7 September 2026 – Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya membuat masyarakat khawatir terhadap paparan abu vulkanik, tetapi juga memicu lonjakan permintaan masker di sejumlah wilayah. Di tengah meningkatnya kebutuhan perlindungan pernapasan, sejumlah konsumen mengeluhkan harga masker yang mendadak naik tajam di platform perdagangan daring. Bahkan, terdapat pembeli yang mengaku harga produk yang dipesannya berubah hingga sekitar 10 kali lipat setelah pesanan dibatalkan sepihak oleh penjual. Kondisi ini menimbulkan keresahan karena masker menjadi salah satu perlengkapan yang banyak dicari masyarakat setelah abu vulkanik dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah.
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dilaporkan mencapai beberapa wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Kondisi tersebut membuat masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker serta kacamata apabila harus keluar. Paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan, termasuk iritasi mata dan gangguan pada saluran pernapasan.
Meningkatnya kebutuhan masker kemudian diikuti berbagai laporan mengenai perubahan harga secara mendadak. Sejumlah konsumen mengaku mengalami perubahan harga ketika hendak menyelesaikan transaksi di toko daring. Ada pesanan yang disebut tiba tiba dibatalkan setelah sebelumnya berhasil dibuat, kemudian produk yang sama ditawarkan kembali dengan harga jauh lebih tinggi. Situasi tersebut membuat sebagian masyarakat mempertanyakan alasan perubahan harga, terlebih kebutuhan masker muncul karena kondisi darurat akibat sebaran abu vulkanik.
Keluhan serupa disampaikan sejumlah pengguna media sosial. Salah satu pengguna mengaku sempat melakukan pemesanan masker pada malam hari, tetapi pesanan tersebut kemudian dibatalkan oleh penjual dengan alasan adanya perubahan harga. Ketika kembali melihat produk yang sama, harga disebut telah meningkat berkali kali lipat. Peristiwa semacam ini memperlihatkan bagaimana lonjakan permintaan dalam waktu singkat dapat memengaruhi harga barang yang sedang banyak dibutuhkan masyarakat.
Konsumen lain juga menceritakan pengalaman serupa ketika hendak membeli masker KF95 dan KF94 melalui perdagangan daring. Saat proses pembayaran akan dilakukan, muncul pemberitahuan bahwa harga salah satu produk mengalami perubahan. Setelah diperiksa kembali, harga masker KF95 disebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan harga sebelumnya. Perubahan yang berlangsung ketika konsumen sudah berada di tahap pembayaran tersebut membuat pembeli merasa dirugikan karena harga yang sebelumnya terlihat saat memilih produk ternyata tidak lagi berlaku ketika transaksi hendak diselesaikan.
Pengalaman tersebut juga dialami Tamara, warga Depok, yang membeli masker untuk dirinya dan keluarganya. Ia mengaku memesan masker jenis KN95 untuk orang dewasa dan anak anak melalui sebuah toko daring. Namun, pesanan tersebut dibatalkan secara sepihak oleh penjual. Ketika kembali melihat produk yang sama, Tamara mendapati harga per masker telah berubah dari sekitar Rp1.650 menjadi Rp16.500 per buah.
Kenaikan tersebut berarti harga produk meningkat hingga sekitar sepuluh kali lipat dari harga sebelumnya. Bagi konsumen, perubahan itu terasa cukup signifikan karena pembelian dilakukan dalam jumlah yang dibutuhkan untuk melindungi beberapa anggota keluarga. Apalagi, keputusan membeli masker bukan semata mata untuk memenuhi kebutuhan biasa, melainkan dipicu oleh kekhawatiran terhadap paparan abu vulkanik yang tengah menyebar ke sejumlah wilayah.
Meningkatnya harga masker terjadi ketika masyarakat memang sedang meningkatkan pembelian perlengkapan perlindungan diri. Di sejumlah lokasi, warga mulai mencari masker dengan tingkat perlindungan yang dianggap sesuai untuk menghadapi kondisi udara yang terdampak abu. Permintaan yang meningkat secara bersamaan dapat membuat persediaan di tingkat penjual ikut berubah. Namun, apabila kenaikan harga berlangsung secara tidak wajar atau dilakukan dengan membatalkan transaksi lama kemudian menjual produk yang sama dengan harga jauh lebih tinggi, kondisi tersebut dapat menjadi persoalan tersendiri bagi konsumen.
Pemerintah pun mulai memperhatikan persoalan mengenai harga masker di tengah situasi erupsi. Kementerian Kesehatan menyatakan akan memanggil pelaku usaha untuk mengklarifikasi laporan mengenai kenaikan harga dan memastikan tidak terdapat praktik yang merugikan masyarakat, termasuk dugaan penimbunan maupun kenaikan harga yang tidak wajar. Langkah tersebut dilakukan ketika kebutuhan masker meningkat akibat penyebaran abu vulkanik.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau panic buying. Kebutuhan masker memang meningkat, tetapi pembelian dalam jumlah yang tidak sesuai kebutuhan dapat berpotensi memperburuk kelangkaan produk di pasaran. Konsumen juga perlu memperhatikan jenis dan kualitas masker yang dibeli serta menyesuaikannya dengan kebutuhan perlindungan terhadap kondisi lingkungan. Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan ketika berada di luar ruangan, terutama di wilayah yang terdampak sebaran abu.
Fenomena kenaikan harga ini menunjukkan bahwa bencana alam dapat memberikan dampak berantai hingga ke sektor perdagangan barang kebutuhan sehari hari. Ketika suatu produk mendadak menjadi kebutuhan masyarakat dalam jumlah besar, perubahan permintaan dapat dengan cepat memengaruhi ketersediaannya. Karena itu, pengawasan terhadap distribusi dan harga menjadi penting untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh perlengkapan perlindungan dengan harga yang wajar.
Di tengah kondisi tersebut, perhatian utama tetap tertuju pada keselamatan masyarakat dari dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Badan Geologi melaporkan aktivitas erupsi masih menjadi perhatian dan status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Pemerintah juga terus melakukan pemantauan terhadap sebaran abu serta dampaknya terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.
Dengan meningkatnya kebutuhan masker, masyarakat diharapkan tetap tenang dan membeli sesuai kebutuhan. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan perlengkapan perlindungan tetap terjaga sekaligus menindaklanjuti setiap laporan mengenai dugaan kenaikan harga yang tidak wajar. Di sisi konsumen, membandingkan harga dari beberapa penjual dan menghindari pembelian berlebihan dapat menjadi langkah untuk menghadapi situasi tersebut. Erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan tanpa membuat masyarakat terjebak dalam kepanikan saat memenuhi kebutuhan perlindungan diri. (Redaksi)

