Jakarta, 2 Oktober 2025 – Menjadi masinis kereta api memerlukan perjalanan karier yang panjang dan penuh tantangan. Proses dimulai dari seleksi rekrutmen yang sangat ketat meliputi pemeriksaan kesehatan menyeluruh, psikotes, dan wawancara mendalam. Setelah dinyatakan lulus, calon masinis menjalani masa percobaan sebelum mengikuti pendidikan formal di Balai Pelatihan Teknik Traksi Darman Prasetyo Yogyakarta.
Pendidikan tidak berhenti pada teori semata, tetapi juga mencakup praktik lapangan yang intensif. Setelah menyelesaikan pelatihan, calon masinis wajib menjalani sertifikasi dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Namun, perjalanan belum berakhir di sini karena mereka harus terlebih dahulu bertugas sebagai asisten masinis dan mengumpulkan pengalaman minimal 2000 jam kerja selama satu tahun. Barulah setelah lulus uji sertifikasi tingkat muda, mereka diangkat secara resmi sebagai masinis.
Jenjang karier masinis memiliki kriteria yang jelas dan terstruktur. Untuk tingkat muda, masinis harus memiliki keterangan kecakapan Asisten Masinis, sertifikat kecakapan tingkat pertama, dan pengalaman kerja minimal 2000 jam dalam setahun. Sementara untuk tingkat madya, diperlukan keterangan kecakapan Masinis, sertifikat kecakapan tingkat muda, serta pengalaman kerja minimal 8000 jam selama empat tahun.
Komitmen untuk terus meningkatkan kompetensi juga menjadi kewajiban. “Dukungan keluarga juga menjadi kunci penting agar mereka bisa beristirahat cukup dan tetap fokus saat berdinas,” ungkap Cahyo Widiantoro. Masinis diwajibkan mengikuti refreshing setiap dua tahun, uji kecakapan setiap tahun, dan uji petik peraturan setiap tiga bulan. Rangkaian panjang ini memastikan setiap masinis memiliki kompetensi yang selalu terjaga.
(Redaksi)

