Al-Qur’an sebelum tiba di Tanah Suci, sebagai bentuk kesiapan batin.
Perjalanan Ashanty menuju ibadah haji menjadi gambaran bahwa proses menuju panggilan spiritual tidak selalu mudah. Ada penundaan, kekecewaan, hingga refleksi diri yang harus dilalui. Namun, pada akhirnya, semua itu bermuara pada satu hal keyakinan bahwa setiap momen telah ditentukan dengan waktu terbaik.
Kini, dengan segala persiapan yang telah dilakukan, Ashanty bersiap menjalani perjalanan yang bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga perjalanan hati. Sebuah fase baru yang diharapkan membawa ketenangan, kedewasaan spiritual, dan makna hidup yang lebih dalam. (Redaksi)

