Jakarta, 17 November 2025 – Suasana haru menyelimuti Stasiun Jakarta Kota ketika KRL JALITA menjalani perjalanan terakhirnya. Ribuan warga hadir dan mengabadikan momen tersebut, menandai berakhirnya salah satu ikon penting dalam perkembangan layanan KRL Jabodetabek.

JALITA telah hadir sejak 2006 sebagai bagian dari awal modernisasi armada Commuter Line. Dengan fitur pendingin udara dan kapasitas angkut yang lebih baik, JALITA menjadi penanda perubahan besar dalam kenyamanan perjalanan masyarakat perkotaan.

Selama hampir dua puluh tahun, JALITA melayani jutaan penumpang yang mengandalkannya untuk bekerja, bersekolah, dan menjalankan aktivitas harian. Pada 2025, kebutuhan perjalanan semakin meningkat seiring tumbuhnya kawasan hunian komuter di Jabodetabek.

Commuter Line Jabodetabek mencatat lebih dari 287 juta penumpang dalam sepuluh bulan pertama 2025. Pencapaian ini hanya bisa dipenuhi dengan armada yang handal dan frekuensi layanan tinggi, dua hal yang menjadi karakter utama JALITA sejak awal beroperasi.

Untuk menghormati perannya, KAI membuka Mini Museum JALITA selama sepekan. Pameran ini memperlihatkan dokumentasi sejarah tiga seri KRL yang turut menopang perjalanan awal modernisasi: JALITA, Tokyu Seri 7000, dan JR203. Kehadiran museum disambut antusias oleh lebih dari 20 ribu pengunjung.

Direktur Utama KAI 2009–2014 Ignasius Jonan turut hadir dalam perjalanan terakhir, mempertegas posisi KRL sebagai etalase pelayanan KA nasional. Menurut Jonan, selama mobilitas perkotaan tumbuh, transportasi rel akan selalu menjadi kebutuhan yang tidak tergantikan di kota besar.

Jonan juga mengingatkan bahwa nama JALITA diberikan oleh Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal sebagai simbol perjalanan lintas kota Jakarta. Nama tersebut kini menjadi bagian dari identitas sejarah transportasi Indonesia.

KAI dan KAI Commuter menegaskan bahwa purna tugas JALITA tidak mengurangi kapasitas pelayanan. Sebaliknya, regenerasi sarana tengah dipercepat dengan investasi bertahap untuk menghadirkan unit-unit baru yang lebih modern dan efisien.

Dengan berakhirnya perjalanan JALITA, KRL Jabodetabek memasuki fase modernisasi yang berkelanjutan. Regenerasi sarana menjadi langkah penting dalam menjaga kualitas layanan dan memenuhi kebutuhan mobilitas harian masyarakat perkotaan. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *