Jakarta, 17 November 2025 – Setelah hampir dua dekade menjadi bagian penting dalam kehidupan warga Jabodetabek, KRL JALITA resmi mengakhiri tugasnya. Perpisahan yang berlangsung di Stasiun Jakarta Kota itu diwarnai oleh kesedihan dan kebanggaan, mengingat perannya yang begitu besar bagi perkembangan transportasi urban berbasis rel di Indonesia.
JALITA, yang hadir sejak 2006, merupakan sarana pertama yang dimiliki oleh KAI Commuter setelah pemisahan pada 2009. Saat masyarakat Jabodetabek membutuhkan layanan perjalanan yang lebih nyaman, JALITA hadir membawa pembaruan dengan AC, konfigurasi tempat duduk yang lebih ergonomis, dan daya angkut yang lebih baik.
Di tengah meningkatnya kebutuhan mobilitas perkotaan, Commuter Line Jabodetabek terus mencatatkan pertumbuhan signifikan. Dalam periode Januari hingga Oktober 2025 saja, sebanyak 287.297.882 penumpang terlayani. Angka ini mempertegas peran transportasi berbasis rel sebagai tulang punggung mobilitas harian.
Dengan 1.063 perjalanan dan lebih dari seribu unit sarana siap operasi setiap hari, KAI Commuter menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas layanan. Berakhirnya masa operasional JALITA tidak membuat kapasitas menurun, melainkan membuka ruang bagi hadirnya sarana-sarana pengganti yang lebih mutakhir.
Untuk mengenang JALITA, Mini Museum JALITA digelar pada 10–16 November dengan menampilkan sejarah tiga seri legendaris: Tokyu Seri 8500, Tokyu Seri 7000, dan JR203. Pameran ini memuat dokumentasi perjalanan, desain interior, serta edukasi mengenai etika dan keselamatan perjalanan.
Sebanyak lebih dari 20 ribu pengunjung datang dalam sepekan, menandakan bahwa KRL bukan sekadar moda transportasi, tetapi bagian dari identitas masyarakat urban. Banyak railfans turut hadir untuk mengabadikan momen-momen terakhir perjalanan JALITA.
Kehadiran Ignasius Jonan pada perjalanan pamungkas menambah kehangatan acara. Ia menegaskan bahwa layanan rel akan terus menjadi kebutuhan utama seiring pertumbuhan aktivitas perkotaan. Menurutnya, kota besar membutuhkan sarana transportasi massal yang dapat bergerak cepat, memiliki frekuensi tinggi, dan mampu melayani jutaan pengguna setiap hari.
Jonan berharap sebagian unit JALITA dapat dilestarikan sebagai bagian dari warisan sejarah transportasi Indonesia. Pelestarian ini dinilai penting untuk menunjukkan transformasi besar yang telah dilakukan KAI dan KAI Commuter dalam membangun layanan modern.
KAI Commuter sendiri menyatakan bahwa regenerasi armada akan terus berlanjut. Pengadaan sarana baru dilakukan secara bertahap untuk mengimbangi pertumbuhan jumlah pengguna. Era baru transportasi rel Jabodetabek telah dimulai dengan standar layanan dan teknologi yang lebih maju.
Dengan berakhirnya jejak JALITA, mobilitas rel Jabodetabek bukan berakhir, melainkan terus melaju menuju masa depan yang lebih efisien dan berkelanjutan. (Redaksi)

